Pantry Jadi Pabrik: Siasat Doku Ubah 1 Ton Sisa Makanan Jadi Emas Hitam
Rabu, 22 April 2026 - 14:03 WIB
loading...
Doku membuktikan bahwa perusahaan teknologi pun bisa berperan nyata dalam ekonomi sirkular dengan mengolah 65% limbah organik kantor menjadi kompos berkualitas. Foto: Doku
A
A
A
JAKARTA - Bisnis digital ternyata tidak bersih-bersih amat. Tetap ada jejaknya. Tetap ada sampahnya.
Lihat saja Doku, raksasa pembayaran digital itu. Karyawannya banyak, sekitar 150 hingga 170 orang setiap hari. Dampak sampingannya Sampah. Setiap bulan, kantor mereka menghasilkan hampir 1 ton limbah. Sebagian besar adalah sisa makanan.
Doku tidak mau mendiamkan tumpukan sampah itu lari ke TPA. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-19 dan bertepatan dengan Hari Bumi, 22 April 2026, mereka meluncurkan ini: Green Pantry.
Targetnya konkret. Mereka ingin memangkas 65 persen sampah organik kantor. Itu setara dengan 650 kilogram sampah per bulan. Caranya? Sampah dikelola langsung dari sumbernya, yaitu pantry kantor.
![Pantry Jadi Pabrik: Siasat Doku Ubah 1 Ton Sisa Makanan Jadi Emas Hitam]()
Karyawan dilibatkan langsung. Mereka diajak memilah sisa makanan. Sampah itu tidak dibuang ke plastik hitam. Tapi masuk ke sistem pengomposan terintegrasi. Ada tahapan dehidrasi, fermentasi, hingga pematangan.
Hasilnya adalah kompos berkualitas. Namanya BeyondGrow. Doku bahkan membuka sistem pesan awal (pre-order) terbatas bagi masyarakat yang ingin merasakan manfaat kompos ini untuk kesuburan tanah.
“Bahkan bisnis digital tetap meninggalkan jejak. Perubahan tidak selalu harus besar," ujar Himelda Renuat, Co-Founder dan Chief Marketing Officer Doku.
![Pantry Jadi Pabrik: Siasat Doku Ubah 1 Ton Sisa Makanan Jadi Emas Hitam]()
Secara pasar, langkah ini adalah perwujudan nyata dari komitmen ESG (Environmental, Social, and Governance). Doku tidak lagi bicara jargon. Mereka melakukan aksi terukur.
Nabilah Alsagoff, Co-Founder dan Chief Operating Officer Doku, menegaskan bahwa keberlanjutan harus jadi bagian dari cara kerja. Bukan sekadar tempelan. Dengan sistem yang tepat, dampak lingkungan bisa dikelola secara konsisten.
Siasat ini sangat rasional. Jika perusahaan fintech bisa mengolah sampahnya sendiri, perusahaan lain seharusnya malu jika tidak melakukan hal serupa. Ekonomi sirkular kini bukan lagi pilihan, tapi keharusan untuk menekan emisi karbon.
Perubahan itu dimulai dari hal kecil. Dan bagi Himelda, itu bisa dari apa yang tersisa di piring makan karyawan di pantry.
Lihat saja Doku, raksasa pembayaran digital itu. Karyawannya banyak, sekitar 150 hingga 170 orang setiap hari. Dampak sampingannya Sampah. Setiap bulan, kantor mereka menghasilkan hampir 1 ton limbah. Sebagian besar adalah sisa makanan.
Doku tidak mau mendiamkan tumpukan sampah itu lari ke TPA. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-19 dan bertepatan dengan Hari Bumi, 22 April 2026, mereka meluncurkan ini: Green Pantry.
Targetnya konkret. Mereka ingin memangkas 65 persen sampah organik kantor. Itu setara dengan 650 kilogram sampah per bulan. Caranya? Sampah dikelola langsung dari sumbernya, yaitu pantry kantor.
.jpg)
Karyawan dilibatkan langsung. Mereka diajak memilah sisa makanan. Sampah itu tidak dibuang ke plastik hitam. Tapi masuk ke sistem pengomposan terintegrasi. Ada tahapan dehidrasi, fermentasi, hingga pematangan.
Hasilnya adalah kompos berkualitas. Namanya BeyondGrow. Doku bahkan membuka sistem pesan awal (pre-order) terbatas bagi masyarakat yang ingin merasakan manfaat kompos ini untuk kesuburan tanah.
“Bahkan bisnis digital tetap meninggalkan jejak. Perubahan tidak selalu harus besar," ujar Himelda Renuat, Co-Founder dan Chief Marketing Officer Doku.
.jpg)
Secara pasar, langkah ini adalah perwujudan nyata dari komitmen ESG (Environmental, Social, and Governance). Doku tidak lagi bicara jargon. Mereka melakukan aksi terukur.
Nabilah Alsagoff, Co-Founder dan Chief Operating Officer Doku, menegaskan bahwa keberlanjutan harus jadi bagian dari cara kerja. Bukan sekadar tempelan. Dengan sistem yang tepat, dampak lingkungan bisa dikelola secara konsisten.
Siasat ini sangat rasional. Jika perusahaan fintech bisa mengolah sampahnya sendiri, perusahaan lain seharusnya malu jika tidak melakukan hal serupa. Ekonomi sirkular kini bukan lagi pilihan, tapi keharusan untuk menekan emisi karbon.
Perubahan itu dimulai dari hal kecil. Dan bagi Himelda, itu bisa dari apa yang tersisa di piring makan karyawan di pantry.
(dan)
Lihat Juga :