Geger Laporan IDC: 60% Perusahaan Dunia Buang Laptop Lama demi AI PC!
Senin, 11 Mei 2026 - 09:52 WIB
loading...
Era eksperimen AI sudah lewat; kini perusahaan global beralih ke AI PC untuk menjalankan asisten otonom langsung dari meja kerja. Foto: Gemini
A
A
A
JAKARTA - Dunia bisnis sedang tidak sabar. Mereka mulai meninggalkan ketergantungan pada cloud dan memindahkan kecerdasan buatan langsung ke perangkat karyawan.
Laporan terbaru dari IDC menunjukkan bahwa 60% perusahaan kini sedang dalam proses menyebarkan AI PC secara masif.
Rupanya, tren ini bukan sekadar ikut-ikutan. Ini adalah persiapan menyambut Agentic AI—sistem yang tidak hanya menjawab pertanyaan, tapi bisa bekerja sendiri.
Berdasarkan survei IDC terhadap 519 pengambil keputusan IT di Amerika Serikat, Jepang, Prancis, Inggris, dan Jerman, angkanya cukup mengejutkan:
• 81% organisasi sudah mulai merencanakan, melakukan uji coba (pilot), atau menggunakan AI PC.
• 27% perusahaan sudah melakukan implementasi penuh.
• 33% sedang dalam tahap uji coba aktif.
• 21% berencana membeli dalam 12 bulan ke depan.
"PC bukan lagi sekadar mesin produktivitas, melainkan antarmuka untuk berinteraksi dengan sistem AI dan lapisan eksekusi lokal untuk memproses tugas secara aman," tulis laporan tersebut.
• Produktivitas (59%): Karyawan bisa kerja lebih cepat.
• Inovasi (39%): Mempercepat siklus ide menjadi produk.
• Keamanan (35%): Mengolah data sensitif langsung di perangkat, bukan di server pihak ketiga.
Hasilnya nyata. Sebanyak 70% pengguna melaporkan performa lebih cepat dan latensi rendah. Lalu 66% merasakan lonjakan produktivitas, dan 58% merasa data mereka lebih aman berkat pemrosesan on-device.
IDC memprediksi dampaknya sangat dekat:
• 70% organisasi yakin sistem ini akan mengubah alur kerja karyawan dalam 2 tahun.
• 31% bahkan percaya dampaknya akan terasa dalam kurang dari 12 bulan.
Untuk menjalankan ini, spesifikasi perangkat tidak bisa main-main. Sebanyak 59% pemimpin IT menyatakan bahwa NPU (Neural Processing Unit) berkinerja tinggi adalah syarat mati. Tanpa NPU, laptop Anda hanyalah mesin ketik yang mahal di era asisten otonom.
Tom Mainelli, Group Vice President IDC, memberikan peringatan keras: "Perusahaan yang terus menunda adopsi teknologi ini akan mendapati diri mereka terburu-buru mengejar ketertinggalan saat kemampuan AI PC semakin matang."
Bagi pasar Indonesia, high-intent queries mengenai efisiensi biaya dan keamanan data menjadi kunci. Meskipun ada kekhawatiran soal biaya integrasi (33%), peluang penghematan jangka panjang sangat besar.
Dengan menjalankan AI secara lokal (misalnya pada prosesor AMD Ryzen AI PRO), perusahaan bisa memangkas biaya langganan layanan cloud AI yang mahal.
Selain itu, masalah koneksi internet yang kadang naik-turun di tanah air bisa teratasi karena kecerdasan itu ada di dalam laptop, bukan di awan.
AI PC bukan lagi perangkat spekulatif. Ini adalah kebutuhan infrastruktur. Pilihannya cuma dua: investasi sekarang dan nikmati efisiensi, atau tetap pakai perangkat lama dan kalah saing dengan kompetitor yang sudah menggunakan asisten otonom.
Masa depan bukan lagi soal siapa yang punya AI, tapi siapa yang bisa menjalankan AI paling cepat, paling aman, dan paling dekat dengan penggunanya. Dan tempat itu adalah PC Anda.
Laporan terbaru dari IDC menunjukkan bahwa 60% perusahaan kini sedang dalam proses menyebarkan AI PC secara masif.
