Ambisi Gila IPO SpaceX: Kejar Rp1.350 Triliun dalam Semalam
Kamis, 04 Juni 2026 - 17:19 WIB
loading...
Target SpaceX tidak main-main. Mereka ingin meraup dana segar Rp1.350 triliun (USD75 miliar). Foto: Gemini
A
A
A
NEW YORK - Elon Musk kembali mengobrak-abrik kebiasaan lama Wall Street. Kali ini lewat SpaceX.
Rabu, 3 Juni 2026, SpaceX secara terbuka menetapkan harga saham Penawaran Umum Perdana (IPO). Harganya: Rp2.430.000 (USD135) per lembar. Itu tidak lazim.
Mengumumkan harga seminggu sebelum penawaran adalah bentuk perlawanan.
Biasanya, Wall Street punya mekanisme pencarian harga (price-discovery). Harga baru ditentukan setelah melihat minat dan tawar-menawar pasar.
Tapi Musk tidak peduli. Ia ingin mengumpulkan dana rekor dengan caranya sendiri.
Target SpaceX tidak main-main. Mereka ingin meraup dana segar Rp1.350 triliun (USD75 miliar).
Itu akan menjadi angka IPO terbesar sepanjang sejarah. Valuasi SpaceX pun bakal terbang hingga Rp31.500 triliun (USD1,75 triliun).
Begitu melantai, SpaceX otomatis masuk jajaran 10 besar perusahaan paling berharga di bursa Amerika Serikat.
Roadshow ke investor dimulai Kamis. Penetapan harga final dijadwalkan pada 11 Juni. Sehari setelahnya, 12 Juni, sahamnya resmi diperdagangkan di Nasdaq.
Di Wall Street, semua berebut. Mereka memburu jatah saham. Padahal, valuasinya setinggi langit.
Tahun 2025 lalu, SpaceX sebenarnya masih rugi bersih Rp88,92 triliun (USD4,94 miliar). Meski begitu, pendapatan mereka naik 33 persen menjadi Rp336,06 triliun (USD18,67 miliar).
Secara hitungan normal, valuasi itu sulit masuk akal. Rasio kelipatan pendapatan (revenue multiple) mencapai lebih dari 90 kali lipat. Sangat ekstrem.
Tim Hatt, Kepala Riset dan Konsultasi di GSMA Intelligence, memberikan analisisnya.
"Di atas kertas, kelipatan pendapatan 90 kali lipat itu sangat tinggi menurut standar apa pun. Tapi sekali lagi, SpaceX sama sekali bukan perusahaan tradisional. Tidak ada pembanding publik yang benar-benar sepadan," ujarnya.
Musk memang sengaja membuang buku panduan lama. Ia menyusun tata kelola agar pendiri tetap punya kendali penuh. Ia juga mendesak agar SpaceX langsung masuk ke dalam indeks pasar.
Yang paling menarik: Musk berencana mengalokasikan hingga 30 persen saham penawaran untuk investor ritel (individu). Itu porsi yang luar biasa besar. Tujuannya? Memanfaatkan militansi jutaan pengikut setianya sekaligus memperluas kepemilikan.
Bank-bank raksasa internasional seperti Mizuho, Deutsche Bank, UBS, dan Barclays pun diberi tugas tidak biasa.
Mereka diminta fokus mencari pembeli individu super kaya di negara masing-masing. Dulu, investor individu dipandang sebelah mata. Bankir hanya peduli melobi manajer aset besar seperti Fidelity Investments atau dana lindung nilai raksasa seperti Citadel.
Kini, semua tunduk pada Musk.
Sebelum roadshow, SpaceX sudah memberi kode bahwa mereka mematok valuasi sekitar Rp31.500 triliun (USD1,75 triliun). Padahal, beberapa investor awalnya sempat menawar di angka Rp27.000 triliun (US$1,5 triliun) atau lebih rendah.
Tapi Musk bergeming.
Lalu, mengapa orang masih mau berebut saham perusahaan yang rugi puluhan triliun?
Robert Pavlik, manajer portofolio senior di Dakota Wealth, punya jawaban jujur. Meski ia sendiri tidak membeli sahamnya.
