Hacker Rampok 100 Bank Kuras Rp4 Triliun Lebih
Senin, 16 Februari 2015 - 09:41 WIB
Hacker Rampok 100 Bank Kuras Rp4 Triliun Lebih
A
A
A
ARIZONA - Ini menjadi salah satu pencurian terbesar, karena hacker berhasil mencuri lebih dari USD300 juta atau sekitar Rp3,82 trliun (Rp4 triliun). Pencurian ini dilakukan secara besar-besaran di 100 bank yang tersebar pada 30 negara berbeda.
Dilansir dari Slashgear, Senin (16/2/2015), sebuah laporan terbaru disampaikan Kaspersky Labs kepada New York Times, yang menjelaskan kemampuan malware canggih telah digunakan sejak 2013, untuk menyedot uang dari lembaga keuangan. Tidak ada bank yang menyatakan secara resmi kerugian yang diderita, tetapi beberapa korban mengungkapkan telah terjadi pelanggaran keamanan, seperti dari Rusia, Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang.
"Kemungkinan ini merupakan serangan paling canggih di dunia, karena sampai saat ini taktik dan metode yang digunakan penjahat cyber masih menjadi rahasia," ujar Seorang manajer Kaspersky Amerika Utara mengatakan kepada Times. Serangan digambarkan sebagai sebuah proses berlarut-larut panjang, yang melibatkan infeksi komputer perbankan, penggunaan perangkat lunak surveilans, dan memata-matai karyawan bank untuk menyalin perilaku mereka dan tidak meninggalkan tanda-tanda dana yang hilang.
Setelah hacker memiliki akses ke sistem perbankan, mereka menipu karyawan menginstal virus melalui email palsu. Kemudian hacker mampu melakukan transaksi yang akan muncul seperti biasa, seperti yang dilakukan sehari-hari.
Pencurian juga terbatas USD10 juta atau senilai Rp127,44 miliar pada satu waktu. Meskipun beberapa bank sempat menjadi korban lebih dari sekali. Ketika tiba waktunya untuk mendapatkan uang tunai, uang akan diteruskan ke rekening boneka, atau kadang-kadang bahkan dikirim ke ATM yang berada di bawah kendali para penjahat.
Kaspersky, sebuah perusahaan riset keamanan, mengatakan, bahwa bank-bank yang menjadi korban telah dibuat sadar akan hackings. Mayoritas bank yang menjadi korban adalah di Rusia. Dan sayangnya, serangan masih terus berlangsung di sejumlah lokasi.
Dilansir dari Slashgear, Senin (16/2/2015), sebuah laporan terbaru disampaikan Kaspersky Labs kepada New York Times, yang menjelaskan kemampuan malware canggih telah digunakan sejak 2013, untuk menyedot uang dari lembaga keuangan. Tidak ada bank yang menyatakan secara resmi kerugian yang diderita, tetapi beberapa korban mengungkapkan telah terjadi pelanggaran keamanan, seperti dari Rusia, Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang.
"Kemungkinan ini merupakan serangan paling canggih di dunia, karena sampai saat ini taktik dan metode yang digunakan penjahat cyber masih menjadi rahasia," ujar Seorang manajer Kaspersky Amerika Utara mengatakan kepada Times. Serangan digambarkan sebagai sebuah proses berlarut-larut panjang, yang melibatkan infeksi komputer perbankan, penggunaan perangkat lunak surveilans, dan memata-matai karyawan bank untuk menyalin perilaku mereka dan tidak meninggalkan tanda-tanda dana yang hilang.
Setelah hacker memiliki akses ke sistem perbankan, mereka menipu karyawan menginstal virus melalui email palsu. Kemudian hacker mampu melakukan transaksi yang akan muncul seperti biasa, seperti yang dilakukan sehari-hari.
Pencurian juga terbatas USD10 juta atau senilai Rp127,44 miliar pada satu waktu. Meskipun beberapa bank sempat menjadi korban lebih dari sekali. Ketika tiba waktunya untuk mendapatkan uang tunai, uang akan diteruskan ke rekening boneka, atau kadang-kadang bahkan dikirim ke ATM yang berada di bawah kendali para penjahat.
Kaspersky, sebuah perusahaan riset keamanan, mengatakan, bahwa bank-bank yang menjadi korban telah dibuat sadar akan hackings. Mayoritas bank yang menjadi korban adalah di Rusia. Dan sayangnya, serangan masih terus berlangsung di sejumlah lokasi.
(dyt)