Kuil Matahari Terbit, Jejak Kuno Bangsa Kanaan di Israel

Jum'at, 22 Maret 2024 - 22:00 WIB
Para arkeolog telah mendeteksi dua fase dalam sejarah panjang kuil, yang mencakup paruh kedua Zaman Perunggu Akhir (abad ke-16 - ke-12 SM). Awalnya, sekitar akhir abad ke-14 atau awal abad ke-13 SM, masyarakat Azekah menciptakan tempat suci terbuka, membangun ruang besar berbatu di puncak gundukan dengan pemandangan spektakuler ke arah timur Lembah Elah, yang kemudian menjadi lokasi pertarungan legendaris antara Daud dan Goliath.

Baca Juga: Kudeta di Kerajaan Nabi Daud, Absalom Putra Sulung Terbunuh

Pemujaan terpusat di sekitar altar batu dan baskom untuk mengalirkan cairan dari persembahan, semuanya dilapisi plester. Di sebelah altar ada pilar, objek pemujaan umum di Levant kuno yang terbuat dari batu kapur halus dan memantulkan cahaya pagi. "Mengingat kecerahan permukaan ini, mudah untuk membayangkan sinar matahari pagi mewarnai ruangan ini dengan warna emas, oranye, dan merah muda yang cerah," tulis para arkeolog.

Orientasi ke timur diketahui dari tempat suci lain di Levant dan sangat mirip dengan kuil matahari Mesir yang didedikasikan untuk kelahiran kembali matahari setiap hari. Pada fase kedua yang terjadi akhir abad ke-13 atau awal abad ke-12 SM, kuil tersebut direnovasi secara besar-besaran. Beberapa ruang terbuka ditutup dengan dinding dan ruang samping, bangku dan lebih banyak batu berdiri untuk pemujaan ditambahkan.

“Di fondasi, para pembangun menempatkan tujuh obyek seperti lampu dan mangkok. Meskipun jumlah obyek ini tidak biasa, kebiasaan umum di Zaman Perunggu Akhir untuk menempatkan lampu dan mangkok kosong di fondasi bangunan baru,” kata Dr. Sabine Kleiman, salah satu arkeolog Universitas Tel Aviv dalam tim tersebut.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!