Geger Laporan IDC: 60% Perusahaan Dunia Buang Laptop Lama demi AI PC!
Senin, 11 Mei 2026 - 09:52 WIB
• 31% bahkan percaya dampaknya akan terasa dalam kurang dari 12 bulan.
Untuk menjalankan ini, spesifikasi perangkat tidak bisa main-main. Sebanyak 59% pemimpin IT menyatakan bahwa NPU (Neural Processing Unit) berkinerja tinggi adalah syarat mati. Tanpa NPU, laptop Anda hanyalah mesin ketik yang mahal di era asisten otonom.
Tom Mainelli, Group Vice President IDC, memberikan peringatan keras: "Perusahaan yang terus menunda adopsi teknologi ini akan mendapati diri mereka terburu-buru mengejar ketertinggalan saat kemampuan AI PC semakin matang."
Bagi pasar Indonesia, high-intent queries mengenai efisiensi biaya dan keamanan data menjadi kunci. Meskipun ada kekhawatiran soal biaya integrasi (33%), peluang penghematan jangka panjang sangat besar.
Dengan menjalankan AI secara lokal (misalnya pada prosesor AMD Ryzen AI PRO), perusahaan bisa memangkas biaya langganan layanan cloud AI yang mahal.
Selain itu, masalah koneksi internet yang kadang naik-turun di tanah air bisa teratasi karena kecerdasan itu ada di dalam laptop, bukan di awan.
AI PC bukan lagi perangkat spekulatif. Ini adalah kebutuhan infrastruktur. Pilihannya cuma dua: investasi sekarang dan nikmati efisiensi, atau tetap pakai perangkat lama dan kalah saing dengan kompetitor yang sudah menggunakan asisten otonom.
Masa depan bukan lagi soal siapa yang punya AI, tapi siapa yang bisa menjalankan AI paling cepat, paling aman, dan paling dekat dengan penggunanya. Dan tempat itu adalah PC Anda.
Untuk menjalankan ini, spesifikasi perangkat tidak bisa main-main. Sebanyak 59% pemimpin IT menyatakan bahwa NPU (Neural Processing Unit) berkinerja tinggi adalah syarat mati. Tanpa NPU, laptop Anda hanyalah mesin ketik yang mahal di era asisten otonom.
Siapa yang Paling Cepat Berubah?
Penggunaan AI PC tidak merata di semua divisi, namun polanya jelas. Divisi IT memimpin di angka 73%, disusul operasional (42%), pemasaran (38%), dan HR (31%). Menariknya, divisi penjualan justru turun ke angka 24% di tahun 2026.Tom Mainelli, Group Vice President IDC, memberikan peringatan keras: "Perusahaan yang terus menunda adopsi teknologi ini akan mendapati diri mereka terburu-buru mengejar ketertinggalan saat kemampuan AI PC semakin matang."
Bagi pasar Indonesia, high-intent queries mengenai efisiensi biaya dan keamanan data menjadi kunci. Meskipun ada kekhawatiran soal biaya integrasi (33%), peluang penghematan jangka panjang sangat besar.
Dengan menjalankan AI secara lokal (misalnya pada prosesor AMD Ryzen AI PRO), perusahaan bisa memangkas biaya langganan layanan cloud AI yang mahal.
Selain itu, masalah koneksi internet yang kadang naik-turun di tanah air bisa teratasi karena kecerdasan itu ada di dalam laptop, bukan di awan.
AI PC bukan lagi perangkat spekulatif. Ini adalah kebutuhan infrastruktur. Pilihannya cuma dua: investasi sekarang dan nikmati efisiensi, atau tetap pakai perangkat lama dan kalah saing dengan kompetitor yang sudah menggunakan asisten otonom.
Masa depan bukan lagi soal siapa yang punya AI, tapi siapa yang bisa menjalankan AI paling cepat, paling aman, dan paling dekat dengan penggunanya. Dan tempat itu adalah PC Anda.
(dan)
Lihat Juga :