DJI Avata 360: Harga Rp10 Juta yang Bikin Insta360 Antigravity A1 Menangis
Senin, 20 April 2026 - 22:03 WIB
loading...
Dengan harga yang hanya setengah dari kompetitor utamanya, DJI Avata 360 berhasil membuktikan bahwa teknologi tinggi tidak harus mahal. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Perang di langit industri drone global memanas awal 2026 ini. Akhir tahun lalu, Insta360 bikin kejutan. Mereka merilis Antigravity A1. Drone panoramik 360 derajat. Mereka nekat masuk ke teritori yang selama ini dikuasai raksasa China, DJI.
Publik langsung ramai. Antigravity dianggap bawa inovasi baru. Setelah bertahun-tahun tak tergoyahkan di industri drone, untuk pertama kalinya DJI terasa ketinggalan. Bahkan, ada yang bertanya: apakah DJI sudah kalah inovatif?
Ternyata, DJI tidak tinggal diam. Kalau cuma diam, pangsa pasar mereka habis. Maka lahirlah manuver balasan ini: DJI Avata 360.
Ini bukan sekadar drone First Person View (FPV) biasa. Avata 360 mengubah cara Anda merekam langit lewat kamera 360 derajat beresolusi 8K.
Sederhananya, ini adalah hasil kawin silang. Kelincahan terbang DJI Avata 2 digabung dengan kecanggihan optik kamera DJI Osmo 360.
Strategi DJI sangat agresif. Sadis. Dan hebatnya, mereka tidak cuma melawan secara spesifikasi. Mereka membanting harga jauh ke dasar untuk membunuh kompetitornya.
![DJI Avata 360: Harga Rp10 Juta yang Bikin Insta360 Antigravity A1 Menangis]()
![DJI Avata 360: Harga Rp10 Juta yang Bikin Insta360 Antigravity A1 Menangis]()
Coba lihat harganya di Urban Republic. Paket RC 2 hanya Rp10.799.000. Kalau mau yang Fly More Combo (baterai lebih banyak), harganya Rp13.456.000.
Sekarang bandingkan dengan Antigravity A1. Paket standarnya saja Rp24.599.000. Paket tertinggi (Infinity Bundle) tembus Rp29.999.000.
Harganya selisih separuh. Fiturnya? Jangan ditanya. Pembeli Antigravity A1 pasti langsung menyesal.
Mari kita hitung mengapa Avata 360 ini sangat masuk akal dibeli:
Pertama, kameranya ganda. Sensornya besar: 1 inci. Resolusinya 64 megapiksel. Satu lensa menghadap atas, satu ke bawah. Merekam sudut 200 derajat yang lalu dijahit mulus oleh peranti lunak menjadi video 360 derajat 8K 60fps. Bisa juga memotret 120 MP.
Kedua, fleksibilitas. Pilot tak perlu pusing memikirkan arah kamera. Fokus saja terbang hindari pohon. Urusan angle video, zoom, dan arah pandangan bisa diedit belakangan sambil ngopi pakai aplikasi DJI Studio. Ini mengubah total filosofi terbang.
Ketiga, tidak kaku. Kalau bosan mode 360, kamera bisa dikunci ke depan. Jadi mode tradisional 4K 60fps dengan lensa 28mm. Antigravity A1 tidak bisa begini.
Keempat, sinyal super kuat. Teknologi transmisinya O4+. Video langsung terkirim ke kacamata Goggles N3 Anda dalam resolusi 1080p 60fps. Jarak maksimalnya ngeri: 20 kilometer.
![DJI Avata 360: Harga Rp10 Juta yang Bikin Insta360 Antigravity A1 Menangis]()
Kelima, aman. Beratnya 455 gram. Baling-balingnya punya pelindung bawaan (propeller guards). Nabrak pohon, tembok, atau terbang di dalam ruangan pun aman.
Keenam, punya "mata" yang banyak. Sensor rintangannya ada di samping, depan (pakai Lidar), bawah, bahkan ada mode Nightscape untuk mendeteksi halangan di kondisi gelap.
Ketujuh, pintar. Kalau pakai remote biasa, ada Focus Track. Drone bisa mengunci subjek dan mengikutinya secara otomatis. Ada mode Cycling yang cepat bereaksi kalau subjek menikung tajam.
Kedelapan, terbang kencang. Di mode sport, kecepatannya bisa tembus 65 km/jam. Baterainya 38,7Wh. Bisa terbang sampai 24 menit.
![DJI Avata 360: Harga Rp10 Juta yang Bikin Insta360 Antigravity A1 Menangis]()
Kesembilan, lensanya bisa diganti sendiri. Drone FPV pasti rentan nabrak. Kalau lensa pecah, Anda tinggal beli suku cadangnya dan pasang sendiri di lapangan dalam hitungan menit. Tidak perlu pusing kirim ke pusat servis.
Kesepuluh, memori bawaan 45 GB. Lupa bawa microSD? Aman. Memori internalnya sanggup merekam 30 menit video 360 8K. Pindah data 1 GB ke HP juga cuma butuh 10 detik berkat Wi-Fi 6.
Apakah Avata 360 sempurna? Tentu tidak. Karena format videonya 360 bulat, saat diedit menjadi video datar (crop), resolusi 8K-nya akan menyusut jadi 4K atau di bawahnya. Makin di-zoom, makin pecah. Malam hari juga rawan motion blur karena stabilisasinya murni elektronik, bukan mekanik.
Tapi, dengan harga cuma Rp10 jutaan, siapa yang berani komplain?
Publik langsung ramai. Antigravity dianggap bawa inovasi baru. Setelah bertahun-tahun tak tergoyahkan di industri drone, untuk pertama kalinya DJI terasa ketinggalan. Bahkan, ada yang bertanya: apakah DJI sudah kalah inovatif?
Ternyata, DJI tidak tinggal diam. Kalau cuma diam, pangsa pasar mereka habis. Maka lahirlah manuver balasan ini: DJI Avata 360.
Ini bukan sekadar drone First Person View (FPV) biasa. Avata 360 mengubah cara Anda merekam langit lewat kamera 360 derajat beresolusi 8K.
Sederhananya, ini adalah hasil kawin silang. Kelincahan terbang DJI Avata 2 digabung dengan kecanggihan optik kamera DJI Osmo 360.
Strategi DJI sangat agresif. Sadis. Dan hebatnya, mereka tidak cuma melawan secara spesifikasi. Mereka membanting harga jauh ke dasar untuk membunuh kompetitornya.


