Teknologi AI Maven AS Tewaskan 175 Pelajar Iran dalam Sekali Serangan
Jum'at, 27 Maret 2026 - 20:30 WIB
Kisah tragis ini mengungkap sisi gelap AI dalam penggunaan data. Sistem Cerdas Maven, platform penargetan yang dibangun oleh Palantir berdasarkan kontrak senilai $1,3 miliar dengan Pentagon, digunakan dalam operasi tersebut.
Maven mengintegrasikan citra satelit, data radar, dan sinyal intelijen, menggunakan model AI Claude dari Anthropic untuk mengklasifikasikan target dan menghasilkan paket serangan udara secara real-time. Dalam 24 jam pertama kampanye Iran, sistem ini menghasilkan ratusan koordinat serangan.
Namun, beberapa mantan pejabat militer AS mengatakan kepada Semafor bahwa kesalahan manusia bertanggung jawab atas serangan sekolah tersebut. Alasannya adalah data yang dikelola manusia sudah usang dan tidak diperbarui tepat waktu ketika sebuah sekolah menggantikan pangkalan militer di lokasi yang sama.
Dmytro Matviyuk, seorang ahli drone yang telah bekerja dengan sistem otomatis serupa, percaya bahwa masalahnya bukanlah pada AI itu sendiri.
"Sistem AI hanya dapat diandalkan karena adanya orang-orang yang membangunnya, menyediakan data, dan memantaunya. Ketika hubungan manusia gagal, baik karena data yang salah atau proses yang dipersingkat, mesin akan terus mengeksekusi kesalahan tersebut dengan benar," kata Matviyuk.
Maven mengintegrasikan citra satelit, data radar, dan sinyal intelijen, menggunakan model AI Claude dari Anthropic untuk mengklasifikasikan target dan menghasilkan paket serangan udara secara real-time. Dalam 24 jam pertama kampanye Iran, sistem ini menghasilkan ratusan koordinat serangan.
Namun, beberapa mantan pejabat militer AS mengatakan kepada Semafor bahwa kesalahan manusia bertanggung jawab atas serangan sekolah tersebut. Alasannya adalah data yang dikelola manusia sudah usang dan tidak diperbarui tepat waktu ketika sebuah sekolah menggantikan pangkalan militer di lokasi yang sama.
Dmytro Matviyuk, seorang ahli drone yang telah bekerja dengan sistem otomatis serupa, percaya bahwa masalahnya bukanlah pada AI itu sendiri.
"Sistem AI hanya dapat diandalkan karena adanya orang-orang yang membangunnya, menyediakan data, dan memantaunya. Ketika hubungan manusia gagal, baik karena data yang salah atau proses yang dipersingkat, mesin akan terus mengeksekusi kesalahan tersebut dengan benar," kata Matviyuk.
Lihat Juga :