Perang Harga Grab, Uber dan Taksi Konvensional Makin Panas

Selasa, 29 November 2016 - 17:35 WIB
Perang Harga Grab, Uber...
Perang Harga Grab, Uber dan Taksi Konvensional Makin Panas
A A A
JAKARTA - Bagi perusahaan pendatang baru atau startup yang ingin masuk ke pasar transportasi online di Asia Tenggara taruhannya sangat besar. Dua kompetitor, yaitu Grab dan Uber bertarung menguasai pangsa pasar yang diperkirakan akan tumbuh sebesar USD13 miliar atau sekitar Rp176 triliun pada 2025.

Grab, dengan pengalaman selama kurang lebih 4 tahun di pasar Asia Tenggara telah di-back up dana sebesar USD750 juta dari Softbank, pada September 2016. Di sisi lain, Uber yang sudah meninggalkan China dan menjual perusahaan mereka terhadap Didi pada Agustus 2016, saat ini tengah fokus di pasar Asia Tenggara dengan cara menambah sumber daya sebanyak dua kali lipat dan meningkatkan teknologi yang mereka miliki. Walhasil, kompetisi transportasi online di Asia Tenggara akan semakin panas.

"Research ini kami lakukan untuk mengindentifikasi dan membandingkan moda transportasi termurah antara dua aplikasi transportasi paling terkenal dengan taksi konvensional di masing-masing negara Asia Tenggara. Research ini menunjukan bahwa Grab, Uber maupun taksi konvensional memiliki komponen harga yang berbeda dan harga yang juga berbeda," ujar iPrice, dalam rilis hasil studinya kepada SINDOnews, Selasa (29/11/2016).

iPrice
Di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar dan Bali kondisi jalanan akan padat pada jam pergi dan pulang kerja. Rata-rata masyarakat menghabiskan waktu 1-3 jam di jalanan.

Kondisi jalanan seperti ini mendorong masyarakat memilih moda transportasi yang paling murah, paling cepat dan paling mudah didapat. Setidaknya saat ini ada tiga pilihan transpotasi utama yang dapat dipilih, Taksi konvensional atau tranportasi online, seperti Uber dan Grab.

Walaupun terjadi perdebatan dari sisi regulasi dengan pemerintah dan juga pengendara taksi konvensional, pelanggan akan tetap menjadi raja. Masyarakat Indonesia akan memilih transportasi yang memiliki pelayanan terbaik dan harga termurah. Apakah taksi konvensional lama-kelamaan akan hilang karena kalah bersaing dengan Grab dan Uber? Atau tetap memiliki tempat di hati masyarakat.
(dmd)
Berita Terkait
Beda dengan Grab-Gojek,...
Beda dengan Grab-Gojek, Uber-Lyft Pernah Rilis Laporan Soal Kekerasan Seksual, Hasilnya Miris!
Cara Menggunakan Mode...
Cara Menggunakan Mode Hening di GrabCar, Bisa Tidur dan Enggak Perlu Ngobrol dengan Driver
Fitur Baru GrabMart:...
Fitur Baru GrabMart: Beauty Store, Belanja Produk Kecantikan Sejam Sampai
Gojek Dicomot Grab?...
Gojek Dicomot Grab? Raksasa Asing Bicara, Apakah Nasib Ojol Lokal di Ujung Tanduk?
Grab Indonesia 2025:...
Grab Indonesia 2025: Ketika Platform Digital Menjadi Bantalan Sosial dan Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Ribuan Korban PHK Serbu...
Ribuan Korban PHK Serbu Grab: Harapan Baru atau Perangkap Kemitraan Tanpa Masa Depan?
Berita Terkini
China Diam-diam Simpan...
China Diam-diam Simpan Ribuan Server di Dasar Laut, Apa Tujuannya?
2 jam yang lalu
Nvidia RTX Spark: Superkomputer...
Nvidia RTX Spark: Superkomputer Kemasan Sachet, Bikin Intel dan AMD Keringat Dingin
10 jam yang lalu
Korea Selatan Kembangkan...
Korea Selatan Kembangkan Teknologi Mesin Metana untuk Roket Luar Angkasa
11 jam yang lalu
Meta Luncurkan Agen...
Meta Luncurkan Agen Bisnis di WhatsApp, Instagram, dan Messenger
15 jam yang lalu
Heboh Grab Dikabarkan...
Heboh Grab Dikabarkan Kabur Gara-Gara Aturan Baru, CEO Neneng Buka Suara
15 jam yang lalu
Ambisi Gila IPO SpaceX:...
Ambisi Gila IPO SpaceX: Kejar Rp1.350 Triliun dalam Semalam
16 jam yang lalu
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved