NASA Temukan Sesuatu yang Misterius saat Perubahan Waktu Siang ke Malam
Kamis, 18 Juni 2026 - 21:32 WIB
Menurut Cyril Gapp, kualitas pengamatan JWST yang belum pernah terjadi sebelumnya memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajari atmosfer planet pada garis bujur individual saat planet tersebut mengorbit dan melintas di depan bintang induknya.
Data menunjukkan bahwa area matahari terbenam jauh lebih hangat. Hal ini konsisten dengan model-model sebelumnya yang menunjukkan bahwa angin super cepat di WASP-121 b terus menerus mengangkut panas dari sisi siang yang panas ke sisi malam yang lebih dingin. Saat arus udara hangat bergerak searah rotasi planet, ia menghangatkan sisi matahari terbenam.
Suhu tinggi menyebabkan atmosfer di wilayah ini mengembang, membuat planet tampak lebih besar jika diamati dari jauh dan menyerap lebih banyak radiasi bintang.
Tanda-tanda bahwa air tersebut "terkoyak" oleh panas yang sangat intens.
Data dari spektrometer inframerah dekat NIRSpec pada JWST juga mendeteksi sinyal karbon monoksida (CO) yang lebih kuat menjelang akhir periode pengamatan. Namun, para peneliti percaya bahwa sinyal ini tidak mencerminkan peningkatan konsentrasi CO, melainkan terutama merupakan konsekuensi dari perubahan suhu.
Pengukuran menunjukkan bahwa jumlah molekul air di atmosfer berkurang secara signifikan menjelang matahari terbenam. Hal ini karena atmosfer bagian atas mencapai suhu yang sangat tinggi, cukup untuk memecah molekul H₂O menjadi atom-atom penyusunnya.
Fenomena ini memberikan bukti lebih lanjut bahwa angin pembawa panas secara intensif menghangatkan wilayah senja planet ini.
NASA menemukan sebuah planet raksasa dengan suhu mendekati suhu Bumi, yang dipenuhi gas metana misterius.
Data menunjukkan bahwa area matahari terbenam jauh lebih hangat. Hal ini konsisten dengan model-model sebelumnya yang menunjukkan bahwa angin super cepat di WASP-121 b terus menerus mengangkut panas dari sisi siang yang panas ke sisi malam yang lebih dingin. Saat arus udara hangat bergerak searah rotasi planet, ia menghangatkan sisi matahari terbenam.
Suhu tinggi menyebabkan atmosfer di wilayah ini mengembang, membuat planet tampak lebih besar jika diamati dari jauh dan menyerap lebih banyak radiasi bintang.
Tanda-tanda bahwa air tersebut "terkoyak" oleh panas yang sangat intens.
Data dari spektrometer inframerah dekat NIRSpec pada JWST juga mendeteksi sinyal karbon monoksida (CO) yang lebih kuat menjelang akhir periode pengamatan. Namun, para peneliti percaya bahwa sinyal ini tidak mencerminkan peningkatan konsentrasi CO, melainkan terutama merupakan konsekuensi dari perubahan suhu.
Pengukuran menunjukkan bahwa jumlah molekul air di atmosfer berkurang secara signifikan menjelang matahari terbenam. Hal ini karena atmosfer bagian atas mencapai suhu yang sangat tinggi, cukup untuk memecah molekul H₂O menjadi atom-atom penyusunnya.
Fenomena ini memberikan bukti lebih lanjut bahwa angin pembawa panas secara intensif menghangatkan wilayah senja planet ini.
NASA menemukan sebuah planet raksasa dengan suhu mendekati suhu Bumi, yang dipenuhi gas metana misterius.
Lihat Juga :