Selebriti Pakai Earphone Kabel, Pasar IEM Chi-Fi Diam-Diam Meledak
Senin, 15 Juni 2026 - 22:05 WIB
Gen Z mencari estetika. Pasar Chi-Fi memberi pilihan audio serius dengan harga terjangkau. Dua tren berbeda, tapi keduanya menolak dominasi earphone nirkabel mainstream.
Konektor USB-C dengan chip DAC (Digital-to-Analog Converter)) built-in jadi jembatan. Earphone kabel modern tidak lagi mengandalkan jack 3,5mm. FiiO JD10 TC misalnya, langsung colok USB-C ke smartphone. Sudah ada DAC di dalam.
Apple EarPods USB-C juga ikut popular. Murah, simpel, kualitas suara lebih bersih dari kebanyakan TWS budget.
Apakah Sudah Bosan dengan Bluetooth?
Bukan bosan. Tapi mulai sadar trade-off-nya.
TWS punya keunggulan: praktis, mobile, fitur AI canggih, noise cancellation aktif. Tapi punya kekurangan yang mulai terasa: harus charge tiap hari, baterai cepat aus dalam 2-3 tahun, kualitas suara kompresi Bluetooth, latensi untuk gaming.
Earphone kabel mengembalikan semua itu. Plus: lossless audio. Latensi nol. Tidak butuh baterai. Tahan lebih lama.
Untuk Gen Z yang lahir di era Bluetooth, kabel justru terasa eksotis. Untuk audiophile, kabel selalu jadi standar emas.
Wireless masih dominan: 66% pasar di 2025 versus 34% untuk kabel, menurut Future Marketing Insight.
Tapi pertumbuhan kabel sedang naik. Sementara TWS sudah mulai jenuh di kalangan early adopter.
Untuk konsumen Indonesia, ini kabar bagus. Anda bisa mendapat kualitas suara level premium dengan budget masuk akal. Cukup cari di TikTok Shop atau Shopee. Banyak penjual reliable.
Coba mulai dari yang Rp500 ribuan. Bandingkan dengan TWS Rp1-2 juta yang Anda punya. Telinga Anda yang akan menilai.
Konektor USB-C dengan chip DAC (Digital-to-Analog Converter)) built-in jadi jembatan. Earphone kabel modern tidak lagi mengandalkan jack 3,5mm. FiiO JD10 TC misalnya, langsung colok USB-C ke smartphone. Sudah ada DAC di dalam.
Apple EarPods USB-C juga ikut popular. Murah, simpel, kualitas suara lebih bersih dari kebanyakan TWS budget.
Apakah Sudah Bosan dengan Bluetooth?
Bukan bosan. Tapi mulai sadar trade-off-nya.
TWS punya keunggulan: praktis, mobile, fitur AI canggih, noise cancellation aktif. Tapi punya kekurangan yang mulai terasa: harus charge tiap hari, baterai cepat aus dalam 2-3 tahun, kualitas suara kompresi Bluetooth, latensi untuk gaming.
Earphone kabel mengembalikan semua itu. Plus: lossless audio. Latensi nol. Tidak butuh baterai. Tahan lebih lama.
Untuk Gen Z yang lahir di era Bluetooth, kabel justru terasa eksotis. Untuk audiophile, kabel selalu jadi standar emas.
Wireless masih dominan: 66% pasar di 2025 versus 34% untuk kabel, menurut Future Marketing Insight.
Tapi pertumbuhan kabel sedang naik. Sementara TWS sudah mulai jenuh di kalangan early adopter.
Untuk konsumen Indonesia, ini kabar bagus. Anda bisa mendapat kualitas suara level premium dengan budget masuk akal. Cukup cari di TikTok Shop atau Shopee. Banyak penjual reliable.
Coba mulai dari yang Rp500 ribuan. Bandingkan dengan TWS Rp1-2 juta yang Anda punya. Telinga Anda yang akan menilai.
(dan)
Lihat Juga :