Rupanya, tren ini bukan sekadar ikut-ikutan. Ini adalah persiapan menyambut Agentic AI—sistem yang tidak hanya menjawab pertanyaan, tapi bisa bekerja sendiri.
Berdasarkan survei IDC terhadap 519 pengambil keputusan IT di Amerika Serikat, Jepang, Prancis, Inggris, dan Jerman, angkanya cukup mengejutkan:
• 81% organisasi sudah mulai merencanakan, melakukan uji coba (pilot), atau menggunakan AI PC.
• 27% perusahaan sudah melakukan implementasi penuh.
• 33% sedang dalam tahap uji coba aktif.
• 21% berencana membeli dalam 12 bulan ke depan.
"PC bukan lagi sekadar mesin produktivitas, melainkan antarmuka untuk berinteraksi dengan sistem AI dan lapisan eksekusi lokal untuk memproses tugas secara aman," tulis laporan tersebut.
Mengapa Harus AI PC?
Dulu, semua beban AI dilempar ke cloud. Sekarang tidak lagi. Ada tiga alasan utama mengapa bos-bos IT rela merogoh kocek:• Produktivitas (59%): Karyawan bisa kerja lebih cepat.
• Inovasi (39%): Mempercepat siklus ide menjadi produk.
• Keamanan (35%): Mengolah data sensitif langsung di perangkat, bukan di server pihak ketiga.
Hasilnya nyata. Sebanyak 70% pengguna melaporkan performa lebih cepat dan latensi rendah. Lalu 66% merasakan lonjakan produktivitas, dan 58% merasa data mereka lebih aman berkat pemrosesan on-device.
Menuju Era Agentic AI: AI yang "Berpikir" Sendiri
Ini yang menarik. Kita sedang bergeser dari AI pasif ke Agentic AI. Ini adalah sistem yang bisa membuat rencana, mengeksekusi tugas, dan beradaptasi tanpa harus disuapi perintah setiap saat.IDC memprediksi dampaknya sangat dekat:
• 70% organisasi yakin sistem ini akan mengubah alur kerja karyawan dalam 2 tahun.
• 31% bahkan percaya dampaknya akan terasa dalam kurang dari 12 bulan.
Untuk menjalankan ini, spesifikasi perangkat tidak bisa main-main. Sebanyak 59% pemimpin IT menyatakan bahwa NPU (Neural Processing Unit) berkinerja tinggi adalah syarat mati. Tanpa NPU, laptop Anda hanyalah mesin ketik yang mahal di era asisten otonom.
Siapa yang Paling Cepat Berubah?
Penggunaan AI PC tidak merata di semua divisi, namun polanya jelas. Divisi IT memimpin di angka 73%, disusul operasional (42%), pemasaran (38%), dan HR (31%). Menariknya, divisi penjualan justru turun ke angka 24% di tahun 2026.Tom Mainelli, Group Vice President IDC, memberikan peringatan keras: "Perusahaan yang terus menunda adopsi teknologi ini akan mendapati diri mereka terburu-buru mengejar ketertinggalan saat kemampuan AI PC semakin matang."
Bagi pasar Indonesia, high-intent queries mengenai efisiensi biaya dan keamanan data menjadi kunci. Meskipun ada kekhawatiran soal biaya integrasi (33%), peluang penghematan jangka panjang sangat besar.
Dengan menjalankan AI secara lokal (misalnya pada prosesor AMD Ryzen AI PRO), perusahaan bisa memangkas biaya langganan layanan cloud AI yang mahal.
Selain itu, masalah koneksi internet yang kadang naik-turun di tanah air bisa teratasi karena kecerdasan itu ada di dalam laptop, bukan di awan.
AI PC bukan lagi perangkat spekulatif. Ini adalah kebutuhan infrastruktur. Pilihannya cuma dua: investasi sekarang dan nikmati efisiensi, atau tetap pakai perangkat lama dan kalah saing dengan kompetitor yang sudah menggunakan asisten otonom.
Masa depan bukan lagi soal siapa yang punya AI, tapi siapa yang bisa menjalankan AI paling cepat, paling aman, dan paling dekat dengan penggunanya. Dan tempat itu adalah PC Anda.
(dan)
Lihat Juga :