Dinilai Monopoli, Google Digugat Pemerintah AS

Kamis, 22 Oktober 2020 - 10:15 WIB
loading...
A A A
Google menyebut gugatan itu “sangat cacat”. Mereka menyatakan tetap menjaga sektor industri internet tetap kompetitif dan tetap mengutamakan pelanggan. Google berkilah kalau masyarakat menggunakan Google karena mereka memilihnya, bukan karena mereka dipaksa atau karena tidak menemukan alternatif. “Gugatan Departemen Kehakiman sangat cacat,” kata Kepala Legal dan Hubungan Global Google Kent Walker dalam unggah di blognya.

Google menyatakan, gugatan Departemen Kehakiman AS itu bergantung pada argumen monopoli yang lemah dan tidak akan membantu para pelanggan. “Hal yang kontras, itu akan meningkatkan mesin pencarian alternatif yang lebih rendah kualitasnya, meningkatkan harga ponsel dan membuat orang sulit mencari layanan yang mereka inginkan,” kata Walker. (Baca juga: Wacana kominfo Blokir Medsos Dinilai Rawan Berangus Pendapat Publik)

Google menyatakan, praktik yang dilakukannya untuk membayar pemasangan mesin pencari pada ponsel seperti Apple tidak ada bedanya dengan langkah yang dilakukan perusahaan lain mempromosikan produknya. “Itu sama seperti brand sereal yang membayar supermarket untuk menyimpan produknya di rak yang mudah dilihat konsumen,” tutur Walker.

Pemimpin Alphabet, perusahaan induk Google, Sundar Pichai, pernah memberikan jawaban mengenai kekhawatiran tersebut pada 2018 di Washington. Pada Juli lalu Pichai juga kembali memberikan jawaban kepada Kongres. “Kita melakukan standar yang tinggi (dalam pekerjaan),” kata Pichai.

Di sisi lain, bahkan sejumlah investor tidak terpengaruh berita gugatan tersebut. Buktinya, saham Alphabet justru naik 1,9% menjadi USD1.563,51 pada Selasa lalu. (Lihat videonya: Diduga Depresi, Anggota Polisi Tewas Tembak Dada Sendiri)

Neil Campling, kepala media teknologi dan penelitian telekomunikasi di Mirabaud Securities di London, menyindir pemerintah AS seolah lupa jasa-jasa Google yang telah menginvestasikan miliaran dolar dalam infrastruktur, teknologi, dan bakat. "Ini seperti pepatah mengunci pintu setelah kudanya melesat. Anda tidak bisa begitu saja melepas satu dekade kemajuan yang signifikan," kata Neil.

Pandangan berbeda diungkapkan Sally Hubbard, yang bekerja untuk Open Markets Institute, think tank Washington yang kerap melakukan tindakan agresif terhadap perusahaan teknologi raksasa. (Andika H Mustaqim)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Berencana Pasang...
AS Berencana Pasang Senjata Nuklir untuk Pesawat Pembom B-1B Lancer
Donald Trump Minta Pentagon...
Donald Trump Minta Pentagon Buka Semua Data Soal UFO dan Alien
Alasan AS Hidupkan Kembali...
Alasan AS Hidupkan Kembali Pesawat Pembom Supersonik B-1B Lancer
Kelemahan MQ-9 Reaper...
Kelemahan MQ-9 Reaper AS oleh Sistem Pertahanan Udara Iran Dibeberkan
OpenAI dan NVIDIA Mengadopsi...
OpenAI dan NVIDIA Mengadopsi Teknologi Watermark AI Google
Google Merombak Bilah...
Google Merombak Bilah Pencariannya setelah 25 Tahun Diperkenalkan
AS Batal Kirim Rudal...
AS Batal Kirim Rudal Tomahawk ke Jerman Diduga Khawatir dengan Pembalasan Rusia
Raja Langit Sesungguhnya:...
Raja Langit Sesungguhnya: 5 Helikopter Tempur Paling Mematikan Berdasarkan Rekam Jejak Perang
Pemimpin Tertinggi Iran...
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Peringatkan Perpecahan setelah Kekalahan Musuh di Medan Perang
Rekomendasi
Iraola Resmi Jadi Pelatih...
Iraola Resmi Jadi Pelatih Anyar Liverpool
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
Berita Terkini
Nvidia RTX Spark: Superkomputer...
Nvidia RTX Spark: Superkomputer Kemasan Sachet, Bikin Intel dan AMD Keringat Dingin
Korea Selatan Kembangkan...
Korea Selatan Kembangkan Teknologi Mesin Metana untuk Roket Luar Angkasa
Meta Luncurkan Agen...
Meta Luncurkan Agen Bisnis di WhatsApp, Instagram, dan Messenger
Heboh Grab Dikabarkan...
Heboh Grab Dikabarkan Kabur Gara-Gara Aturan Baru, CEO Neneng Buka Suara
Ambisi Gila IPO SpaceX:...
Ambisi Gila IPO SpaceX: Kejar Rp1.350 Triliun dalam Semalam
Mengapa Indonesia Mendadak...
Mengapa Indonesia Mendadak Jadi Kiblat Baru ChatGPT Images 2.0?
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved