Perang Bintang Jilid II: China dan AS Berlomba Rakit Superkomputer AI di Orbit Bumi Demi Hemat Energi

Rabu, 31 Desember 2025 - 11:38 WIB
Kapasitas ini menjadi fondasi bagi terciptanya superkomputer orbital yang sesungguhnya. Bahkan, perusahaan kedirgantaraan Zhongke Tiansuan—yang lahir dari rahim ICT—telah meluncurkan komputer luar angkasa sejak 2022, dan satelitnya terbukti stabil beroperasi selama lebih dari seribu hari di orbit.

Namun, di belahan bumi lain, para raksasa teknologi Amerika Serikat tidak tinggal diam. Elon Musk (SpaceX/Starlink), Jeff Bezos (Blue Origin), dan Sundar Pichai (Google) mulai mengucurkan investasi ratusan miliar Dolar AS (setara ribuan triliun Rupiah) untuk inisiatif AI orbital mereka sendiri.

Bezos dan tim Blue Origin telah mengembangkan hub data AI selama lebih dari setahun. Musk berencana meningkatkan satelit Starlink agar mampu menangani beban komputasi AI.

Sementara Pichai memperkenalkan Project Suncatcher, sebuah inisiatif menempatkan rak mikro server di satelit.

Terobosan Starcloud: Nvidia H100 di Nol Gravitasi

Di tengah persaingan raksasa tersebut, startup bernama Starcloud yang didukung Nvidia justru mencuri perhatian dengan pencapaian teknis yang konkret. Bulan lalu, mereka meluncurkan satelit Starcloud-1 yang membawa unit pemrosesan grafis (GPU) Nvidia H100.

Ini adalah momen bersejarah. Chip memori 80 gigabyte (GB) tersebut diklaim 100 kali lebih kuat dibandingkan chip manapun yang pernah dikirim ke luar angkasa sebelumnya. Lebih mencengangkan lagi, Starcloud berhasil melatih model bahasa besar (LLM) NanoGPT—gagasan salah satu pendiri OpenAI, Andrej Karpathy—langsung dari orbit.

Ini menjadikan NanoGPT sebagai AI pertama yang dilatih di luar angkasa. Saat ini, Starcloud-1 menggunakan model terbuka Gemma milik Google untuk menjalankan dan menanyakan respons, menandai pertama kalinya GPU Nvidia memberi daya pada LLM dari angkasa.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!