37 Negara Bagian Minta Keterangan Facebook

Rabu, 28 Maret 2018 - 08:04 WIB
37 Negara Bagian Minta...
37 Negara Bagian Minta Keterangan Facebook
A A A
WASHINGTON - Badan hukum perlindungan konsumen dan jaksa yang mewakili 37 negara bagian di Amerika Serikat (AS) mendesak Facebook memberikan keterangan. Permintaan itu terkait bagaimana informasi data 50 juta penggunanya bisa berada di tangan konsultan politik asal Inggris, Cambridge Analytica.

Skandal Facebook membuat Komisi Perdagangan Federal AS buka suara. Mereka membuka penyelidikan terhadap Facebook yang biasanya hanya dilakukan dalam kasus besar yang menarik banyak perhatian publik. Mereka mengutip laporan media massa yang menyatakan praktik privasi Facebook merupakan keprihatinan substansial.

Koalisi bipartisan 37 jaksa negara bagian AS juga menulis surat tuntutan. Mereka ingin mengetahui lebih banyak mengenai peran Facebook dalam memanipulasi data pengguna yang digunakan Cambridge Analytica. Data itu digunakan untuk menggiring para pemilih AS dan Inggris menjelang pilpres 2016 dan referendum Brexit.

“Penguakan itu menimbulkan pertanyaan serius mengenai kebijakan dan praktik Facebook. Langkah ini perlu diambil untuk memastikan Facebook mengikuti aturan,” bunyi surat itu, dikutip Reuters. “Kami perlu tahu agar pengguna bisa mempercayai Facebook. Dengan informasi yang sekarang kami miliki, kepercayaan kami sirna.”

Atas skandal ini, saham Facebook jatuh sebesar 6,5% di bawah USD150 untuk pertama kali sejak Juli 2017. Saham Facebook sudah berada di bawah 13% sejak Facebook mengakui data pengguna diberikan kepada Cambridge Analytica pada 16 Maret. Sejak saat itu, perusahaan menelan kerugian nilai pasar lebih dari USD70 miliar.

Saham Facebook sempat pulih pada awal pekan ini sebesar 0,4% di USD160,06. Pemulihan tersebut dinilai kemungkinan besar dimanfaatkan sebagian investor yang mengambil keuntungan dari rendahnya harga saham Facebook. Mereka yakin kasus regulasi ini tidak akan melukai prospek pertumbuhan jangka panjang Facebook.

Komisi Perdagangan Federal ingin mengetahui apakah Facebook melanggar perjanjian pada 2011 seputar praktik privasi. Jika FTC menemukan Facebook melanggar dekrit itu, mereka memiliki wewenang untuk memberikan sanksi denda ribuan dollar per hari dalam satu kasus pelanggaran yang bisa mencapai miliaran dollar.

Namun, Facebook yakin mereka tidak melakukan kesalahan dan berjalan sesuai aturan. “Kami tetap teguh berkomitmen untuk melindungi informasi masyarakat,” ujar Wakil Kepala Privasi Facebook Rob Sherman dalam keterangan pers. “Kami menghargai kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang diperlukan FTC,” tambahnya.

Para pembuat Undang Undang di AS dan Eropa terus mendesak Facebook dan CEO Mark Zuckerberg untuk menjelaskan praktik privacy perusahaan. Senate Judiciary Committee menyatakan telah mengundang Zuckerberg, CEO Alphabet Inc, dan CEO Twitter untuk memberikan pernyataan pada 10 April mengenai data privasi.

House Energy and Commerce Committee dan Senate Commerce Committee juga meminta Zuckerberg secara formal untuk hadir di sidang kongres. “Facebook gagal melindungi informasi rahasia pengguna yang tampaknya melanggar komitmen hukum tertentu, juga norma dan standar dasar,” imbuh Senator Demokrat Richard Blumenthal.

Di samping AS, European Union Justice Commissioner juga meminta Facebook agar skandal Cambridge Analytica tidak terulang lagi. Pada pekan lalu, Zuckerberg meminta maaf melalui pemasangan iklan di satu halaman penuh dalam surat kabar AS dan Inggris. Dia berjanji akan memperketat akses developer terhadap informasi pengguna.

Bagaimana pun, permintaan maaf Zuckerberg tidak mampu meredam keprihatinan pemerintah dan masyarakat. Menteri Keadilan Jerman mengatakan hal itu masih tidak cukup. “Di masa depan, kita perlu mengatur perusahaan seperti Facebook jauh lebih ketat,” kata Katarina Barley setelah berbicara dengan eksekutif Facebook. (Muh Shamil)
(nfl)
Berita Terkait
Ini Tampang 6 Tersangka...
Ini Tampang 6 Tersangka Grup Facebook Fantasi Sedarah
Cara Mencari Akun Facebook...
Cara Mencari Akun Facebook yang Hilang dan Lupa Kata Sandi
Facebook Tambahkan Tools...
Facebook Tambahkan Tools Parental Control Ke Messenger, Apa Fungsinya?
Ini 3 Cara untuk Mengembalikan...
Ini 3 Cara untuk Mengembalikan Akun Facebook yang Dibajak
Enggan Kehilangan Pengguna,...
Enggan Kehilangan Pengguna, Facebook Rancang Strategi Baru Mirip TikTok
84% Konten Disinformasi...
84% Konten Disinformasi Medis di Facebook Tidak Diberi Label
Berita Terkini
Samsung Bentuk Divisi...
Samsung Bentuk Divisi Robotika Khusus Mempercepat Strategi AI
7 jam yang lalu
Mengancam Bumi, China...
Mengancam Bumi, China Siap Pindahkan Asteroid 2015 XF261
18 jam yang lalu
Cara Hapus Objek Mengganggu...
Cara Hapus Objek Mengganggu di Foto dengan Galaxy S26 Series
19 jam yang lalu
Teknologi Deteksi Deepfake...
Teknologi Deteksi Deepfake Nvidia Mencapai Akurasi 94%
1 hari yang lalu
Motorola Razr Fold Diluncurkan,...
Motorola Razr Fold Diluncurkan, Lipatan Smartphone Tidak Terlihat
1 hari yang lalu
Bug Windows 11 Terdeteksi...
Bug Windows 11 Terdeteksi Menguras Penyimpanan SSD Pengguna hingga 70GB
1 hari yang lalu
Infografis
10 Negara Penguasa Cadangan...
10 Negara Penguasa Cadangan Logam Tanah Jarang Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved