Selebriti Pakai Earphone Kabel, Pasar IEM Chi-Fi Diam-Diam Meledak
Senin, 15 Juni 2026 - 22:05 WIB
loading...
Earphone kabel kembali jadi fashion statement, tapi yang menarik adalah revolusi diam-diam di pasar IEM dari China. Foto: Vogue
A
A
A
JAKARTA - Awal 2026 ini ada fenomena menarik. Selebriti A-list global tiba-tiba beralih dari earphone nirkabel ke earphone kabel.
Bella Hadid, Zendaya, Drake, Lily-Rose Depp, Harry Styles. Bahkan pemain NBA seperti Steph Curry dan Anthony Edwards.
Bukan kebetulan. Ada pasar yang diam-diam menikmati momentum ini.
Pasar earphone dan headphone global bernilai USD 63,59 miliar di 2025. Proyeksi 2035: USD 148,76 miliar. CAGR 8,87%.
Asia Pacific jadi pasar terbesar sekaligus tercepat pertumbuhannya. Kontribusi 32,20% dari total revenue global. CAGR khusus regional: 9,88%.
Data Circana menunjukkan: penjualan earphone kabel global naik 20% di 2025. Bukan angka kecil untuk produk yang sempat dianggap "mati".
Shelby Hull, pendiri akun Instagram "Wired It Girls", mengamati: "Dia (Bella Hadid) sangat kaya. Tentu bisa membeli AirPods, tapi dia selalu memakai earphone kabel,”.
Bella Hadid konsisten pakai earphone kabel sejak bertahun-tahun lalu.
Earphone kabel Apple di situs resminya: USD 25 atau sekitar Rp445.000. AirPods termurah: USD 159 atau sekitar Rp2,8 juta. AirPods Max: USD 669 atau sekitar Rp11,9 juta.
Kabel menjadi simbol "saya tidak peduli ikut tren teknologi mahal". Aksesori fashion sekaligus pernyataan identitas. Kembalinya estetika 1990an-2000an.
Pemain NBA juga ikut. Caleb Williams, quarterback Chicago Bears, selalu meminum matcha dan earphone kabel sebelum bertanding.
Marcus Smart dari Lakers bilang: "Bluetooth itu kadang nyambung, kadang tidak. Kadang jatuh, kadang putus, kadang habis baterai, kadang lupa di-charge."
Praktis. Murah. Tahan lama. Tidak perlu pamer.
Tapi Ada Cerita Lain di Pasar
Sementara dunia ribut soal kembalinya earphone kabel sebagai fashion, ada gerakan diam-diam yang lebih besar: ledakan pasar IEM China.
IEM singkatan dari In-Ear Monitor. Dulu hanya untuk musisi panggung. Sekarang jadi mainan audiophile mainstream. Yang menarik: dominasi pasar pindah ke produsen China.
Istilahnya: Chi-Fi. Singkatan dari China Hi-Fi. Merek-mereknya: Moondrop, Tin HiFi, Tangzu, Simgot, Truthear, Letshuoer, Dunu, FiiO, dan masih banyak lagi.
Di TikTok, banyak yang live streaming jualan IEM China. Harga dari Rp300 ribuan sampai jutaan. SindoNews sudah coba beberapa. Hasilnya bikin tercengang: kualitas suaranya memang sebagus itu.
IEM kabel ini punya keasyikan tersendiri. Anda bisa pilih tone. Pilih karakter suara. Pilih warna sonic yang Anda mau. Ada yang bass-heavy. Ada yang vocal-forward. Ada yang neutral.
Hal yang tidak bisa Anda dapatkan dari earphone nirkabel standar.
Kenapa Chi-Fi Bisa Begini Bagus?
Teknologi driver mereka sudah canggih. Planar magnetic. Driver elektrostatik hibrida. Tuning suara mengikuti standar industri.
Sekitar 10-15 tahun lalu, audiophile Barat memandang remeh produk audio China. Sekarang tidak ada lagi yang berani. Merek seperti Moondrop bersaing dengan Sennheiser dan Sony di review audio profesional.
Harganya jauh lebih murah. Untuk kualitas yang setara.
Sennheiser IE 600, salah satu IEM premium Eropa, dijual sekitar USD 700 atau Rp12,46 juta. IEM Chi-Fi dengan kualitas suara setara: bisa didapat di kisaran Rp3-5 juta.
Gen Z mencari estetika. Pasar Chi-Fi memberi pilihan audio serius dengan harga terjangkau. Dua tren berbeda, tapi keduanya menolak dominasi earphone nirkabel mainstream.
Konektor USB-C dengan chip DAC (Digital-to-Analog Converter)) built-in jadi jembatan. Earphone kabel modern tidak lagi mengandalkan jack 3,5mm. FiiO JD10 TC misalnya, langsung colok USB-C ke smartphone. Sudah ada DAC di dalam.
Apple EarPods USB-C juga ikut popular. Murah, simpel, kualitas suara lebih bersih dari kebanyakan TWS budget.
Apakah Sudah Bosan dengan Bluetooth?
Bukan bosan. Tapi mulai sadar trade-off-nya.
TWS punya keunggulan: praktis, mobile, fitur AI canggih, noise cancellation aktif. Tapi punya kekurangan yang mulai terasa: harus charge tiap hari, baterai cepat aus dalam 2-3 tahun, kualitas suara kompresi Bluetooth, latensi untuk gaming.
Earphone kabel mengembalikan semua itu. Plus: lossless audio. Latensi nol. Tidak butuh baterai. Tahan lebih lama.
Untuk Gen Z yang lahir di era Bluetooth, kabel justru terasa eksotis. Untuk audiophile, kabel selalu jadi standar emas.
Wireless masih dominan: 66% pasar di 2025 versus 34% untuk kabel, menurut Future Marketing Insight.
Tapi pertumbuhan kabel sedang naik. Sementara TWS sudah mulai jenuh di kalangan early adopter.
Untuk konsumen Indonesia, ini kabar bagus. Anda bisa mendapat kualitas suara level premium dengan budget masuk akal. Cukup cari di TikTok Shop atau Shopee. Banyak penjual reliable.
Coba mulai dari yang Rp500 ribuan. Bandingkan dengan TWS Rp1-2 juta yang Anda punya. Telinga Anda yang akan menilai.
Bella Hadid, Zendaya, Drake, Lily-Rose Depp, Harry Styles. Bahkan pemain NBA seperti Steph Curry dan Anthony Edwards.
Bukan kebetulan. Ada pasar yang diam-diam menikmati momentum ini.
Pasar earphone dan headphone global bernilai USD 63,59 miliar di 2025. Proyeksi 2035: USD 148,76 miliar. CAGR 8,87%.
Asia Pacific jadi pasar terbesar sekaligus tercepat pertumbuhannya. Kontribusi 32,20% dari total revenue global. CAGR khusus regional: 9,88%.
Data Circana menunjukkan: penjualan earphone kabel global naik 20% di 2025. Bukan angka kecil untuk produk yang sempat dianggap "mati".
Tren Gen Z dan Y2K Aesthetic
Apa yang membuat Gen Z kembali ke kabel? Bukan teknologi. Tapi estetika.Shelby Hull, pendiri akun Instagram "Wired It Girls", mengamati: "Dia (Bella Hadid) sangat kaya. Tentu bisa membeli AirPods, tapi dia selalu memakai earphone kabel,”.
Bella Hadid konsisten pakai earphone kabel sejak bertahun-tahun lalu.
Earphone kabel Apple di situs resminya: USD 25 atau sekitar Rp445.000. AirPods termurah: USD 159 atau sekitar Rp2,8 juta. AirPods Max: USD 669 atau sekitar Rp11,9 juta.
Kabel menjadi simbol "saya tidak peduli ikut tren teknologi mahal". Aksesori fashion sekaligus pernyataan identitas. Kembalinya estetika 1990an-2000an.
Pemain NBA juga ikut. Caleb Williams, quarterback Chicago Bears, selalu meminum matcha dan earphone kabel sebelum bertanding.
Marcus Smart dari Lakers bilang: "Bluetooth itu kadang nyambung, kadang tidak. Kadang jatuh, kadang putus, kadang habis baterai, kadang lupa di-charge."
Praktis. Murah. Tahan lama. Tidak perlu pamer.
Tapi Ada Cerita Lain di Pasar
![Selebriti Pakai Earphone Kabel, Pasar IEM Chi-Fi Diam-Diam Meledak]()
Sementara dunia ribut soal kembalinya earphone kabel sebagai fashion, ada gerakan diam-diam yang lebih besar: ledakan pasar IEM China.
IEM singkatan dari In-Ear Monitor. Dulu hanya untuk musisi panggung. Sekarang jadi mainan audiophile mainstream. Yang menarik: dominasi pasar pindah ke produsen China.
Istilahnya: Chi-Fi. Singkatan dari China Hi-Fi. Merek-mereknya: Moondrop, Tin HiFi, Tangzu, Simgot, Truthear, Letshuoer, Dunu, FiiO, dan masih banyak lagi.
Di TikTok, banyak yang live streaming jualan IEM China. Harga dari Rp300 ribuan sampai jutaan. SindoNews sudah coba beberapa. Hasilnya bikin tercengang: kualitas suaranya memang sebagus itu.
IEM kabel ini punya keasyikan tersendiri. Anda bisa pilih tone. Pilih karakter suara. Pilih warna sonic yang Anda mau. Ada yang bass-heavy. Ada yang vocal-forward. Ada yang neutral.
Hal yang tidak bisa Anda dapatkan dari earphone nirkabel standar.
Kenapa Chi-Fi Bisa Begini Bagus?
![Selebriti Pakai Earphone Kabel, Pasar IEM Chi-Fi Diam-Diam Meledak]()
Teknologi driver mereka sudah canggih. Planar magnetic. Driver elektrostatik hibrida. Tuning suara mengikuti standar industri.
Sekitar 10-15 tahun lalu, audiophile Barat memandang remeh produk audio China. Sekarang tidak ada lagi yang berani. Merek seperti Moondrop bersaing dengan Sennheiser dan Sony di review audio profesional.
Harganya jauh lebih murah. Untuk kualitas yang setara.
Sennheiser IE 600, salah satu IEM premium Eropa, dijual sekitar USD 700 atau Rp12,46 juta. IEM Chi-Fi dengan kualitas suara setara: bisa didapat di kisaran Rp3-5 juta.
Apakah Tren Gen Z Nyambung dengan Chi-Fi?
Mungkin tidak langsung. Tapi pasar bereaksi.Gen Z mencari estetika. Pasar Chi-Fi memberi pilihan audio serius dengan harga terjangkau. Dua tren berbeda, tapi keduanya menolak dominasi earphone nirkabel mainstream.
Konektor USB-C dengan chip DAC (Digital-to-Analog Converter)) built-in jadi jembatan. Earphone kabel modern tidak lagi mengandalkan jack 3,5mm. FiiO JD10 TC misalnya, langsung colok USB-C ke smartphone. Sudah ada DAC di dalam.
Apple EarPods USB-C juga ikut popular. Murah, simpel, kualitas suara lebih bersih dari kebanyakan TWS budget.
Apakah Sudah Bosan dengan Bluetooth?
Bukan bosan. Tapi mulai sadar trade-off-nya.
TWS punya keunggulan: praktis, mobile, fitur AI canggih, noise cancellation aktif. Tapi punya kekurangan yang mulai terasa: harus charge tiap hari, baterai cepat aus dalam 2-3 tahun, kualitas suara kompresi Bluetooth, latensi untuk gaming.
Earphone kabel mengembalikan semua itu. Plus: lossless audio. Latensi nol. Tidak butuh baterai. Tahan lebih lama.
Untuk Gen Z yang lahir di era Bluetooth, kabel justru terasa eksotis. Untuk audiophile, kabel selalu jadi standar emas.
Wireless masih dominan: 66% pasar di 2025 versus 34% untuk kabel, menurut Future Marketing Insight.
Tapi pertumbuhan kabel sedang naik. Sementara TWS sudah mulai jenuh di kalangan early adopter.
Untuk konsumen Indonesia, ini kabar bagus. Anda bisa mendapat kualitas suara level premium dengan budget masuk akal. Cukup cari di TikTok Shop atau Shopee. Banyak penjual reliable.
Coba mulai dari yang Rp500 ribuan. Bandingkan dengan TWS Rp1-2 juta yang Anda punya. Telinga Anda yang akan menilai.
(dan)
Lihat Juga :