Membentuk Sistem Hybrid Working pada 2022 dan Seterusnya

Kamis, 25 November 2021 - 11:19 WIB
Dengan demikian, hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus tetap mendukung mobilitas pegawai saat menerapkan metode kerja hibrida. Prediksi ini selaras dengan hasil survei bertajuk EY Work Reimagined Employer Survey 2021.

Survei ini mencatat sebesar 84 persen perusahaan di kawasan Asia Pasifik berencana untuk menerapkan metode kerja hibrida, dari metode moderat, secara intensif. Selain itu, perusahaan tersebut juga disebut survei ini secara aktif mempromosikan metode kerja hibrida kepada pegawai mereka.

Survei yang sama juga mengungkapkan adanya preferensi pegawai yang menginginkan fleksibilitas terkait lokasi dan waktu bekerja. Banyak dari responden juga berpendapat metode kerja hibrida akan membantu meningkatkan produktivitas dan kreativitas mereka.

Dan untuk mendukung penerapan metode kerja hibrida ini, Poly turut menekankan pentingnya investasi di sisi teknologi dan strategi kolaborasi yang berfokus pada peningkatan pengalaman kerja bagi karyawan yang bekerja jarak jauh maupun di kantor.

Teknologi diharapkan bisa mempermudah pengguna meminimalisir disrupsi yang mengganggu produktivitas dan kolaborasi. Karenanya, perangkat teknologi yang memiliki kualitas profesional perlu dimiliki perusahaan.
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!