Coba lihat harganya di Urban Republic. Paket RC 2 hanya Rp10.799.000. Kalau mau yang Fly More Combo (baterai lebih banyak), harganya Rp13.456.000.
Sekarang bandingkan dengan Antigravity A1. Paket standarnya saja Rp24.599.000. Paket tertinggi (Infinity Bundle) tembus Rp29.999.000.
Harganya selisih separuh. Fiturnya? Jangan ditanya. Pembeli Antigravity A1 pasti langsung menyesal.
Mari kita hitung mengapa Avata 360 ini sangat masuk akal dibeli:
Pertama, kameranya ganda. Sensornya besar: 1 inci. Resolusinya 64 megapiksel. Satu lensa menghadap atas, satu ke bawah. Merekam sudut 200 derajat yang lalu dijahit mulus oleh peranti lunak menjadi video 360 derajat 8K 60fps. Bisa juga memotret 120 MP.
Kedua, fleksibilitas. Pilot tak perlu pusing memikirkan arah kamera. Fokus saja terbang hindari pohon. Urusan angle video, zoom, dan arah pandangan bisa diedit belakangan sambil ngopi pakai aplikasi DJI Studio. Ini mengubah total filosofi terbang.
Ketiga, tidak kaku. Kalau bosan mode 360, kamera bisa dikunci ke depan. Jadi mode tradisional 4K 60fps dengan lensa 28mm. Antigravity A1 tidak bisa begini.
Keempat, sinyal super kuat. Teknologi transmisinya O4+. Video langsung terkirim ke kacamata Goggles N3 Anda dalam resolusi 1080p 60fps. Jarak maksimalnya ngeri: 20 kilometer.

Kelima, aman. Beratnya 455 gram. Baling-balingnya punya pelindung bawaan (propeller guards). Nabrak pohon, tembok, atau terbang di dalam ruangan pun aman.
Keenam, punya "mata" yang banyak. Sensor rintangannya ada di samping, depan (pakai Lidar), bawah, bahkan ada mode Nightscape untuk mendeteksi halangan di kondisi gelap.
Ketujuh, pintar. Kalau pakai remote biasa, ada Focus Track. Drone bisa mengunci subjek dan mengikutinya secara otomatis. Ada mode Cycling yang cepat bereaksi kalau subjek menikung tajam.
Kedelapan, terbang kencang. Di mode sport, kecepatannya bisa tembus 65 km/jam. Baterainya 38,7Wh. Bisa terbang sampai 24 menit.

Kesembilan, lensanya bisa diganti sendiri. Drone FPV pasti rentan nabrak. Kalau lensa pecah, Anda tinggal beli suku cadangnya dan pasang sendiri di lapangan dalam hitungan menit. Tidak perlu pusing kirim ke pusat servis.
Kesepuluh, memori bawaan 45 GB. Lupa bawa microSD? Aman. Memori internalnya sanggup merekam 30 menit video 360 8K. Pindah data 1 GB ke HP juga cuma butuh 10 detik berkat Wi-Fi 6.
Apakah Avata 360 sempurna? Tentu tidak. Karena format videonya 360 bulat, saat diedit menjadi video datar (crop), resolusi 8K-nya akan menyusut jadi 4K atau di bawahnya. Makin di-zoom, makin pecah. Malam hari juga rawan motion blur karena stabilisasinya murni elektronik, bukan mekanik.
Tapi, dengan harga cuma Rp10 jutaan, siapa yang berani komplain?
(dan)
Lihat Juga :