Ditemukan di Kalimantan, Kantong Semar ini Berburu Makanan di Bawah Tanah
Kamis, 30 Juni 2022 - 18:00 WIB
loading...
A
A
A
Selain kekurangan pigmentasi hijau normalnya, daun yang menopang kantong dikecilkan menjadi sebagian kecil dari ukuran normalnya. Kantong, yang sangat khas, seringkali juga berwarna kemerahan.
Baca juga : Denda Mobil SUV Nerobos Lampu Lalu Lintas Tembus Rp5,3 Juta
“Menariknya, kami menemukan banyak organisme yang hidup di dalam kantong, termasuk larva nyamuk, nematoda, dan spesies cacing yang juga digambarkan sebagai spesies baru,” jelas Václav ermák dari Universitas Mendel di Brno, Republik Ceko, yang juga bagian dari tim peneliti.
Michal Golos dari Universitas Bristol mengatakan perbedaan diduga terjadi karena kantung semar itu hidup di wilayah yang berbeda dengan kantung semar lainnya. Kantung semar yang berburu di bawah tanah itu ditemukan tumbuh di puncak punggung bukit yang relatif kering pada ketinggian 1.100 meter hingga 1.300 meter di atas permukaan laut. Posisi itulah yang membuat kantung semar itu erevolusi untuk memindahkan perangkapnya ke bawah tanah.
“Kami berhipotesis bahwa rongga bawah tanah memiliki kondisi lingkungan yang lebih stabil, termasuk kelembaban, dan mungkin juga ada lebih banyak mangsa potensial selama periode kering,” ujar Michal Golos.
Baca juga : Denda Mobil SUV Nerobos Lampu Lalu Lintas Tembus Rp5,3 Juta
“Menariknya, kami menemukan banyak organisme yang hidup di dalam kantong, termasuk larva nyamuk, nematoda, dan spesies cacing yang juga digambarkan sebagai spesies baru,” jelas Václav ermák dari Universitas Mendel di Brno, Republik Ceko, yang juga bagian dari tim peneliti.
Michal Golos dari Universitas Bristol mengatakan perbedaan diduga terjadi karena kantung semar itu hidup di wilayah yang berbeda dengan kantung semar lainnya. Kantung semar yang berburu di bawah tanah itu ditemukan tumbuh di puncak punggung bukit yang relatif kering pada ketinggian 1.100 meter hingga 1.300 meter di atas permukaan laut. Posisi itulah yang membuat kantung semar itu erevolusi untuk memindahkan perangkapnya ke bawah tanah.
“Kami berhipotesis bahwa rongga bawah tanah memiliki kondisi lingkungan yang lebih stabil, termasuk kelembaban, dan mungkin juga ada lebih banyak mangsa potensial selama periode kering,” ujar Michal Golos.
(wsb)
Lihat Juga :