Valuasi Induk TikTok Rp5.148 Triliun, Lebih Besar dari APBN Indonesia 2025 tapi Jauh Lebih Kecil dari Meta

Jum'at, 29 Agustus 2025 - 10:55 WIB
Artinya, ByteDance kini dipaksa untuk menjual "anak emas"-nya yang paling terkenal, meskipun anak itu sebenarnya belum memberikan keuntungan.

Secara finansial, ByteDance adalah monster. Tapi di mata Washington, mereka adalah ancaman keamanan nasional. Valuasi ByteDance yang tertekan bukanlah cerminan dari kinerja bisnisnya, melainkan cerminan dari risiko geopolitiknya.

'Suntikan Moral' Bernama Saham

Di tengah ketidakpastian ini, program pembelian kembali saham karyawan seharga USD200,41 USD per lembar menjadi lebih dari sekadar transaksi finansial. Ini adalah sebuah "suntikan moral" yang strategis, terutama bagi para karyawan di AS yang masa depannya terkatung-katung.

Langkah ini juga menjadi pameran kekuatan. Tidak seperti perusahaan lain yang butuh modal investor, ByteDance mendanai program ini dari kas internal mereka sendiri, sinyal bahwa mereka sangat sehat secara finansial.

Pada akhirnya, ByteDance telah memenangkan perang pendapatan. Namun, mereka kini terjebak dalam perang yang jauh lebih besar dan lebih rumit.

Nasib valuasi mereka yang sesungguhnya tidak lagi ditentukan oleh jumlah unduhan atau pendapatan iklan, melainkan oleh hasil negosiasi tingkat tinggi di antara para politisi di WashingtondanBeijing.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!