Perang Bintang Jilid II: China dan AS Berlomba Rakit Superkomputer AI di Orbit Bumi Demi Hemat Energi

Rabu, 31 Desember 2025 - 11:38 WIB

Logika Pasar: Efisiensi Energi sebagai Pemicu Utama

Mengapa harus repot-repot memindahkan server ke luar angkasa? Jawabannya terletak pada krisis sumber daya di Bumi. Pusat data konvensional adalah "monster" yang melahap energi listrik dan air dalam jumlah masif untuk pendinginan.

Memindahkan infrastruktur AI ke luar angkasa menawarkan solusi radikal. Tim Starcloud dalam kertas putih (white paper) mereka menyebutkan bahwa pusat data orbital dapat membakar listrik 10 kali lebih sedikit dengan

memanfaatkan tenaga surya murni yang melimpah di angkasa, serta suhu dingin alami luar angkasa untuk pendinginan tanpa air.

"Pusat data orbital berskala Gigawatt adalah salah satu proyek antariksa paling ambisius sepanjang masa," tulis tim Starcloud. Mereka meyakini langkah ini penting untuk merealisasikan potensi AI secara berkelanjutan tanpa membebani lingkungan Bumi.

Tantangan Menuju 2030

Meski menjanjikan, jalan menuju superkomputer orbital penuh ranjau teknis. Perangkat keras yang sangat sensitif harus bertahan dari getaran intens saat peluncuran roket, kondisi mikrogravitasi, suhu ekstrem, hingga paparan partikel bermuatan energi tinggi dari angin matahari.

Para insinyur dari kedua negara adidaya kini berlomba memitigasi risiko tersebut. Banyak pengamat memprediksi superkomputer yang sepenuhnya operasional di luar angkasa baru akan terwujud pada dekade 2030-an.

Pertanyaannya kini bukan lagi "apakah mungkin", melainkan "siapa yang pertama" menguasai infrastruktur digital di langit.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!