Kecanggihan Mitsubishi di Tampomas II Jadi Neraka di Laut Jawa
Selasa, 12 Oktober 2021 - 20:05 WIB
loading...
A
A
A
Kapal ini berjenis Roll on Roll off dengan tipe Screw dan berbobot mati 2419690 dwt. Kapal ini sempat dimodifikasi ulang pada 1971 sehingga bisa dipacu pada kecepatan 19,5 knot.
Memorandum of Agreement (Moa) pembelian kapal tercatat pada 23 Februari 1980 dengan Junus Effendi Habibie alias Fanny Habibie, adik B.J. Habibie, bertindak sebagai Ketua Steering Committe (SC) pembeliannya. Tapi ia menampik bertanggung jawab soal spesifikasi kapal.
Kapal Tampomas II bertolak pada Sabtu, 24 Januari 1981, pukul 19.00 WIB dari Dari Tanjung Priok, Jakarta. Di atas kapal terdapat 191 mobil, 200 sepeda motor, dan diperkirakan 1.442 orang. Dari jumlah itu, yang tercatat secara resmi sebanyak 1.054 orang. Sisanya adalah penumpang gelap.
Kapal rusak, minggu malam 25 Januari 1981 pukul 20.00 WITA karena kebocoran bahan bakar. Api menyambar dan kru mesin mati-matian memadamkannya dengan alat pemadam portabel.
Usaha pemadaman menemui jalan buntu saat air untuk memadamkan api tak bisa disemprotkan karena generator mati. Api menjalar ke ruang tempat disimpannya mobil dan sepeda motor yang berbahan bakar.
Kapten Abdul Rivai, sang nahkoda, mencoba mendamparkan kapalnya ke pulau terdekat. Namun gagal karena baling-balingnya tak bisa berputar.
Radio mati dan pesan ke kapal lain atau syahbandar pelabuhan tak bisa dikirim. Isyarat cahaya yang dilontarkan ke udara juga tak menyala.
Memorandum of Agreement (Moa) pembelian kapal tercatat pada 23 Februari 1980 dengan Junus Effendi Habibie alias Fanny Habibie, adik B.J. Habibie, bertindak sebagai Ketua Steering Committe (SC) pembeliannya. Tapi ia menampik bertanggung jawab soal spesifikasi kapal.
Kapal Tampomas II bertolak pada Sabtu, 24 Januari 1981, pukul 19.00 WIB dari Dari Tanjung Priok, Jakarta. Di atas kapal terdapat 191 mobil, 200 sepeda motor, dan diperkirakan 1.442 orang. Dari jumlah itu, yang tercatat secara resmi sebanyak 1.054 orang. Sisanya adalah penumpang gelap.
Kapal rusak, minggu malam 25 Januari 1981 pukul 20.00 WITA karena kebocoran bahan bakar. Api menyambar dan kru mesin mati-matian memadamkannya dengan alat pemadam portabel.
Usaha pemadaman menemui jalan buntu saat air untuk memadamkan api tak bisa disemprotkan karena generator mati. Api menjalar ke ruang tempat disimpannya mobil dan sepeda motor yang berbahan bakar.
Kapten Abdul Rivai, sang nahkoda, mencoba mendamparkan kapalnya ke pulau terdekat. Namun gagal karena baling-balingnya tak bisa berputar.
Radio mati dan pesan ke kapal lain atau syahbandar pelabuhan tak bisa dikirim. Isyarat cahaya yang dilontarkan ke udara juga tak menyala.
Lihat Juga :