Valuasi Induk TikTok Rp5.148 Triliun, Lebih Besar dari APBN Indonesia 2025 tapi Jauh Lebih Kecil dari Meta

Jum'at, 29 Agustus 2025 - 10:55 WIB
loading...
Valuasi Induk TikTok...
Pendapatan induk TikTok tembus Rp748 Triliun, kalahkan Meta valuasinya jauh lebih rendah karena geopolitik. Foto: Reuters
A A A
BEIJING - ByteDance, induk perusahaan TikTok, resmi melengserkan Meta (Facebook & Instagram) dari takhtanya, menjadi perusahaan media sosial dengan pendapatan terbesar di planet ini.

Namun, di balik kemenangan finansial yang gemilang ini, tersembunyi sebuah paradoks yang begitu tajam.
Meskipun mesin uangnya berputar lebih kencang, nilai perusahaan ByteDance secara keseluruhan justru hanya seperlima dari nilai Meta.

Ini adalah kisah tentang raja baru yang perkasa, namun mahkotanya "disandera" oleh sebuah perang politik yang berkecamuk di Washington.

Angka-angka yang Tak Bisa Berbohong

Mari kita lihat betapa buasnya mesin uang ByteDance. Pada kuartal kedua 2025, pendapatan mereka meroket 25% mencapai USD48 miliar atau setara Rp748 Triliun. Angka ini melanjutkan tren dari kuartal pertama, di mana mereka sudah lebih dulu menyalip Meta dengan pendapatan USD43 miliar (Rp670 Triliun) berbanding USD42,3 miliar USD (Rp660 Triliun) milik Meta.

Sebagai cerminan dari kekuatan finansial ini, ByteDance kini menawarkan program pembelian kembali saham untuk karyawannya dengan valuasi baru yang menembus USD330 miliar atau lebih dari Rp5.148 Triliun.

'Penyakit Kronis' Bernama TikTok US

Di sinilah letak ironi terbesarnya. Jika ByteDance begitu perkasa, mengapa valuasinya "hanya" Rp5.148 Triliun, sementara nilai Meta di pasar saham mencapai Rp29.640 Triliun?

Jawabannya terletak pada "penyakit kronis" yang terus menggerogoti mereka: tekanan politik tanpa henti dari pemerintah Amerika Serikat untuk menjual paksa operasional TikTok di sana.

Undang-undang yang disahkan Kongres AS memberi ByteDance tenggat waktu hingga 19 Januari 2025 (yang kini diperpanjang hingga 17 September) untuk melepaskan aset TikTok US yang memiliki 170 juta pengguna.

Ancaman pemblokiran total di pasar AS ini adalah awan kelabu raksasa yang membuat para investor global menahan diri, secara efektif menekan nilai valuasi perusahaan secara drastis.

'Anak Emas' yang Justru Merugi

Lebih ironis lagi, operasional TikTok di AS—yang menjadi sumber segala masalah politik ini—ternyata hingga saat ini masih merugi. Mesin pencetak uang ByteDance yang sesungguhnya berada di China (melalui Douyin) dan pasar global lainnya.

Artinya, ByteDance kini dipaksa untuk menjual "anak emas"-nya yang paling terkenal, meskipun anak itu sebenarnya belum memberikan keuntungan.

Secara finansial, ByteDance adalah monster. Tapi di mata Washington, mereka adalah ancaman keamanan nasional. Valuasi ByteDance yang tertekan bukanlah cerminan dari kinerja bisnisnya, melainkan cerminan dari risiko geopolitiknya.

'Suntikan Moral' Bernama Saham

Di tengah ketidakpastian ini, program pembelian kembali saham karyawan seharga USD200,41 USD per lembar menjadi lebih dari sekadar transaksi finansial. Ini adalah sebuah "suntikan moral" yang strategis, terutama bagi para karyawan di AS yang masa depannya terkatung-katung.

Langkah ini juga menjadi pameran kekuatan. Tidak seperti perusahaan lain yang butuh modal investor, ByteDance mendanai program ini dari kas internal mereka sendiri, sinyal bahwa mereka sangat sehat secara finansial.

Pada akhirnya, ByteDance telah memenangkan perang pendapatan. Namun, mereka kini terjebak dalam perang yang jauh lebih besar dan lebih rumit.

Nasib valuasi mereka yang sesungguhnya tidak lagi ditentukan oleh jumlah unduhan atau pendapatan iklan, melainkan oleh hasil negosiasi tingkat tinggi di antara para politisi di WashingtondanBeijing.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mau Traveling Keluarga...
Mau Traveling Keluarga Lebih Menyenangkan? Ikuti 5 Tips ala Tika Nurjanah
Komdigi Suruh TikTok...
Komdigi Suruh TikTok Hapus 780 Ribu Akun Anak, Platform Lain Siap-siap!
ByteDance Luncurkan...
ByteDance Luncurkan Seedance 2.0, Model AI Generatif untuk Video Realistis
TikTok Dipaksa Matikan...
TikTok Dipaksa Matikan Fitur Infinity Scroll karena Menyebabkan Kecanduan
Pakar Privasi Data:...
Pakar Privasi Data: Kasus Kecanduan TikTok Harus Dibawa ke Persidangan
Siapa Adam Presser,...
Siapa Adam Presser, Alumni Harvard Pro-China yang Jadi Bos TikTok Amerika?
Purbaya Buka Peluang...
Purbaya Buka Peluang Kerek Dana Transfer ke Daerah di 2027 hingga Rp90 Triliun
Purbaya Pede Harga BBM...
Purbaya Pede Harga BBM Pertamax Bakal Turun Efek Damai AS-Iran
Ekonom Soroti Data Positif...
Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi Sell Indonesia Dinilai Keliru
Rekomendasi
Sah! Potongan Komisi...
Sah! Potongan Komisi Ojol Jadi 8% per Juli 2026, Aplikator Sudah Sepakat
Cukup Baca 4 Buku Setahun,...
Cukup Baca 4 Buku Setahun, Risiko Stres dan Depresi Bisa Turun Signifikan
Atasi Kekeringan, Warga...
Atasi Kekeringan, Warga Bekasi Bisa Dapat Bantuan Air Bersih Gratis
Berita Terkini
Pergeseran domino dari...
Pergeseran domino dari Game HP Jadi Turnamen Pro Berhadiah Ratusan Juta
Aliansi Intelijen Keluarkan...
Aliansi Intelijen Keluarkan Peringatan Mendesak tentang Risiko yang Ditimbulkan AI
Review ASUS ExpertBook...
Review ASUS ExpertBook P3 P3405 dari Sisi Performa dan Desain
Apple Setuju Berkolaborasi...
Apple Setuju Berkolaborasi dengan Intel untuk Merancang dan Memproduksi Chip
Ilmuwan Temukan Pemangsa...
Ilmuwan Temukan Pemangsa Jamur Zombie Cordyceps The Last of Us di Hutan Kalimantan
China Kenalkan Senjata...
China Kenalkan Senjata Laser Genggam Lijian untuk Jatuhkan Drone
Infografis
8 Peristiwa Besar di...
8 Peristiwa Besar di Indonesia Sepanjang Tahun 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved