Ilmuwan Temukan Pemangsa Jamur Zombie Cordyceps The Last of Us di Hutan Kalimantan
Senin, 22 Juni 2026 - 09:15 WIB
loading...
?Di atas zombie masih ada hyperparasit: penemuan mengerikan di hutan Sabah, Borneo. Foto: ist
A
A
A
BORNEO - Di atas langit masih ada langit. Di hutan Borneo, di atas parasit masih ada parasit.
Hukum alam bekerja dengan cara yang misterius. Kadang mengerikan. Anda tentu pernah mendengar tentang "jamur zombie" seperti yang digambarkan di game The Last of Us.
Nama ilmiahnya Ophiocordyceps. Jamur ini menyerang semut. Mengambil alih sistem sarafnya. Membuat semut bertingkah gila, lalu membunuhnya. Jamur itu lantas tumbuh meledak keluar dari bangkai sang semut.
Rupanya, siklus pembunuhan itu belum selesai.
Ilmuwan Malaysia baru saja menemukan "pembunuh sang pembunuh". Sebuah spesies jamur parasit baru. Ditemukan di belantara Sabah, Borneo. Tepatnya di Lembah Danum. Sebuah kawasan hutan terpencil di bagian selatan Sabah.
Penemunya: tim dari Institut Biologi Tropis dan Konservasi, Universitas Malaysia Sabah (UMS). Mereka menemukannya setelah berkali-kali melakukan ekspedisi lapangan.
Tanggal 19 Juni 2026 lalu, temuan ini diumumkan ke dunia.
Spesies baru itu diberi nama Pleurocordyceps cornusynnemata. Namanya panjang. Memang sulit diucapkan. Namun secara fisik, bentuknya sangat unik. Menyerupai tanduk. Itulah asal muasal penamaan tersebut.
Jamur ini bukan parasit biasa. Ia masuk ke dalam kelas "hyperparasit". Artinya: parasit tingkat tinggi yang memangsa parasit lain. Target utamanya justru si jamur zombie Ophiocordyceps tadi.
"Ia secara efektif memparasit patogen utamanya," ujar Jaya Seelan Sathiya Seelan, Wakil Direktur Institut UMS. "Jamur ini masuk dalam genus Pleurocordyceps dan bertindak sebagai hyperparasit khusus."
Cara kerjanya cerdik. Dan efisien. Pleurocordyceps tidak perlu repot memanipulasi sistem saraf semut dari awal. Ia biarkan si jamur zombie bekerja mematikan sang inang. Setelah Ophiocordyceps tumbuh subur di dalam bangkai semut, barulah Pleurocordyceps mengambil alih.
"Alih-alih memanipulasi sistem saraf serangga itu sendiri, Pleurocordyceps menyusup dan memakan langsung jaringan Ophiocordyceps yang sedang berkembang subur di dalam inang," jelas Seelan.
Ibarat merampas hasil rampokan orang lain. Tuntas.
Dari sisi analisis sains dan "pasar" bioteknologi, penemuan ini punya potensi yang sangat mahal. Jamur parasit sering kali menjadi tambang emas untuk senyawa bioaktif.
Industri farmakologi dunia selalu memburu temuan seperti ini untuk diracik menjadi obat-obatan atau antibiotik baru.
Bila jamur pertama bisa menaklukkan saraf secara instan, dan jamur kedua bisa melumpuhkan si penakluk pertama, maka terjadi "perang senjata kimia" alami di sana.
Ada senyawa pertahanan tingkat tinggi yang terlibat. Hutan tropis Borneo sekali lagi membuktikan statusnya: sebuah laboratorium alam tak ternilai yang menyimpan rahasia kehidupan dan kematian.
2. Kategori Biologis: Termasuk spesies "Hyperparasit", yaitu organisme parasit yang inangnya adalah parasit lain.
3. Mekanisme Bertahan: Tidak membunuh semut secara langsung, melainkan menyusup dan memakan jaringan Ophiocordyceps (jamur zombie) yang hidup di tubuh semut.
4. Lokasi Penemuan: Ditemukan di dalam hutan Lembah Danum, sebuah area konservasi yang sangat terpencil di Sabah bagian selatan, Borneo.
5. Tim Peneliti: Penemuan ini dipublikasikan pada 19 Juni 2026 oleh tim dari Institut Biologi Tropis dan Konservasi, Universitas Malaysia Sabah (UMS) yang dipimpin oleh Jaya Seelan Sathiya Seelan.
