Energi Nuklir Jadi Solusi Data Center Amazon, Google, dan Microsoft yang Rakus Energi!

Sabtu, 02 November 2024 - 07:53 WIB
Kesepakatan ini dapat menyediakan lebih dari 5.000 megawatt tenaga listrik pada akhir dekade mendatang. "Nuklir adalah sumber energi bebas karbon yang aman yang dapat membantu menggerakkan operasi kami dan memenuhi permintaan pelanggan yang terus bertambah," kata Matt Garman, CEO AWS, dalam sebuah pernyataan.

Amazon juga telah menandatangani perjanjian dengan Talen Energy dan Dominion Energy untuk mendapatkan energi dari pembangkit listrik tenaga nuklir dan mengembangkan SMR.

Google: Bermitra dengan Kairos Energy

Google mengumumkan perjanjian pembelian tenaga listrik dengan pengembang SMR Kairos Power. Perjanjian ini akan memberikan Google energi nuklir dari "beberapa" reaktor yang diperkirakan akan beroperasi pada 2030.

"Kami percaya bahwa energi nuklir memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan bersih kami dan membantu mewujudkan kemajuan AI," kata Michael Terrell, senior director for energy and climate Google.

Microsoft: Memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir yang Tidak Aktif

Microsoft berencana untuk mendapatkan tenaga listrik dari sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir yang tidak aktif yang akan dibuka kembali.

Tren yang Meningkat

OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, juga dilaporkan sedang dalam pembicaraan untuk membeli listrik dari Helion, sebuah startup energi nuklir. Yann LeCun, kepala AI Meta, juga menekankan perlunya energi nuklir untuk mendukung data center AI.

Baca Juga: Kecerdasan Buatan dalam Politik Bawa Perubahan Signifikan
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!