Bukan Solusi, AI Disebut Bencana! Sanders: Musk dan Ellison Hanya Ingin Perkaya Diri Sendiri

Sabtu, 28 Maret 2026 - 16:22 WIB
loading...
Bukan Solusi, AI Disebut...
Senator AS Bernie Sanders dengan lantang menuding para miliarder teknologi raksasa sengaja memanfaatkan revolusi Kecerdasan Buatan (AI) untuk memperkaya diri sendiri. Foto: ist
A A A
AMERIKA - Gelombang revolusi Kecerdasan Buatan (AI) yang digadang-gadang sebagai tonggak peradaban modern justru dipandang sebagai ancaman eksistensial bagi umat manusia oleh Senator independen Amerika Serikat, Bernie Sanders.

Dengan nada berang dari mimbar Senat pada Selasa lalu, Sanders melontarkan tudingan tajam bahwa booming AI saat ini tak lebih dari sekadar konspirasi para "Oligarki Big Tech" untuk menghisap darah kelas pekerja demi melipatgandakan kekayaan mereka yang sudah tak masuk akal.

Melalui unggahan di platform X yang menyertakan pidato lengkapnya, Sanders secara spesifik menyebut empat nama besar di Silicon Valley sebagai dalang utama. "Siapa yang mendorong AI? Musk. Bezos. Zuckerberg. Ellison. Apa yang mereka inginkan bukanlah apa yang dibutuhkan keluarga pekerja," ketik Sanders dengan tegas.

Kritik Sanders bukan isapan jempol belaka. Raksasa teknologi ini memang tengah membakar investasi gila-gilaan, bukan untuk mengentaskan kemiskinan, melainkan untuk efisiensi ekstrem.

Sanders membeberkan fakta mengerikan: Jeff Bezos, sang pendiri Amazon, dilaporkan tengah berupaya menggalang dana sebesar USD100 miliar—atau setara dengan Rp1.700 triliun—secara global.

Tujuannya? Secara spesifik untuk mengotomatisasi pabrik dan menggantikan tenaga kerja manusia dengan robot.

"Para oligarki menginginkan segalanya. (Itu) Tidak akan terjadi. Berdirilah dan LAWAN BALIK," seru Sanders menanggapi laporan Bezos tersebut.

Sanders juga menyoroti peringatan dari Elon Musk yang menyatakan bahwa AI dan robot pada akhirnya berpotensi menggantikan seluruh pekerjaan manusia.

Di sisi lain, ia juga mengecam visi bos Oracle, Larry Ellison, yang mendambakan sistem pengawasan AI yang bekerja konstan setiap saat, sebuah konsep yang dinilai Sanders sangat merusak privasi.

Kepanikan Sanders tidak berhenti pada retorika politik. Berdasarkan laporan staf minoritas Komite HELP Senat yang dirilis Oktober 2025 lalu, ia telah merancang agenda perlawanan yang konkret.

Sanders menuntut penerapan sistem 32 jam kerja per minggu tanpa adanya pemotongan gaji, pelarangan keras terhadap aksi pembelian kembali saham perusahaan (stock buybacks), dan mendesak agar seluruh keuntungan finansial yang dihasilkan dari efisiensi AI harus mengalir ke kantong pekerja, bukan para eksekutif dan pemegang saham.

Lebih jauh, ia bahkan menyerukan moratorium atau penghentian sementara pembangunan pusat data (data center) AI baru yang dinilainya menyedot sumber daya publik secara semena-mena.

Dari kacamata makro, proyeksi masa depan akibat dominasi AI ini memang suram.

Sanders memperingatkan bahwa AI berpotensi memusnahkan hampir 100 juta pekerjaan di Amerika Serikat dalam satu dekade ke depan.

Tak hanya menghancurkan mata pencaharian, AI juga dituding akan memperparah penyebaran misinformasi politik melalui deepfake, merusak kesehatan mental anak-anak, membuat jaringan listrik kolaps akibat rakusnya konsumsi energi pusat data raksasa, dan pada skenario terburuk, menimbulkan risiko kepunahan jika sistem kecerdasan super ini lepas dari kendali manusia.

Di tengah ancaman di depan mata ini, Sanders menantang Kongres AS untuk segera bertindak membatasi kekuasaan para miliarder tersebut.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Facebook Luncurkan Mode...
Facebook Luncurkan Mode Pencarian AI, Begini Cara Pakainya
Komputer Kuantum Optik...
Komputer Kuantum Optik Bakal Jadi Kebutuhan Energi AI
Untuk Pertama Kalinya...
Untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah, Vaksin Buatan AI Diuji pada Manusia
Eropa Wajibkan Pelabelan...
Eropa Wajibkan Pelabelan Konten yang Dihasilkan AI
Kecerdasan Buatan Sedang...
Kecerdasan Buatan Sedang Mengubah Lanskap Keamanan Siber
Konsep 8B Jadi Usulan...
Konsep 8B Jadi Usulan Fahira Idris untuk Wujudkan Jakarta yang Inklusif dan Berkeadilan
Gandeng CEO Kreta Digital,...
Gandeng CEO Kreta Digital, Dispora Kota Batam Gelar Pelatihan Digital Marketing
Slopaganda: Propaganda...
Slopaganda: Propaganda Massal di Era AI
Rekomendasi
4 Tentara Israel Tewas,...
4 Tentara Israel Tewas, Menteri-menteri Ekstremis Ancam Bakar Seluruh Lebanon, Buka Gerbang Neraka
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Dirawat Inap Atas Rekomendasi Dokter
Berita Terkini
Kedaulatan Digital Jadi...
Kedaulatan Digital Jadi Sorotan, Solusi AI Terintegrasi Siap Percepat Transformasi Industri
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Intel dan Nvidia Memulai...
Intel dan Nvidia Memulai Pertempuran Global Baru
Game Paling Ditunggu...
Game Paling Ditunggu Sedunia GTA 6 Akhirnya bisa Dipesan, Harganya Rp1,4 Juta
SpaceX: IPO Terbesar...
SpaceX: IPO Terbesar Sejarah, Eforia Tercepat yang Menguap
LG Pasang Taruhan Besar:...
LG Pasang Taruhan Besar: AI Jadi Jantung Seisi Rumah
Infografis
Menolak Divaksin akan...
Menolak Divaksin akan Rugikan Diri Sendiri dan Orang Lain
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved