Terlilit Banyak Skandal, Bos Facebook Rugi Rp218 Triliun

Senin, 17 Desember 2018 - 11:07 WIB
Terlilit Banyak Skandal,...
Terlilit Banyak Skandal, Bos Facebook Rugi Rp218 Triliun
A A A
NEW YORK - Tahun 2018 tidak menjadi masa keberuntungan pendiri raksasa media sosial Facebook Mark Zuckerberg. Dalam tahun ini Zuckerberg terlilit banyak masalah besar seperti peretasan pemilu hingga pencurian data akun pengguna.

Kondisi ini membuat perusahaannya merugi hingga USD15 miliar (Rp218,77 triliun). Bahkan pada tahun ini Zuckerberg tercatat sebagai orang kaya yang paling merugi di antara 500 miliarder dunia. Kekayaan Zuckerberg yang kini berusia 34 tahun tersebut diketahui menurun dari USD75 miliar (Rp1.093 triliun) menjadi USD57 (Rp831 triliun). Tak hanya dilanda skandal peretasan pemilu dan pencurian data pengguna, Facebook juga dihadapkan pada manajemen yang amburadul.

"Berita buruk tentang Facebook yang terus berlangsung pada 2018 menyebabkan Zuckerberg mengalami penurunan kekayaan," demikian analisis Money Magazine. Meskipun didera banyak kerugian, Facebook masih menduduki peringkat keenam pada Bloomberg Billionaires Index.

COO Facebook Sheryl Sandberg sebelumnya menghadapi pemeriksaan terkait isu peretasan yang dilakukan Rusia dan penyalahgunaan data. Dia membantah adanya interferensi Rusia pada Pemilu Presiden 2016 melalui Facebook dan pencurian data pengguna. Sandberg juga membantah dirinya melarikan diri dari tanggung jawab tersebut.

Money Magazine membeberkan isu yang mengganggu Facebook selama setahun terakhir. Semuanya diawali pada Maret lalu saat Christopher Wylie, pendiri firma analisis data Cambridge Analytica, mengungkap penyalahgunaan data 50 juta pengguna Facebook (direvisi menjadi 87 juta). Pencurian informasi itu digunakan untuk menarget pemilih pada Pemilu 2016 terkait dengan kepentingan kampanye Trump. Imbasnya pendiri Facebook harus kehilangan USD13 miliar akibat pelanggaran tersebut.

Dalam perkembangannya Zuckerberg mengakui kesalahan pada perusahaannya yang tidak proaktif untuk mencegah pelanggaran tersebut. "Ketika kita mendengar dari Cambridge Analytica yang dikatakan kepada kita bahwa mereka tidak menggunakan data dan menghapusnya, kita menganggap kasus itu ditutup," kata Zuckerberg kepada Kongres AS. "Sebagai retrospeksi, itu adalah jelas sebuah kesalahan," tandasnya.

Saat itu saham Facebook pada nilai USD217,50 per saham langsung turun menjadi USD144,06 per saham. Kerugian besar tersebut sebagai hal terburuk pada sejarah nilai saham di bursa AS. Saat itu Zuckerbeg mengalami kerugian sekitar USD15,9 miliar. Beberapa hari kemudian dia kembali merugi hingga mencapai USD2,2 miliar.

Di tengah prospek yang buruk pertumbuhan nilai saham tersebut, banyak investor kemudian mulai meninggalkan Facebook. Untuk mempertahankan nilai saham, Zuckerberg menyatakan perusahaan telah menganggarkan keamanan jaringan guna mencegah skandal terdahulu terulang.

Namun kredibilitas Facebook mulai anjlok. Bahkan saat itu banyak eksekutif muda Facebook hengkang meninggalkan perusahaan tersebut. Mereka mengeluhkan Facebook mencaplok WhatsApp dan Instagram yang menunjukkan gambaran tidak sehat di dalam perusahaan tersebut. Bahkan salah satu pendiri WhatsApp sempat mengampanyekan "saatnya #deletefacebook".

Selanjutnya pada November lalu, New York Times melaporkan COO Facebook Sheryl Sandberg yang terlibat dalam banyak skandal. Sandberg diduga melakukan kebohongan dengan pengabaian peretasan yang dilakukan institusi Rusia. Dia juga dinilai mengabaikan penyalahgunaan data oleh Cambrige Analytica dan pemanfaatan data perusahaan untuk miliarder liberal George Soros.

Selain itu Facebook juga dikritik oleh para pakar PBB karena tidak mampu menghentikan penyebaran ujaran kebencian yang menyebabkan genosida di Myanmar. Itu menjadikan wajah Facebook semakin tercoreng.

Kerugian besar yang dialami Facebook itu tak ayal menjadikan Zuckerberg sebagai miliarder yang merugi di antara 500 miliarder versi Bloomberg Billionaires Index. Dia menduduki peringkat keenam pada posisi tersebut. Adapun pengusaha suku cadang mobil asal Jerman George Schaeffler menduduki peringkat kedua miliarder paling merugi tahun ini. Schaeffler mengalami kerugian USD13,8 miliar.

Faktanya, bagi Facebook, 2018 memang sangat berbeda dengan 2017. Pada 2017, Facebook banyak berubah dan berinovasi. Perubahan, inovasi, dan kreativitas merupakan roh dalam setiap langkah Facebook. Tanpa ketiganya, Facebook meyakini akan ditinggalkan para penggunanya.

Tak mengherankan saat 2017 lalu, Facebook menghadirkan Facebook AR (Augmented Reality) Studio. AR merupakan realitas tertambah, yakni teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi dan/ataupun tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi, lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata. Platform aplikasi AR digunakan untuk publik pada Desember lalu.

Sebelumnya pada 2016 Facebook tampil dengan video live. Berbeda dengan YouTube, Facebook tampil berbeda dalam menampilkan fitur video live. Sebelumnya pada 2013, Facebook mengenalkan tagar setelah mengakuisisi Instagram senilai USD1 miliar. Facebook juga mengenalkan Messenger pada 2011 hingga membunuh tren pesan singkat pada ponsel biasa.

Pada 2018 Zuckerberg menegaskan Facebook akan memperbaiki berbagai isu dan meningkatkan pengalaman bagi penggunanya dalam waktu 365 hari. Isu negatif yang akan diperbaiki itu adalah bahwa Facebook merupakan media penyebaran berita palsu, penyebar ujaran kebencian, dan dianggap sebagai media sosial yang mampu memecah belah bangsa.

Resolusi perbaikan Facebook pun dimasukkan dalam resolusi tahunan Zuckerberg yang disampaikan pada Januari lalu. "Kita saat ini membuat banyak kesalahan sehingga memaksa kita untuk membuat kebijakan dan melakukan pencegahan penyalahgunaan fitur Facebook. Jika kita sukses tahun ini melakukan perbaikan, pada akhir 2018 Facebook akan tampil lebih baik," janji Zuckerberg.

Tapi resolusi Zuckerberg yang diucapkan pada akhir 2017 itu ternyata gagal dipenuhi tahun ini. Hal itu berdampak panjang pada urusan kekayaan yang dimilikinya. Dalam kondisi serbasulit ini Facebook menyatakan dan berkomitmen akan terus memperbaiki diri guna mempertahankan diri sebagai raksasa media sosial di dunia.
(amm)
Berita Terkait
Ini Tampang 6 Tersangka...
Ini Tampang 6 Tersangka Grup Facebook Fantasi Sedarah
Facebook Tambahkan Tools...
Facebook Tambahkan Tools Parental Control Ke Messenger, Apa Fungsinya?
Cara Mencari Akun Facebook...
Cara Mencari Akun Facebook yang Hilang dan Lupa Kata Sandi
Ini 3 Cara untuk Mengembalikan...
Ini 3 Cara untuk Mengembalikan Akun Facebook yang Dibajak
84% Konten Disinformasi...
84% Konten Disinformasi Medis di Facebook Tidak Diberi Label
Enggan Kehilangan Pengguna,...
Enggan Kehilangan Pengguna, Facebook Rancang Strategi Baru Mirip TikTok
Berita Terkini
Samsung Berencana Bangun...
Samsung Berencana Bangun Pusat Data Terapung di Laut
3 jam yang lalu
Trump T1 Phone Ternyata...
Trump T1 Phone Ternyata HTC U24 Pro Buatan China: Ini Bukti Teardown-nya
16 jam yang lalu
Kantongi Laba Rp33,72...
Kantongi Laba Rp33,72 Miliar, Elitery (ELIT) Fokus Kembangkan AI dan Cybersecurity
18 jam yang lalu
Perkuat Transformasi...
Perkuat Transformasi dan ESG, TelkomGroup Rilis Laporan Keberlanjutan 2025 untuk Masa Depan Digital
20 jam yang lalu
Fasilitasi Pasar Sekunder...
Fasilitasi Pasar Sekunder Esports, HIDDEN SUPPLY Kelola Transaksi Aset Tak Berwujud
20 jam yang lalu
Perkuat Transformasi...
Perkuat Transformasi Industri, Hypernet Technologies Perkokoh Kemitraan Strategis di Bravo 500 Summit 2026
22 jam yang lalu
Infografis
Siapa John Ternus, Bos...
Siapa John Ternus, Bos Baru Apple Pengganti Tim Cook?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved