Asal-Usul Vaksin dari China, Eropa hingga Yunani punya Cerita Sendiri
Minggu, 18 Juli 2021 - 08:02 WIB
loading...
A
A
A
Pada abad 18, hampir setengah juta orang di Eropa dan negara lainnya meninggal dunia akibat cacar (smallpox). Awalnya Jenner mengamati tetangganya Sarah yang memiliki tanda cacar sapi di tangan dan lengannya. Ia bertanya kepada gadis tersebut tentang cacar sapi yang diidapnya. Gadis tersebut menyebutkan tidak akan tertular cacar karena ia pernah mengidap cacar sapi. Dengan penjelasan tersebut Jenner pun yakin cacar sapi dapat melindungi manusia dari cacar alami yang mematikan.
Lalu, tahun 1796 Jenner dan James Phipps melakukan eksperimen dengan menguji teorinya. Ia menguji seseorang yang menderita penyakit ringan cacar sapi tetapi tak pernah tertular cacar, salah satu pembunuh terbesar pada masa itu, terutama di antara anak-anak. Jenner menyuntikan cairan dan lepuhan cacar sapi seorang anak laki-laki pemerah susu di Inggris. Lepuhan muncul di tempat olesan tersebut, dan berhasil menyembuhkan anak tersebut. Inilah yang kemudian menjadi vaksin pertama di dunia. Lalu, Jenner mencoba berulang kali untuk anak-anak yang terkena cacar, nyatanya mereka tak kembali sakit.
Jenner membuat temuan barunya dengan variolasi menggunakan bahan dari cacar sapi. Bahan itulah yang sangat efektif untuk mematikan penularan terhadap cacar manusia. Variolasi berbeda dengan cacar alami yang masih lebih baik dilakukan dibanding tak sama sekali pada saat itu. Penerima variolasi masih mungkin menyebarkan cacarnya kepada orang lain. Selain itu, variolasi menyebabkan penularan penyakit lain, seperti sifilis.
Kemudian, di tahun 1797, Jenner menyerahkan hasil eksperimennya ke Royal Society. Sayangnya, hasil eksperimennya ditolak. Karena idenya terlalu revolusioner dan membutuhkan lebih banyak bukti. Setelah ia bereksperimen pada beberapa anak-anak lainnya, termasuk putranya sendiri yang berusia 11 bulan. Pada tahun 1798, akhirnya ia mempublikasikan hasil temuannya sendiri dengan buklet kecil dan Jenner menciptakan kata vaksin dari bahasa Latin sapi (vacca) serta cacar sapi (vacinia). Sejak saat itulah, istilah vaksin dikenal sebagai suspensi berisi mikoorganisme yang telah dilemahkan. Fungsinya untuk kekebalan pada tubuh manusia dan mencegah terinfeksinya dari penyakit berbahaya.
Setelah itu, Jenner pergi ke London untuk mencari sukarelawan vaksinasi, tetapi hingga tiga bulan ia belum menemukannya juga. Seorang ahli bedah Henry Cline, yang akhirnya mau jadi sukarelawan dan ia diberikan inokulan oleh Jenner.
Lalu, tahun 1796 Jenner dan James Phipps melakukan eksperimen dengan menguji teorinya. Ia menguji seseorang yang menderita penyakit ringan cacar sapi tetapi tak pernah tertular cacar, salah satu pembunuh terbesar pada masa itu, terutama di antara anak-anak. Jenner menyuntikan cairan dan lepuhan cacar sapi seorang anak laki-laki pemerah susu di Inggris. Lepuhan muncul di tempat olesan tersebut, dan berhasil menyembuhkan anak tersebut. Inilah yang kemudian menjadi vaksin pertama di dunia. Lalu, Jenner mencoba berulang kali untuk anak-anak yang terkena cacar, nyatanya mereka tak kembali sakit.
Jenner membuat temuan barunya dengan variolasi menggunakan bahan dari cacar sapi. Bahan itulah yang sangat efektif untuk mematikan penularan terhadap cacar manusia. Variolasi berbeda dengan cacar alami yang masih lebih baik dilakukan dibanding tak sama sekali pada saat itu. Penerima variolasi masih mungkin menyebarkan cacarnya kepada orang lain. Selain itu, variolasi menyebabkan penularan penyakit lain, seperti sifilis.
Kemudian, di tahun 1797, Jenner menyerahkan hasil eksperimennya ke Royal Society. Sayangnya, hasil eksperimennya ditolak. Karena idenya terlalu revolusioner dan membutuhkan lebih banyak bukti. Setelah ia bereksperimen pada beberapa anak-anak lainnya, termasuk putranya sendiri yang berusia 11 bulan. Pada tahun 1798, akhirnya ia mempublikasikan hasil temuannya sendiri dengan buklet kecil dan Jenner menciptakan kata vaksin dari bahasa Latin sapi (vacca) serta cacar sapi (vacinia). Sejak saat itulah, istilah vaksin dikenal sebagai suspensi berisi mikoorganisme yang telah dilemahkan. Fungsinya untuk kekebalan pada tubuh manusia dan mencegah terinfeksinya dari penyakit berbahaya.
Setelah itu, Jenner pergi ke London untuk mencari sukarelawan vaksinasi, tetapi hingga tiga bulan ia belum menemukannya juga. Seorang ahli bedah Henry Cline, yang akhirnya mau jadi sukarelawan dan ia diberikan inokulan oleh Jenner.
(wbs)
Lihat Juga :