Goodbye Charger! Ilmuwan Ciptakan Baterai Hidup dari Jamur, Tinggal Siram Langsung ON!
Selasa, 29 April 2025 - 07:47 WIB
loading...
Alih-alih diisi ulang dengan listrik, baterai ini diberi nutrisi dan air agar dapat berfungsi. Foto: ist
A
A
A
JAKARTA - Ilmuwan di Swiss telah mengembangkan baterai jamur yang bisa menyala bukan dengan dicas, tapi “diberi makan”. Menariknya lagi, baterai ini adalah sumber daya hidup yang sepenuhnya dapat terurai secara hayati, terbuat hampir seluruhnya dari bahan alami.
Para ilmuwan di Swiss baru saja mengembangkan baterai jamur. Ramah lingkungan, karena merupakan sumber daya hidup yang sepenuhnya dapat terurai secara hayati. Terbuat hampir seluruhnya dari bahan alami.
Alih-alih diisi ulang dengan listrik, baterai ini diberi nutrisi dan air agar dapat berfungsi.
Pada 2030, dunia diperkirakan akan menghasilkan 75 juta metrik ton limbah elektronik. Sebagian besar baterai saat ini mengandung logam beracun dan komponen sintetis, yang sulit didaur ulang dan berbahaya bagi lingkungan. Itulah mengapa para peneliti di Empa, institut ilmu material Swiss, beralih ke jamur sebagai sumber daya alternatif.
Inovasi mereka tidak hanya cerdas; tetapi juga berpotensi transformatif. Baterai jamur baru ini dapat dikomposkan, tidak beracun, dan terbuat dari selulosa, lilin lebah, dan ragi. Desainnya menggunakan dua spesies jamur: Saccharomyces cerevisiae (sejenis ragi) dan Trametes pubescens (jamur pelapuk putih). Di dalam anoda baterai, ada ragi memecah gula dan melepaskan elektron.
Elektron-elektron ini bergerak ke katoda, di mana enzim dari jamur pelapuk putih membantu menyelesaikan sirkuit dan menghasilkan arus listrik. Terlebih lagi, baterai ini secara harfiah ditumbuhkan menggunakan tinta cetak 3D yang terbuat dari selulosa, bahan karbon, dan sel-sel jamur itu sendiri.
Jamur berkembang biak langsung di dalam struktur, ditopang oleh nutrisi yang tertanam dalam material. Setelah dicetak, baterai hanya membutuhkan beberapa minggu untuk berfungsi penuh.
Para ilmuwan di Swiss baru saja mengembangkan baterai jamur. Ramah lingkungan, karena merupakan sumber daya hidup yang sepenuhnya dapat terurai secara hayati. Terbuat hampir seluruhnya dari bahan alami.
Alih-alih diisi ulang dengan listrik, baterai ini diberi nutrisi dan air agar dapat berfungsi.
Pada 2030, dunia diperkirakan akan menghasilkan 75 juta metrik ton limbah elektronik. Sebagian besar baterai saat ini mengandung logam beracun dan komponen sintetis, yang sulit didaur ulang dan berbahaya bagi lingkungan. Itulah mengapa para peneliti di Empa, institut ilmu material Swiss, beralih ke jamur sebagai sumber daya alternatif.
Inovasi mereka tidak hanya cerdas; tetapi juga berpotensi transformatif. Baterai jamur baru ini dapat dikomposkan, tidak beracun, dan terbuat dari selulosa, lilin lebah, dan ragi. Desainnya menggunakan dua spesies jamur: Saccharomyces cerevisiae (sejenis ragi) dan Trametes pubescens (jamur pelapuk putih). Di dalam anoda baterai, ada ragi memecah gula dan melepaskan elektron.
Elektron-elektron ini bergerak ke katoda, di mana enzim dari jamur pelapuk putih membantu menyelesaikan sirkuit dan menghasilkan arus listrik. Terlebih lagi, baterai ini secara harfiah ditumbuhkan menggunakan tinta cetak 3D yang terbuat dari selulosa, bahan karbon, dan sel-sel jamur itu sendiri.
Jamur berkembang biak langsung di dalam struktur, ditopang oleh nutrisi yang tertanam dalam material. Setelah dicetak, baterai hanya membutuhkan beberapa minggu untuk berfungsi penuh.
Lihat Juga :