"Mengapa Anda ingin memilikinya? Itu semata-mata karena gengsi yang dibawa oleh nama Elon Musk. Saya sendiri hanya tertarik melihat ini sebagai tontonan," ujarnya.
Rabu, 3 Juni 2026, SpaceX secara terbuka menetapkan harga saham Penawaran Umum Perdana (IPO). Harganya: Rp2.430.000 (USD135) per lembar. Itu tidak lazim.
Mengumumkan harga seminggu sebelum penawaran adalah bentuk perlawanan.
Biasanya, Wall Street punya mekanisme pencarian harga (price-discovery). Harga baru ditentukan setelah melihat minat dan tawar-menawar pasar.
Tapi Musk tidak peduli. Ia ingin mengumpulkan dana rekor dengan caranya sendiri.
Target SpaceX tidak main-main. Mereka ingin meraup dana segar Rp1.350 triliun (USD75 miliar).
Itu akan menjadi angka IPO terbesar sepanjang sejarah. Valuasi SpaceX pun bakal terbang hingga Rp31.500 triliun (USD1,75 triliun).
Begitu melantai, SpaceX otomatis masuk jajaran 10 besar perusahaan paling berharga di bursa Amerika Serikat.
Roadshow ke investor dimulai Kamis. Penetapan harga final dijadwalkan pada 11 Juni. Sehari setelahnya, 12 Juni, sahamnya resmi diperdagangkan di Nasdaq.
Di Wall Street, semua berebut. Mereka memburu jatah saham. Padahal, valuasinya setinggi langit.
Tahun 2025 lalu, SpaceX sebenarnya masih rugi bersih Rp88,92 triliun (USD4,94 miliar). Meski begitu, pendapatan mereka naik 33 persen menjadi Rp336,06 triliun (USD18,67 miliar).
Secara hitungan normal, valuasi itu sulit masuk akal. Rasio kelipatan pendapatan (revenue multiple) mencapai lebih dari 90 kali lipat. Sangat ekstrem.
Tim Hatt, Kepala Riset dan Konsultasi di GSMA Intelligence, memberikan analisisnya.
"Di atas kertas, kelipatan pendapatan 90 kali lipat itu sangat tinggi menurut standar apa pun. Tapi sekali lagi, SpaceX sama sekali bukan perusahaan tradisional. Tidak ada pembanding publik yang benar-benar sepadan," ujarnya.
Musk memang sengaja membuang buku panduan lama. Ia menyusun tata kelola agar pendiri tetap punya kendali penuh. Ia juga mendesak agar SpaceX langsung masuk ke dalam indeks pasar.
Yang paling menarik: Musk berencana mengalokasikan hingga 30 persen saham penawaran untuk investor ritel (individu). Itu porsi yang luar biasa besar. Tujuannya? Memanfaatkan militansi jutaan pengikut setianya sekaligus memperluas kepemilikan.
Bank-bank raksasa internasional seperti Mizuho, Deutsche Bank, UBS, dan Barclays pun diberi tugas tidak biasa.
Mereka diminta fokus mencari pembeli individu super kaya di negara masing-masing. Dulu, investor individu dipandang sebelah mata. Bankir hanya peduli melobi manajer aset besar seperti Fidelity Investments atau dana lindung nilai raksasa seperti Citadel.
Kini, semua tunduk pada Musk.
Sebelum roadshow, SpaceX sudah memberi kode bahwa mereka mematok valuasi sekitar Rp31.500 triliun (USD1,75 triliun). Padahal, beberapa investor awalnya sempat menawar di angka Rp27.000 triliun (US$1,5 triliun) atau lebih rendah.
Tapi Musk bergeming.
Lalu, mengapa orang masih mau berebut saham perusahaan yang rugi puluhan triliun?
Robert Pavlik, manajer portofolio senior di Dakota Wealth, punya jawaban jujur. Meski ia sendiri tidak membeli sahamnya.
"Mengapa Anda ingin memilikinya? Itu semata-mata karena gengsi yang dibawa oleh nama Elon Musk. Saya sendiri hanya tertarik melihat ini sebagai tontonan," ujarnya.
(dan)
Lihat Juga :