Intelijen Sebut Teknologi Persenjataan AS Jauh Tertinggal dari Iran
Minggu, 29 Maret 2026 - 17:11 WIB
loading...
A
A
A
Saat ini, rudal Iran hanya memiliki jangkauan maksimum sekitar 2.500 km. Namun, para ahli percaya bahwa program luar angkasa negara tersebut dapat membuka jalan bagi kemajuan lebih lanjut di masa depan.
China dipandang sebagai katalisator bagi fase baru persaingan nuklir. Menurut penilaian AS, persenjataan nuklir Beijing telah melampaui 600 hulu ledak dan dapat mencapai lebih dari 1.000 pada akhir dekade ini.
Sejumlah besar silo rudal balistik antarbenua baru telah dibangun di gurun Xinjiang dan Gansu. Sistem seperti DF-31, DF-41, dan DF-17 diyakini mampu menyerang target yang berjarak ribuan kilometer.
Selain itu, Rusia terus memodernisasi triad nuklirnya dengan sistem seperti RS-28 Sarmat, kendaraan luncur hipersonik Avangard, dan senjata strategis baru.
Menurut banyak analis, laporan intelijen AS tidak hanya bertujuan untuk memperingatkan tentang meningkatnya ancaman rudal, tetapi juga meletakkan dasar bagi pengembangan program pertahanan rudal baru di masa depan.
China dipandang sebagai katalisator bagi fase baru persaingan nuklir. Menurut penilaian AS, persenjataan nuklir Beijing telah melampaui 600 hulu ledak dan dapat mencapai lebih dari 1.000 pada akhir dekade ini.
Sejumlah besar silo rudal balistik antarbenua baru telah dibangun di gurun Xinjiang dan Gansu. Sistem seperti DF-31, DF-41, dan DF-17 diyakini mampu menyerang target yang berjarak ribuan kilometer.
Selain itu, Rusia terus memodernisasi triad nuklirnya dengan sistem seperti RS-28 Sarmat, kendaraan luncur hipersonik Avangard, dan senjata strategis baru.
Menurut banyak analis, laporan intelijen AS tidak hanya bertujuan untuk memperingatkan tentang meningkatnya ancaman rudal, tetapi juga meletakkan dasar bagi pengembangan program pertahanan rudal baru di masa depan.
(wbs)
Lihat Juga :