Untuk Kedua Kali La Nina Kembali pada Musim Dingin Tahun Ini, Apa Dampaknya di Indonesia?
Senin, 13 Desember 2021 - 07:43 WIB
loading...
A
A
A
Pada globe yang terekam satelit, warna biru menunjukkan suhu permukaan laut yang lebih rendah dari rata-rata; warna putih menunjukkan kondisi permukaan laut normal; dan warna merah menunjukkan kondisi permukaan laut lebih tinggi dari biasanya. (Baca juga; BMKG Tegaskan La Nina Bukan Badai, Ini Penjelasannya )
“La Nina dengan kekuatan sedang ini dapat dilihat pada data Sentinel-6 sebagai area dengan permukaan laut yang suhunya lebih rendah dari normal di sepanjang dan di bawah Khatulistiwa, Pasifik tengah dan timur,” kata Josh Willis, ilmuwan iklim dan ahli kelautan di JPL dikutip SINDOnews dari laman earthobservatory.nasa, Senin (13/12/2021).
![Untuk Kedua Kali La Nina Kembali pada Musim Dingin Tahun Ini, Apa Dampaknya di Indonesia?]()
Ketika terjadi fenomena La Nina, Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan hingga di bawah suhu normal. Pendinginan ini berpotensi mengurangi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah.
Selain itu, angin pasat (trade winds) berembus lebih kuat dari biasanya di sepanjang Samudera Pasifik dari Amerika Selatan ke Indonesia. Kondisi ini menyebabkan massa air hangat terbawa ke arah Pasifik Barat.
Karena massa air hangat berpindah tempat, maka air yang lebih dingin di bawah laut Pasifik akan naik ke permukaan untuk mengganti massa air hangat yang berpindah tadi. Kondisi ini disebut upwelling dan membuat SML turun. Kondisi ini mengakibatkan curah hujan di wilayah Indonesia makin tinggi, serta membuat musim hujan terjadi lebih lama.
“La Nina dengan kekuatan sedang ini dapat dilihat pada data Sentinel-6 sebagai area dengan permukaan laut yang suhunya lebih rendah dari normal di sepanjang dan di bawah Khatulistiwa, Pasifik tengah dan timur,” kata Josh Willis, ilmuwan iklim dan ahli kelautan di JPL dikutip SINDOnews dari laman earthobservatory.nasa, Senin (13/12/2021).

Ketika terjadi fenomena La Nina, Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan hingga di bawah suhu normal. Pendinginan ini berpotensi mengurangi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah.
Selain itu, angin pasat (trade winds) berembus lebih kuat dari biasanya di sepanjang Samudera Pasifik dari Amerika Selatan ke Indonesia. Kondisi ini menyebabkan massa air hangat terbawa ke arah Pasifik Barat.
Karena massa air hangat berpindah tempat, maka air yang lebih dingin di bawah laut Pasifik akan naik ke permukaan untuk mengganti massa air hangat yang berpindah tadi. Kondisi ini disebut upwelling dan membuat SML turun. Kondisi ini mengakibatkan curah hujan di wilayah Indonesia makin tinggi, serta membuat musim hujan terjadi lebih lama.
(wib)
Lihat Juga :