Anousheh Ansari Wanita Muslim Pertama yang Terbang ke Luar Angkasa

Rabu, 05 Januari 2022 - 06:02 WIB
loading...
Anousheh Ansari Wanita...
Anousheh Ansari menjadi wanita muslim pertama yang meluncur ke luar angkasa. Foto/dok
A A A
JAKARTA - Kegagalan Daisuke Enomoto, miliarder Jepang, yang gagal berangkat ke antariksa karena masalah kesehatan pada 18 September 2006 membuat Anousheh Ansari menjadi wanita muslim pertama yang meluncur ke luar angkasa.

Wanita asal Iran yang lahir pada 12 September 1966 ini akhirnya terbang menggunakan Soyuz TMA-9 dan mengorbit selama 6 bulan di antariksa sebelum akhirnya mendarat mulus di Kazakhtan.

Bagi Ansari perjalanan ke luar angkasa merupakan perjalanan berharga baginya, sebab ia bukanlah seorang astronot dan peluangnya sebagai kru pesawat tidaklah mudah, lantaran dirinya hanya sebagai cadangan hanya karena ikut dalam pelatihan selama enam bulan sebelum pergi.



"Saya mendapatkan pelatihan yang sama seperti yang diterima para astronot. Tapi, latihan saya dalam tingkat 'pengguna', sementara mereka menjalani latihan sekitar dua tahun dengan lebih mendalam di tingkat perbaikan sistem. Namun, saya tetap mengambil peran aktif sebagai kru," kenang Ansari.

Meski demikian, ia tersanjung saat dirinya bisa menyaksikan bumi yang begitu indah dari antariksa. Baginya kemulusan berangkat dan selamatnya saat turun ke Bumi merupakan keberuntungan. Perjalanan itu menjadikannya sebagai pengalaman yang berharga.

BACA: Jeff Bezos Berhasil ke Luar Angkasa dan Catatkan Rekor Baru

"Sulit untuk menaruh harga pada mimpimu. Saya siap mempertaruhkan nyawa saya untuk mimpi ini. Pengalaman dan kepuasan yang Anda dapatkan dari mengetahui bahwa Anda telah mampu mewujudkan impian masa kecil Anda melalui banyak kerja keras, ketekunan, dan pengorbanan membuat semuanya berharga, dan juga berbulan-bulan yang dihabiskan dalam persiapan, sama berharganya," kenang Ansari.

Imigran Miskin

Sekalipun saat ini Ansari merupakan pebisnis yang memiliki harta melimpah hingga miliaran, namun keluarga Ansari merupakan seorang imigran Iran yang menetap di Prancis.

Privilege yang didapat darinya tak lepas dari kerja keras ayahnya yang seorang pekerja keras dan nekat merantau ke Eropa saat dirinya masih kecil.

Kala itu, kata Ansari, keluarganya menjadi satu dari sekian banyak masyarakat Iran yang diasingkan lantaran sikap moyangnya yang kerap menghina pemimpin Iran kala itu, Shah Pahlavi. Kondisi ini mengakibatkan harta kekayaannya hilang.

Bahkan saat Ansari lahir, ayahnya hanya pekerja percetakan yang bergaji kecil. Karena itulah ia memindahkan keluarga di Teheran dan menempati apartement kecil bersama dengan Kakek Nenek dan pamannya.

BACA JUGA: Cek Spek Ponsel Anda, 3 Chip Ini Dikabarkan Bisa Sebabkan Overheating

Setelah adiknya lahir, keluarga itupun berencana merantau ke Amerika dan menjual sebagian hartanya sebagai modal merantau ke Amerika dan membeli banyak permadani dan kerajinan tangan, namun ditolak pihak Imigrasi.

Tidur di Balkon

Gagal pindah, Ansari kemudian kembali ke Iran. Mereka kemudian harus tidur berdesak desakan dalam flat yang sempit. Bahkan saat malam hari, Ansari terpaksa tidur di Balkon bersama kakek neneknya. Disanalah ketertarikannya terhadap antariksa muncul.

"Saya akan berbaring di atas dipan saya dan melihat ke langit, berpura-pura berada di luar angkasa ," kata Ansari dikutip dari laman resmi The Horatio Alger Association.

Anousheh Ansari Wanita Muslim Pertama yang Terbang ke Luar Angkasa


Bersekolah di sekolah Katolik Prancis. Ansari mampu mengusai berbagai bahasa, mulai dari Prancis, Inggris, Persia, hingga Arab.

Kemiskinan mulai terjadi saat konflik Iran-Irak pecah. Kala itu pemadaman listrik, kekurangan makanan menjadi hal yang kerap terjadi bagi keluarga besar itu. Terlebih kodrat terlahir sebagai wanita menjadikan dirinya terkucilkan.

BACA JUGA: Sekdes di Pati Borong Mobil Mewah untuk Ultah Anaknya, Intip Harga dan Spesifikasinya

"Saya bertanya-tanya bagaimana itu mungkin. Iran yang baru tidak mentolerir mimpi seperti itu dari seorang wanita. Saya menyadari bahwa saya menghadapi kehidupan di balik tembok," cerita Ansari.

Namun sikap pesimitis itu memudar seiring Neneknya yang terus menyemangatinya. Hingga di umurnya 17 tahun, si ayah kembali memproses imigrasinya ke AS dan lolos. Keluarga Ansari akhirnya pindah ke Amerika.

Di-bully Karena Aksen

Tinggal di pinggiran kota Washington DC, Ansari sempat menolak untuk sekolah lantaran teman temannya mengolok-olok aksennya dan tak mau berteman. Sekalipun demikian, namun Ansari mampu berprestasi dibidang akademiki dan masuk di Universitas George Mason (GMU).

Setelah lulus ia bekerja di MCI Telecommunications dan kembali melanjutkan gelar magisternya di bidang teknik elektro.

Setelah menikah dengan sesama imigran Iran, Hamid Ansari di tahun 1991. Mereka kemudian bersama saudara suaminya mendirikan perusahaan teknologi Telecom Technologies, Inc yang kemudian di akusisi Sonus Networks, Inc tahun 2000.

BACA JUGA: Mengungkap Jejak Setan Usai Gunung Berapi di Italia Meletus

Terlibat Antariksa

Keterlibatannya dalam antariksa dimulai pada tahun 2004 perusahaan pengembangan kedirgantaraan Scaled Composites of Mojave, California, memenangkan Hadiah Ansari dengan SpaceShipOne, sebuah kendaraan yang disusun oleh desainer pesawat Amerika Burt Rutan. Ansari pun berpartisipasi dalam penerbangan luar angkasa melalui Space Adventures, Ltd., sebuah perusahaan pariwisata ruang angkasa.

Di 2006, Ansari sukses merapat ke Stasiun Luar Angkasa Internasional, ia menghabiskan delapan hari. Dia melakukan serangkaian percobaan tentang fisiologi manusia untuk Badan Antariksa Eropa, diwawancarai dari ruang untuk acara astronomi di televisi nasional Iran. Dia kembali ke Bumi dengan Soyuz TMA-8, mendarat di Kazakhstan pada 29 September 2006.

Setelah menyelesaikan misi luar angkasanya, Ansari terus bekerja sebagai pengusaha dan wirausaha. Pada tahun 2006 ia mendirikan Prodea Systems, sebuah perusahaan teknologi digital, dan menjabat sebagai chief executive officer pertama perusahaan.
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
SpaceX Siap Luncurkan...
SpaceX Siap Luncurkan Pusat Data AI di Orbit Paling Cepat Tahun 2027
Korea Selatan Kembangkan...
Korea Selatan Kembangkan Teknologi Mesin Metana untuk Roket Luar Angkasa
China Melakukan Penelitian...
China Melakukan Penelitian Reproduksi Manusia di Luar Angkasa
Apakah Kehidupan di...
Apakah Kehidupan di Planet Mirip Bumi K2-18b Memang Ada?
15.800 Ton Sampah Luar...
15.800 Ton Sampah Luar Angkasa Berkecepatan 28.000 km/jam Akan Jatuh ke Bumi
NASA Umumkan Akan Bangun...
NASA Umumkan Akan Bangun Kota di Bulan dalam Waktu 6 Tahun
Profil Pratiwi Sudarmono:...
Profil Pratiwi Sudarmono: Astronot Wanita Pertama Asia dari Indonesia yang Juga Guru Besar UI
Profil Pendidikan 4...
Profil Pendidikan 4 Astronot Artemis II: Misi Bersejarah NASA Kelilingi Bulan Setelah 54 Tahun
Sahabat Miliarder Elon...
Sahabat Miliarder Elon Musk Mengambil Alih NASA, Janjikan Ini
Rekomendasi
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
Jelang 1 Muharram, Ulama...
Jelang 1 Muharram, Ulama Anjurkan Minum Susu Putih Sebelum Subuh, Ini Alasannya
PBNU Gelar Munas dan...
PBNU Gelar Munas dan Konbes di Ploso Kediri pada 20-23 Juni 2026, Presiden Prabowo Diundang
Berita Terkini
Huawei, Oppo, vivo,...
Huawei, Oppo, vivo, Xiaomi, dan Honor Dituduh Contek Teknologi iPhone
Untuk Pertama Kalinya...
Untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah, Vaksin Buatan AI Diuji pada Manusia
Superkomputer Prediksi...
Superkomputer Prediksi 4 Pesepak Bola yang Bersinar di Piala Dunia 2026
Fenomena Titik Dingin...
Fenomena Titik Dingin Atlantik Utara Terdeteksi, Tanda-tanda Bumi Sekarat Kian Nyata
Eropa Wajibkan Pelabelan...
Eropa Wajibkan Pelabelan Konten yang Dihasilkan AI
Adu Otak Bukan Otot:...
Adu Otak Bukan Otot: Lus Figo dan Ambisi Baru Game Mobile di Indonesia
Infografis
32 Negara yang Sudah...
32 Negara yang Sudah Lolos ke Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved