Psikolog Ingatkan Dampak PJJ Bisa Bikin Anak Stres, Jenuh, dan Emosional
Selasa, 09 Maret 2021 - 11:07 WIB
Menurutnya, ini tak lepas dari kedudukan anak itu sendiri sebagai makhluk sosial. ”Mereka butuh berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain. Bukan saja orang tua, tetapi juga teman seusianya, gurunya dan lingkungannya,” ujar Intan.
Menurut Intan, anak-anak baik TK, SD, SMP, maupun SMA, butuh kontak atau sosialisasi cukup tinggi. Dimana mereka belajar mengenali lingkungan, belajar ngobrol dengan guru, orang yang lebih tua, serta bagaimana beradaptasi dengan teman-teman seumurannya.
”Pandemi ini membuat mereka kehilangan masa-masa yang dikatakan sebagai hubungan manusianya itu. Hubungan bagaimana dia beradaptasi. Nah ini menimbulkan stres tersendiri,” jelas Intan.
Kondisi ini diperburuk dengan tuntutan belajar tinggi, tugas-tugas banyak namun waktu yang tersedia untuk mengerjakan sedikit, serta tidak adanya waktu mengaktualisasikan diri.
Di level ini, Intan menyebut bahwa banyak anak akhirnya merasa jenuh dan lelah. Ini kemudian tidak hanya berdampak pada nilai yang turun, tetapi juga emosi yang tidak terkontrol. Dimana anak mudah marah.
“Nah itulah yang terjadi dengan anak-anak kita saat ini, kalau kita bicara mengenai efek negatif dari PJJ,” tambahnya.
Saat mengaitkan dengan ujian, tekanannya pun menjadi semakin tinggi. Di satu sisi, mereka masih harus beradaptasi. Di sisi lain, ada target-target yang mungkin tetap harus diwujudkan.
Lalu, apa solusinya? Disinilah peran orang tua sangat dibutuhkan. ”Bukan saja sebagai supporter yang memberi dukungan pada anak dalam proses belajar. Juga seseorang yang bisa diajak berdiskusi, menjadi pendengar yang baik, dan tentu saja memberi motivasi,” beber Intan. ”Ada kalanya anak tidak butuh solusi dari kita. Mereka cuma butuh didengarkan," ia melanjutkan Intan.
Oemerhati dunia Pendidikan sekaligus Head of Academic Kelas Pintar Maryam Mursadi mengatakan, meski menyebut demotivasi pada anak saat jelang ujian kerap terjadi, namun bukan berarti tak bisa diatasi apalagi dihindari.
Menurut Intan, anak-anak baik TK, SD, SMP, maupun SMA, butuh kontak atau sosialisasi cukup tinggi. Dimana mereka belajar mengenali lingkungan, belajar ngobrol dengan guru, orang yang lebih tua, serta bagaimana beradaptasi dengan teman-teman seumurannya.
”Pandemi ini membuat mereka kehilangan masa-masa yang dikatakan sebagai hubungan manusianya itu. Hubungan bagaimana dia beradaptasi. Nah ini menimbulkan stres tersendiri,” jelas Intan.
Kondisi ini diperburuk dengan tuntutan belajar tinggi, tugas-tugas banyak namun waktu yang tersedia untuk mengerjakan sedikit, serta tidak adanya waktu mengaktualisasikan diri.
Di level ini, Intan menyebut bahwa banyak anak akhirnya merasa jenuh dan lelah. Ini kemudian tidak hanya berdampak pada nilai yang turun, tetapi juga emosi yang tidak terkontrol. Dimana anak mudah marah.
“Nah itulah yang terjadi dengan anak-anak kita saat ini, kalau kita bicara mengenai efek negatif dari PJJ,” tambahnya.
Saat mengaitkan dengan ujian, tekanannya pun menjadi semakin tinggi. Di satu sisi, mereka masih harus beradaptasi. Di sisi lain, ada target-target yang mungkin tetap harus diwujudkan.
Lalu, apa solusinya? Disinilah peran orang tua sangat dibutuhkan. ”Bukan saja sebagai supporter yang memberi dukungan pada anak dalam proses belajar. Juga seseorang yang bisa diajak berdiskusi, menjadi pendengar yang baik, dan tentu saja memberi motivasi,” beber Intan. ”Ada kalanya anak tidak butuh solusi dari kita. Mereka cuma butuh didengarkan," ia melanjutkan Intan.
Oemerhati dunia Pendidikan sekaligus Head of Academic Kelas Pintar Maryam Mursadi mengatakan, meski menyebut demotivasi pada anak saat jelang ujian kerap terjadi, namun bukan berarti tak bisa diatasi apalagi dihindari.
Lihat Juga :