Kucing Modern Diklaim Berasal dari Ritual Suci Bangsa Mesir Kuno
Kamis, 01 Mei 2025 - 10:48 WIB
Teori lain menyebutkan bahwa kucing mendomestikasi diri mereka sendiri di Eropa selama periode Neolitikum, saat manusia mulai bertani.
Perubahan ini menyediakan banyak tikus yang memakan tanaman kita, dan para petani yang terganggu hama pun cenderung membiarkan kucing tinggal di sekitar mereka.
Penemuan makam berusia 9.500 tahun pada tahun 2004 di Siprus yang berisi kerangka manusia dan kucing, sempat mendukung teori domestikasi Neolitikum tersebut. Namun, morfologi dan DNA kucing domestik tidak mendukung skenario ini, sebagaimana ditunjukkan oleh dua studi baru yang saat ini masih menunggu proses tinjauan sejawat.
Sean Doherty, seorang zooarkeolog dari University of Exeter, bersama timnya membandingkan tulang kucing domestik dengan kucing liar Eropa (Felis silvestris), dan menemukan bahwa perbedaan morfologinya tidak lebih kecil dibandingkan dengan perbandingan terhadap kucing liar Afrika (Felis lybica).
Selain itu, kucing dari makam di Siprus lebih mirip dengan kucing liar Eropa secara morfologis, bukan kucing liar Afrika. Sayangnya, materi genetik dari kucing tersebut terlalu rusak untuk bisa dianalisis lebih lanjut.
Asal-usul non-Eropa dari F. catus juga didukung oleh penelitian paleogenetik Marco De Martino dari University of Rome Tor Vergata. Analisis genetik timnya menunjukkan bahwa kucing liar Afrika adalah nenek moyang dari kucing domestik.
Dengan meneliti 70 genom kucing kuno dari situs arkeologi di Eropa, Anatolia, Afrika Utara, Bulgaria, dan Italia, mereka berhasil menelusuri asal-usul kucing domestik.
Perubahan ini menyediakan banyak tikus yang memakan tanaman kita, dan para petani yang terganggu hama pun cenderung membiarkan kucing tinggal di sekitar mereka.
Penemuan makam berusia 9.500 tahun pada tahun 2004 di Siprus yang berisi kerangka manusia dan kucing, sempat mendukung teori domestikasi Neolitikum tersebut. Namun, morfologi dan DNA kucing domestik tidak mendukung skenario ini, sebagaimana ditunjukkan oleh dua studi baru yang saat ini masih menunggu proses tinjauan sejawat.
Sean Doherty, seorang zooarkeolog dari University of Exeter, bersama timnya membandingkan tulang kucing domestik dengan kucing liar Eropa (Felis silvestris), dan menemukan bahwa perbedaan morfologinya tidak lebih kecil dibandingkan dengan perbandingan terhadap kucing liar Afrika (Felis lybica).
Selain itu, kucing dari makam di Siprus lebih mirip dengan kucing liar Eropa secara morfologis, bukan kucing liar Afrika. Sayangnya, materi genetik dari kucing tersebut terlalu rusak untuk bisa dianalisis lebih lanjut.
Asal-usul non-Eropa dari F. catus juga didukung oleh penelitian paleogenetik Marco De Martino dari University of Rome Tor Vergata. Analisis genetik timnya menunjukkan bahwa kucing liar Afrika adalah nenek moyang dari kucing domestik.
Dengan meneliti 70 genom kucing kuno dari situs arkeologi di Eropa, Anatolia, Afrika Utara, Bulgaria, dan Italia, mereka berhasil menelusuri asal-usul kucing domestik.
Lihat Juga :