Perubahan Iklim Hadirkan Spesies Brolar, Hasil Perkawinan Beruang Cokelat dan Kutub

Kamis, 17 November 2022 - 19:54 WIB
loading...
Perubahan Iklim Hadirkan...
Beruang brolar merupakan hasil perkawinan silang antara beruang coklat dengan beruang kutub di Rusia. Foto/Daily Mail
A A A
MOSKOW - Beruang brolar merupakan hasil perkawinan silang antara beruang cokelat dengan beruang kutub di Rusia. Hewan hibrida ini dinilai lebih tahan terhadap perubahan iklim yang terjadi di habitatnya.

Beruang brolar dikenal lebih cocok untuk suhu yang lebih hangat daripada beruang kutub. Jadi mereka tidak terlalu bergantung pada es laut untuk berburu seperti beruang kutub.

Beruang hibrida ini memiliki bulu yang sebagian besar berwarna putih dengan rona kecoklatan. Beruang ini memiliki hidung hasil persilangan antara beruang kutub dan beruang coklat atau beruang grizzly.

Baca juga; Dampak Perubahan Iklim: Beruang Kutub Incest dan Burung Elang Bercerai

Dr Innokentiy Okhlopkov, ahli biologi di Cabang Siberia dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia (SBRAS), mengungkapkan peningkatan prevalensi beruang brolar. Ini terjadi akibat perubahan iklim yang memanas membuat beruang cokelat dapat menjelajah lebih jauh ke utara untuk berburu.

Kemudian kedua spesies beruang cokelat dan beruang kutub tersebut bertemu satu sama lain saat habitat mereka tumpang tindih. Akibatnya, beruang melahirkan anak hibrida, yang pertama kali terlihat di alam liar pada tahun 2006, ketika itu pemburu Arktik membunuh beruang putih dengan bercak cokelat di Kanada.

“Beruang cokelat bergerak ke tundra. Beruang cokelat telah terlihat di bagian hilir Sungai Kolyma, tempat tinggal beruang kutub,” kata Okhlopkov kepada kantor berita Rusia TASS dikutip SINDOnews dari laman Daily Mail, Kamis (17/11/2022).

Banyak penelitian telah memastikan bahwa lapisan es Kutub Utara semakin menipis, sehingga semakin sulit bagi beruang untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan. Tahun ini, es laut musim dingin Arktik dikonfirmasi oleh NASA berada pada rekor terendah kesepuluh, dan kehilangan area 40 kali ukuran Wales.

“Tren ini terkait dengan pemanasan yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti emisi karbon dioksida, yang memerangkap panas di atmosfer dan menyebabkan suhu meningkat,” demikian keterangan NASA.

Baca juga; Gunung Es Terbesar di Dunia Terlepas dari Antartika, Hanyut Menuju Samudra Pasifik

Menurut Institute of Permafrost Studies di SBRAS, suhu udara tahunan rata-rata di seluruh Yakutia telah meningkat sebesar 1,1 derajat celcius hingga 3,4 derajat celcius dalam 50 tahun terakhir. Sebagai hasil dari medan yang berubah, beruang kutub diketahui mencari jalan ke pedalaman untuk mencari lebih banyak makanan.
Perubahan Iklim Hadirkan Spesies Brolar, Hasil Perkawinan Beruang Cokelat dan Kutub


Diketahui bahwa beruang kutub bertahan hidup dengan diet khusus lemak, dan menggunakan es laut untuk berburu anjing laut yang muncul dari air untuk mencari udara. Republik Sakha, atau Yakutia, adalah rumah bagi populasi beruang kutub Laptev dan Chukchi-Alaska.

Para ahli telah memperingatkan, karena jumlah beruang coklat jauh lebih banyak di utara, mereka dapat memakan beruang kutub secara genetik. Penelitian telah menemukan bahwa menyusutnya habitat kutub juga memaksa spesies untuk kawin sedarah, yang mengurangi kesuburan keturunan, dan menjadi kanibalisme.

Sebuah studi tahun 2020 memperingatkan bahwa sebagian besar populasi beruang kutub berisiko punah pada tahun 2100 karena habitat alami mereka di es laut Arktik berkurang akibat pemanasan global. Mereka juga berisiko dari perburuan liar, termasuk perburuan trofi, dan pencemaran lingkungan.
(wib)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sukhoi Su-47 Fondasi...
Sukhoi Su-47 Fondasi Teknologi Jet Tempur Generasi Berikutnya
Torpedo Super Poseidon,...
Torpedo Super Poseidon, Senjata Pencegah Nuklir Rusia Picu Ketakutan NATO
Berteknologi Canggih,...
Berteknologi Canggih, Kuba Siap Borong Drone Buatan Rusia dan Iran
Jepang Menggunakan Monster...
Jepang Menggunakan Monster Serigala untuk Menghalau Beruang
Palantir Uji Coba AI...
Palantir Uji Coba AI Tempur di Perang Ukraina, Ini Fungsinya
Drone Satpam Presiden...
Drone Satpam Presiden Rusia yang Bikin Israel Mikir Nggak Berani Macam-macam
Ciptakan Krisis Energi...
Ciptakan Krisis Energi di Rusia, Drone Ukraina Serang Krimea dan Kilang Minyak Utama
Partai Pro-Barat Menang...
Partai Pro-Barat Menang Pemilu Armenia, Pukulan Telak bagi Rusia
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia, China dan Rusia Bersaing Ketat
Rekomendasi
Pramono Buka Jakarta...
Pramono Buka Jakarta Fair Kemayoran 2026, Transaksi UMKM Ditarget Capai Rp8 Triliun
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
Kepala BGN Nanik Deyang...
Kepala BGN Nanik Deyang Pastikan Anak Orang Kaya Tak Akan Dapat MBG Lagi
Berita Terkini
Ini Susunan Direksi...
Ini Susunan Direksi dan Komisaris Terbaru Telkomsel 2026
Kuburan Paus Terbesar...
Kuburan Paus Terbesar dalam Sejarah Ditemukan di dasar Samudra Hindia
SpaceX Siap Luncurkan...
SpaceX Siap Luncurkan Pusat Data AI di Orbit Paling Cepat Tahun 2027
Mengenal Siri AI di...
Mengenal Siri AI di WWDC 2026 dan Apa Saja Fitur Barunya?
Iran Temukan Pangkalan...
Iran Temukan Pangkalan Angkatan Laut Berusia 2.000 Tahun di Selat Hormuz
Apa Itu Siri AI Apple...
Apa Itu Siri AI Apple dan Mengapa 1,3 Miliar iPhone Tak Bisa Menjalankannya?
Infografis
AS Kerahkan 15.000 Prajurit...
AS Kerahkan 15.000 Prajurit dan 100 Jet Tempur Amankan Selat Hormuz
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved