Venus Terdeteksi Sedang Merobek Dirinya Sendiri dari Dalam

Minggu, 26 Juli 2026 - 13:35 WIB
loading...
Venus Terdeteksi Sedang...
Venus Terdeteksi Sedang Merobek Dirinya. Foto / Daily
A A A
NEW YORK - Model 3D baru yang dibuat oleh para ilmuwan menunjukkan bahwa banyak lembah patahan di Venus mungkin masih terus meluas, yang mengindikasikan bahwa planet ini tidak "mati" secara geologis seperti yang diyakini sebelumnya.

Venus selalu dikenal sebagai salah satu dunia paling keras di Tata Surya, dengan suhu permukaan mencapai ratusan derajat Celcius dan tanpa adanya lautan sama sekali.

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan percaya bahwa planet tetangga Bumi ini secara geologis "mati." Namun, sebuah studi baru menunjukkan bahwa Venus masih "hidup," dan bahkan mungkin sedang mengalami keretakan dari dalam melalui lembah patahan yang besar.

Indikasi terkuat aktivitas tektonik di Venus adalah lembah-lembah patahan, dengan pita retakan yang dapat membentang hingga 10.000 km.

Sebelumnya, banyak ahli geologi percaya bahwa struktur ini terbentuk lebih dari 100 juta tahun yang lalu dan hanyalah peninggalan kuno yang "membeku" di permukaan. Namun, sebuah studi baru dari Institut Teknologi FederalSwiss (ETH), yang diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience, menawarkan perspektif yang sama sekali berbeda.

Dengan menggunakan model komputer canggih, tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Taras Gerya menunjukkan bahwa beberapa lembah patahan di Venus mungkin jauh lebih muda daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Berkat pembuatan model 3D beresolusi tinggi pertama dari patahan di Venus, para peneliti telah memperoleh pandangan yang lebih realistis tentang bagaimana kerak planet tersebut meregang, bergeser, dan berubah seiring waktu.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa patahan-patahan ini mungkin meluas jauh lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya, dengan laju 3 hingga 10 sentimeter per tahun.
.

Selain itu, model tersebut menunjukkan bahwa ketika sesar secara geologis masih muda atau masih bergerak, punggungan yang terangkat (disebut lereng sesar) muncul di sepanjang kedua sisi lembah. Secara khusus, ketika pergerakan tektonik berhenti, punggungan ini dengan cepat ambles dan menjadi rata.

Proses ini sama sekali berbeda dari Bumi. Di planet kita, pegunungan sebagian besar diratakan oleh erosi bertahap dari unsur-unsur lingkungan. Sementara itu, di Venus, lereng patahan tenggelam karena kerak bumi perlahan "melorot" dan mengendur setelah periode ketegangan.

Yang menarik, lereng patahan yang lebar dan tinggi yang diprediksi oleh model tersebut sangat sesuai dengan gambar aktual yang diambil oleh wahana Magellan NASA pada tahun 1990-an.

Kesamaan ini semakin memperkuat hipotesis bahwa beberapa patahan tersebut baru terbentuk belakangan ini. Menggabungkan hasil simulasi dengan data observasi dari wahana antariksa telah menghasilkan kesimpulan bahwa struktur internal Venus lebih dinamis dan aktif daripada yang diasumsikan sebelumnya.

Profesor Gerya menyatakan: "Hasil ini membantu kita menilai aktivitas tektonik di Venus dengan lebih baik."

Penemuan ini tidak hanya memperluas pemahaman kita tentang bagaimana planet berbatu berevolusi, tetapi juga berfungsi sebagai peta navigasi yang penting.

Model baru ini akan membantu para ilmuwan menentukan area di mana aktivitas geologi mungkin masih terjadi, sehingga menjadikannya target prioritas untuk misi eksplorasi di masa mendatang.


Saat ini, minat ilmiah terhadap planet ini semakin meningkat seiring dengan persiapan NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA) untuk serangkaian misi baru.


Salah satu contoh utamanya adalah misi EnVision milik ESA, yang dijadwalkan diluncurkan pada awal tahun 2030-an, yang menjanjikan studi yang sangat detail tentang Venus, mulai dari inti planet hingga atmosfer atasnya.
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengancam Bumi, China...
Mengancam Bumi, China Siap Pindahkan Asteroid 2015 XF261
Bandar Antariksa di...
Bandar Antariksa di Biak: Kenapa Papua Jadi Pilihan BRIN untuk Peluncuran Satelit?
Ilmuwan Klaim Berhasil...
Ilmuwan Klaim Berhasil Menghitung Waktu Akhir Kehidupan Bumi
Mengapa Orbit Bumi Berputar...
Mengapa Orbit Bumi Berputar Tak Terkendali? Ternyata Ini Penyebabnya
Suhu Matahari Bertambah...
Suhu Matahari Bertambah Panas, Ilmuwan Prediksi Kehidupan di Bumi Segera Berakhir
NASA Temukan Sesuatu...
NASA Temukan Sesuatu yang Misterius saat Perubahan Waktu Siang ke Malam
Kiamat Militer AS di...
Kiamat Militer AS di Timur Tengah? Iran Hancurkan 16 Pangkalan AS
Prabowo Bakal Kirim...
Prabowo Bakal Kirim Putra-Putri Terbaik Ikut Program Kosmonot Rusia
RDPU terkait Kasus Amsal...
RDPU terkait Kasus Amsal Sitepu, Lola Nelria: Sampai Kiamat, Komisi III DPR Akan Bela Masyarakat
Rekomendasi
DPR Usul Kemenhaj Bentuk...
DPR Usul Kemenhaj Bentuk BLU untuk Kelola Asrama Haji
Kemarau Meluas, BNPB...
Kemarau Meluas, BNPB Catat Karhutla Melanda 4 Daerah di Jawa Timur
Jaksa Agung Minta Maaf...
Jaksa Agung Minta Maaf ke Publik, Sebut Kasus Eks Jampidus Jadi Momentum Berbenah
Berita Terkini
Korsel Terjunkan Robot...
Korsel Terjunkan Robot PiBot untuk Kemudikan Kapal Perang
Venus Terdeteksi Sedang...
Venus Terdeteksi Sedang Merobek Dirinya Sendiri dari Dalam
Instagram Menguji Fitur...
Instagram Menguji Fitur Pengeditan Stories Tanpa Menghapus Postingan
Beli Samsung Galaxy...
Beli Samsung Galaxy Foldable 8 Lebih Hemat! Nikmati Promo Spesial Kartu Kredit BRI
Elon Musk Minta Tak...
Elon Musk Minta Tak Perlu Takut dengan AI, Nikmati Saja
Biznet Gio dan IMV Hadirkan...
Biznet Gio dan IMV Hadirkan Solusi Hybrid Cloud, Dukung Transformasi Smart Manufacturing
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved