TikTok dan Connective Action: Bima Effect di Viral Jalan Rusak Lampung

Minggu, 11 Juni 2023 - 15:45 WIB
Internet bukan hanya mempermudah, tetapi juga mengubah bentuk gerakan protes (Bennett & Segerber, 2012). Lebih lanjut Bennett & Segerber (2012) menjelaskan perubahan ini terjadi karena dua hal.

Pertama akses terhadap informasi dan gerakan yang berlangsung secara cepat dan masif ke banyak orang. Kedua, personalisasi. Internet membuat orang bisa mengungkapkan pendapat atau sikap dengan cara yang sangat personal, sesuai dengan karakter dan kebutuhan dari masing-masing orang.

Gerakan sosial di ranah digital ditandai dengan 1). Tidak ada pemimpin; 2). Tidak ada kelompok yang memperjuangkan isu; 3). Bergerak sendiri-sendiri (Bennett & Segerber, 2012).

Internet dan sosial media menyediakan ruang publik yang (hampir) gratis untuk terkoneksi satu sama lain, serta membentuk project dalam jejaring yang berdasar pada pandangan atau keterikatan pribadi (Castells, 2015).

Aktivisme sosial online telah menjadi bagian integral dari aktivisme. Ketika para aktivis mulai beralih ke media sosial untuk berkomunikasi dengan publik, beberapa platform media sosial seperti Facebook, YouTube, Twitter, dan Flickr mendapat perhatian yang lebih besar dari pemerintah daripada media tradisional.

Baca juga: TikTok TV Resmi Hadir di Indonesia, Nonton TikTok Kini Bisa di TV Layar Lebar

Salah satu media sosial yang saat ini populer di Indonesia adalah aplikasi TikTok. Berdasarkan data We Are Social, Indonesia menempati urutan kedua di dunia sebagai negara dengan pengguna TikTok terbesar setelah Amerika Serikat pada Januari 2023.

Tercatat sebanyak 109,90 juta pengguna TikTok yang rata-rata menghabiskan waktu sebanyak 23,1 jam per bulan.

Rumusan permasalahan pada tulisan ini adalah apakah aksi protes Bima efektif dalam menyampaikan permasalahan dan bisa dilakukan setiap orang atau justru bersifat eksklusif? Selanjutnya tulisan ini juga membahas tentang connective action pada aksi Bima.

Apakah aksi Bima bisa diidentifikasikan sebagai connective action atau hanya sebatas memanfaatkan momentum?

Dalam bukunya yang berjudul “The Logic of Connective Action: Digital Media and the Personalization of Contentious Politics”, Bennett & Segerberg (2013) melihat konsep connective action sebagai model baru dalam menjelaskan bagaimana media digital mempengaruhi gerakan sosial seperti mengubah cara orang terhubung, berkomunikasi dan berpartisipasi dalam gerakan sosial.

Menurut konsep connective action atau tindakan penghubung, media sosial dapat menggantikan organisasi tradisional, dan gerakan sosial dapat mengandalkan tindakan individu daripada tindakan kolektif.

Berlawanan dengan tindakan kolektif yang bergantung pada struktur organisasi dan mengasumsikan pengembangan identitas kolektif, connective action bersifat cair karena gerakan sosial tidak memiliki pemimpin yang jelas dan struktur organisasi yang jelas, dan anggota dapat dengan mudah bergabung atau meninggalkan setiap Gerakan.

Lebih lanjut Bennett dan Segerberg (2013) menyoroti dua fitur penting dari tindakan individu. Ciri pertama—inklusivitas simbolis—mengacu pada kesempatan bagi individu untuk mengekspresikan diri dengan cara mereka sendiri yang mencerminkan berbagai alasan untuk berpartisipasi dalam aktivisme.

Fitur kedua—keterbukaan teknologi—mengacu pada kemampuan individu untuk memilih tingkat keterlibatan mereka dan sifat interaksi mereka dengan aktor organisasi dan individu lainnya. Connective Actions menghasilkan sebuah tindakan agregat yang cukup kuat secara menyeluruh.

Baca juga: TikTok dan Telkomsel Jalin Kemitraan Strategis



Sebuah fenomena atau permasalahan dengan tindakan secara kolektif dapat memicu individu untuk berkontribusi, dimana kontribusi individu inilah sebagai tonggak utama dalam connective actions.

Dalam studinya, Bennett & Segerberg (2012) mengidentifikasi tiga tipologi jejaring aksi (action network). Tipologi pertama adalah self organizing network di mana individu menggunakan tindakan yang terhubung dengan sedikit atau tanpa koordinasi organisasi, menggunakan teknologi sebagai agen organisasi yang penting, dan tindakan pribadi sebagai unit transmisi melalui jaringan sosial yang terpercaya.

Tipologi kedua adalah organizationally brokered network—jaringan yang ditengahi secara organisasional, yang mewakili tindakan kolektif “ideal” dengan koordinasi tindakan organisasional yang kuat, dengan organisasi yang menggunakan teknologi sosial untuk mengelola partisipasi dan mengkoordinasikan tujuan.

Tipologi ketiga adalah organizationally- enabled action. Tipologi ini merupakan gabungan antara logika collective action dan connective action (hybrid).

Dalam tipe ketiga, organisasi formal tidak memiliki peran utama dalam gerakan, sehingga tipe ini memiliki tindakan organisasi yang lebih longgar. Kelompok berperan sebagai ‘aktor di belakang panggung’ dalam mobilisasi sumber daya, alih-alih menggunakan pendekatan secara hierarkis komando.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!