Geger Robot Humanoid Siap Gantikan Buruh Pabrik, Biaya Kerjanya Cuma Rp35 Ribu per Jam!

Sabtu, 04 Juli 2026 - 07:26 WIB
Kasus Sektor Perawatan Lansia Jepang: Pemerintah Jepang telah menggelontorkan dana riset lebih dari 300 juta USD (Rp5.370 miliar) sepanjang dekade 2010-an untuk mengembangkan robot humanoid guna mengatasi kelangkaan tenaga kerja.

Rendahnya Adopsi Riil: Survei nasional terhadap 9.000 institusi perawatan lansia di Jepang pada tahun 2019 menunjukkan hanya sekitar 10% yang benar-benar mengadopsi robot. Sementara itu, studi tahun 2021 terhadap 444 perawat rumah tangga mengungkapkan hanya 2% yang memiliki pengalaman kerja menggunakan robot.

Beban Kerja Tambahan: Bukti di lapangan menunjukkan kehadiran robot justru menambah beban kerja baru bagi manusia. Robot-robot tersebut tetap membutuhkan perawatan fisik, proses pembersihan, aktivasi sistem (booting), pembaruan perangkat lunak (software update), serta pemantauan konstan selama pengoperasian berlangsung.

FAQ: Hambatan Utama Komersialisasi Robot Humanoid

Apa yang memperlambat regulasi robot humanoid di lingkungan industri?

Standar keselamatan kerja yang ada saat ini dirancang untuk otomatisasi tradisional yang terisolasi. Karena robot humanoid bergerak secara dinamis di area yang sama dengan pekerja manusia, dibutuhkan pendekatan pengujian baru, sertifikasi khusus, serta penyelarasan legislasi (harmonised legislation) sebelum implementasi massal dapat dilakukan secara legal dan aman.

Sektor mana yang akan merasakan dampak komersialisasi ini terlebih dahulu?

Sektor manufaktur dan logistik, khususnya pada area pergudangan yang membutuhkan penyelesaian tugas-tugas repetitif dengan tingkat durabilitas tinggi.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!