Laba Meledak Rp102 Triliun, Oracle Malah PHK 30.000 Karyawan Lewat Email
Senin, 06 April 2026 - 15:22 WIB
PHK brutal ini merupakan langkah putus asa Oracle (cash crunch) dalam mendanai ambisi gilanya membangun infrastruktur pusat data Kecerdasan Buatan (AI) bernilai miliaran dolar.
Mereka berusaha keras bersaing dengan Alphabet dan Amazon, serta menopang raksasa seperti OpenAI—yang baru saja menandatangani perjanjian senilai USD300 miliar (Rp5.100 triliun) dengan Oracle tahun lalu.
Nahasnya, bank mulai mundur dari pembiayaan ekspansi tersebut, membuat biaya pinjaman Oracle dilaporkan naik dua kali lipat.
Berdasarkan analisis TD Cowen, membuang 20.000 hingga 30.000 karyawan adalah jalan pintas untuk menyelamatkan arus kas perusahaan hingga USD 10 miliar (Rp170 triliun).
Imbas kepanikan ini terlihat di lantai bursa; harga saham Oracle anjlok parah hingga ditutup pada angka USD 147,11 di hari pemecatan, terjun bebas 55 persen dari rekor penutupan tertinggi USD 326,90 pada September tahun lalu.
Lebih mengerikan lagi, PHK ini diduga menggunakan algoritma yang secara sistematis menyingkirkan karyawan senior dengan bayaran tinggi. Nina Lewis, Manajer Peringatan Keamanan yang telah mengabdi selama 34 tahun, membongkar hal ini di LinkedIn sesaat setelah ia dipecat.
"Tampaknya PHK mengikuti algoritma kontributor individu tingkat tinggi dan manajer tingkat menengah—terutama mereka yang memiliki opsi saham luar biasa," bongkarnya.
Mereka berusaha keras bersaing dengan Alphabet dan Amazon, serta menopang raksasa seperti OpenAI—yang baru saja menandatangani perjanjian senilai USD300 miliar (Rp5.100 triliun) dengan Oracle tahun lalu.
Nahasnya, bank mulai mundur dari pembiayaan ekspansi tersebut, membuat biaya pinjaman Oracle dilaporkan naik dua kali lipat.
Berdasarkan analisis TD Cowen, membuang 20.000 hingga 30.000 karyawan adalah jalan pintas untuk menyelamatkan arus kas perusahaan hingga USD 10 miliar (Rp170 triliun).
Imbas kepanikan ini terlihat di lantai bursa; harga saham Oracle anjlok parah hingga ditutup pada angka USD 147,11 di hari pemecatan, terjun bebas 55 persen dari rekor penutupan tertinggi USD 326,90 pada September tahun lalu.
Lebih mengerikan lagi, PHK ini diduga menggunakan algoritma yang secara sistematis menyingkirkan karyawan senior dengan bayaran tinggi. Nina Lewis, Manajer Peringatan Keamanan yang telah mengabdi selama 34 tahun, membongkar hal ini di LinkedIn sesaat setelah ia dipecat.
"Tampaknya PHK mengikuti algoritma kontributor individu tingkat tinggi dan manajer tingkat menengah—terutama mereka yang memiliki opsi saham luar biasa," bongkarnya.
Lihat Juga :