Hukum alam bekerja dengan cara yang misterius. Kadang mengerikan. Anda tentu pernah mendengar tentang "jamur zombie" seperti yang digambarkan di game The Last of Us.
Nama ilmiahnya Ophiocordyceps. Jamur ini menyerang semut. Mengambil alih sistem sarafnya. Membuat semut bertingkah gila, lalu membunuhnya. Jamur itu lantas tumbuh meledak keluar dari bangkai sang semut.
Rupanya, siklus pembunuhan itu belum selesai.
Ilmuwan Malaysia baru saja menemukan "pembunuh sang pembunuh". Sebuah spesies jamur parasit baru. Ditemukan di belantara Sabah, Borneo. Tepatnya di Lembah Danum. Sebuah kawasan hutan terpencil di bagian selatan Sabah.
Penemunya: tim dari Institut Biologi Tropis dan Konservasi, Universitas Malaysia Sabah (UMS). Mereka menemukannya setelah berkali-kali melakukan ekspedisi lapangan.
Tanggal 19 Juni 2026 lalu, temuan ini diumumkan ke dunia.
Spesies baru itu diberi nama Pleurocordyceps cornusynnemata. Namanya panjang. Memang sulit diucapkan. Namun secara fisik, bentuknya sangat unik. Menyerupai tanduk. Itulah asal muasal penamaan tersebut.
Jamur ini bukan parasit biasa. Ia masuk ke dalam kelas "hyperparasit". Artinya: parasit tingkat tinggi yang memangsa parasit lain. Target utamanya justru si jamur zombie Ophiocordyceps tadi.
"Ia secara efektif memparasit patogen utamanya," ujar Jaya Seelan Sathiya Seelan, Wakil Direktur Institut UMS. "Jamur ini masuk dalam genus Pleurocordyceps dan bertindak sebagai hyperparasit khusus."
Cara kerjanya cerdik. Dan efisien. Pleurocordyceps tidak perlu repot memanipulasi sistem saraf semut dari awal. Ia biarkan si jamur zombie bekerja mematikan sang inang. Setelah Ophiocordyceps tumbuh subur di dalam bangkai semut, barulah Pleurocordyceps mengambil alih.
"Alih-alih memanipulasi sistem saraf serangga itu sendiri, Pleurocordyceps menyusup dan memakan langsung jaringan Ophiocordyceps yang sedang berkembang subur di dalam inang," jelas Seelan.
Ibarat merampas hasil rampokan orang lain. Tuntas.
Dari sisi analisis sains dan "pasar" bioteknologi, penemuan ini punya potensi yang sangat mahal. Jamur parasit sering kali menjadi tambang emas untuk senyawa bioaktif.
Industri farmakologi dunia selalu memburu temuan seperti ini untuk diracik menjadi obat-obatan atau antibiotik baru.
Bila jamur pertama bisa menaklukkan saraf secara instan, dan jamur kedua bisa melumpuhkan si penakluk pertama, maka terjadi "perang senjata kimia" alami di sana.
Ada senyawa pertahanan tingkat tinggi yang terlibat. Hutan tropis Borneo sekali lagi membuktikan statusnya: sebuah laboratorium alam tak ternilai yang menyimpan rahasia kehidupan dan kematian.
5 Fakta Temuan Hyperparasit Borneo:
Nama Spesies: Pleurocordyceps cornusynnemata, dinamai demikian karena struktur fisiknya yang unik berbentuk menyerupai tanduk.2. Kategori Biologis: Termasuk spesies "Hyperparasit", yaitu organisme parasit yang inangnya adalah parasit lain.
3. Mekanisme Bertahan: Tidak membunuh semut secara langsung, melainkan menyusup dan memakan jaringan Ophiocordyceps (jamur zombie) yang hidup di tubuh semut.
4. Lokasi Penemuan: Ditemukan di dalam hutan Lembah Danum, sebuah area konservasi yang sangat terpencil di Sabah bagian selatan, Borneo.
5. Tim Peneliti: Penemuan ini dipublikasikan pada 19 Juni 2026 oleh tim dari Institut Biologi Tropis dan Konservasi, Universitas Malaysia Sabah (UMS) yang dipimpin oleh Jaya Seelan Sathiya Seelan.
(dan)
Lihat Juga :