Drama 2 Menit yang Bikin Ketagihan: Fenomena Micro Drama China Mendunia
Rabu, 11 Maret 2026 - 11:20 WIB
loading...
Micro drama China menjadi fenomena baru hiburan digital dengan episode singkat berdurasi sekitar dua menitan. Foto: Sindonews/ChatGPT
A
A
A
JAKARTA - Sebuah tayangan drama biasanya berdurasi satu jam. Tapi kini, jutaan orang justru menikmati cerita yang hanya berlangsung dua menitan.
Fenomena ini datang dari China melalui format micro drama atau duanju. Yakni, serial pendek dengan episode berdurasi sekitar 90 detik hingga dua menit.
Meski singkat, format ini justru menjadi salah satu tren hiburan digital paling cepat berkembang di dunia.
Industri micro drama China bahkan telah melampaui pendapatan bioskop domestik. Data China Netcasting Services Association menunjukkan nilai pasar micro drama mencapai lebih dari 50 miliar yuan, atau Rp117 triliun.
Fenomena ini tidak hanya populer di China. Micro drama kini mulai menembus pasar global, termasuk Amerika Serikat dan Asia Tenggara.
Platform iQIYI International melaporkan peningkatan signifikan jumlah pengguna di Indonesia. Sejak meluncurkan kembali layanannya, jumlah pengguna aktif bulanan (MAU) hampir dua kali lipat, sementara jumlah pelanggan berbayar meningkat sekitar lima kali lipat.
Berdasarkan laporan Media Partners Asia (MPA), pencapaian ini membuat iQIYI menjadi platform OTT terbesar keempat di Indonesia berdasarkan jumlah pengguna aktif.
Menurut Dinesh Ratnam, Senior Managing Director Southeast Asia iQIYI, Indonesia menjadi salah satu pasar streaming paling potensial di kawasan Asia Tenggara.
“Indonesia merupakan pasar streaming yang sangat besar dengan potensi pertumbuhan yang luar biasa. Kami melihat semakin banyak penonton yang bersedia berlangganan serta meningkatnya minat terhadap konten Tiongkok dan konten lokal,” ujarnya.
Laporan MPA juga menunjukkan bahwa jumlah pelanggan streaming berbayar di Indonesia meningkat 23 persen sepanjang 2025. Secara keseluruhan, pasar streaming di Indonesia bersama Thailand, Filipina, Malaysia, dan Singapura telah melampaui 61 juta pelanggan.
Pertama adalah durasi yang sangat singkat. Setiap episode biasanya hanya berdurasi 90 detik hingga dua menit, sehingga mudah ditonton di sela aktivitas.
Format ini cocok dengan kebiasaan konsumsi konten generasi mobile yang terbiasa menonton video singkat di smartphone.
Ashley Dudarenok, pendiri perusahaan konsultan ChoZan yang berbasis di Hong Kong, mengatakan popularitas micro drama tidak lepas dari tren video pendek yang dipopulerkan platform seperti Douyin dan Kuaishou.
Menurutnya, format drama vertikal yang pendek mulai berkembang pesat pada 2020 hingga 2021 saat pandemi, ketika konsumsi konten digital meningkat tajam.
Alasan kedua adalah alur cerita yang sangat cepat dan dramatis.
Anne Chan, CEO AR Asia Production, menggambarkan micro drama sebagai “versi ekstrem dari sinetron”.
“Setiap menit harus ada cliffhanger. Ceritanya manis, singkat, dan tajam,” ujarnya.
Dengan kata lain, micro drama dirancang untuk membuat penonton terus menonton episode berikutnya.
Seema Shah, Vice President Research and Insights di Sensor Tower, mengatakan micro drama memanfaatkan psikologi instant gratification.
“Penonton langsung mendapatkan kepuasan dari cerita yang bergerak cepat. Itu yang menjadi daya tarik utama,” katanya.
Setiap episode biasanya diakhiri dengan konflik atau kejutan sehingga penonton terdorong menonton episode berikutnya.
Format ini membuat micro drama mudah ditonton secara binge watching, meskipun setiap episode hanya berlangsung dua menit.
Data Sensor Tower menunjukkan bahwa aplikasi micro drama seperti ReelShort, DramaBox, dan GoodShort menjadi aplikasi yang paling banyak diunduh di kategori ini sepanjang 2025.
Ketiga aplikasi tersebut bahkan menyumbang sekitar 50 persen total unduhan aplikasi micro drama di Amerika Serikat.
Ashley Dudarenok mengatakan banyak produsen micro drama China melihat Amerika sebagai pasar penting.
“Banyak produsen percaya bahwa jika konten bisa diterima publik Amerika, maka konten itu bisa diterima di seluruh dunia,” ujarnya.
Strategi ini mirip dengan pendekatan Hollywood yang selama puluhan tahun menjadi eksportir budaya global.
Menurut Media Partners Asia, konten dari China kini berada di peringkat keempat dari sisi jangkauan dan engagement penonton di Asia Tenggara, sekaligus menjadi salah satu kategori konten dengan pertumbuhan tercepat.
Popularitas ini juga didorong oleh meningkatnya popularitas aktor China di kalangan penonton internasional.
Sebagai contoh, iQIYI baru-baru ini menggelar fan meeting di Jakarta bersama dua bintang C-Drama populer, Chen Zheyuan dan Esther Yu, yang membintangi serial Speed and Love dan Fated Hearts.
Acara tersebut menjadi bagian dari iQIYI Starship Project, yang bertujuan memperkuat hubungan antara penonton dan bintang drama China.
Jika dulu film berdurasi dua jam dianggap ideal, kini banyak penonton justru menikmati cerita yang hanya berlangsung dua menit.
Tren ini sejalan dengan gaya hidup digital yang semakin cepat, di mana konten harus ringkas, langsung menarik perhatian, dan mudah dikonsumsi di smartphone.
Dengan nilai industri yang sudah mencapai sekitar Rp117 triliun, micro drama China berpotensi menjadi salah satu ekspor budaya terbesar berikutnya dari negara tersebut.
Bagi platform streaming seperti iQIYI, tren ini membuka peluang baru. Bagi penonton, micro drama menawarkan sesuatu yang sederhana: hiburan singkat yang bisa dinikmati kapan saja, di mana saja.
Fenomena ini datang dari China melalui format micro drama atau duanju. Yakni, serial pendek dengan episode berdurasi sekitar 90 detik hingga dua menit.
Meski singkat, format ini justru menjadi salah satu tren hiburan digital paling cepat berkembang di dunia.
Industri micro drama China bahkan telah melampaui pendapatan bioskop domestik. Data China Netcasting Services Association menunjukkan nilai pasar micro drama mencapai lebih dari 50 miliar yuan, atau Rp117 triliun.
Fenomena ini tidak hanya populer di China. Micro drama kini mulai menembus pasar global, termasuk Amerika Serikat dan Asia Tenggara.
Indonesia Jadi Pasar Streaming yang Tumbuh Cepat
Di Indonesia, dampak tren ini terlihat dari pertumbuhan layanan streaming.Platform iQIYI International melaporkan peningkatan signifikan jumlah pengguna di Indonesia. Sejak meluncurkan kembali layanannya, jumlah pengguna aktif bulanan (MAU) hampir dua kali lipat, sementara jumlah pelanggan berbayar meningkat sekitar lima kali lipat.
Berdasarkan laporan Media Partners Asia (MPA), pencapaian ini membuat iQIYI menjadi platform OTT terbesar keempat di Indonesia berdasarkan jumlah pengguna aktif.
Menurut Dinesh Ratnam, Senior Managing Director Southeast Asia iQIYI, Indonesia menjadi salah satu pasar streaming paling potensial di kawasan Asia Tenggara.
“Indonesia merupakan pasar streaming yang sangat besar dengan potensi pertumbuhan yang luar biasa. Kami melihat semakin banyak penonton yang bersedia berlangganan serta meningkatnya minat terhadap konten Tiongkok dan konten lokal,” ujarnya.
Laporan MPA juga menunjukkan bahwa jumlah pelanggan streaming berbayar di Indonesia meningkat 23 persen sepanjang 2025. Secara keseluruhan, pasar streaming di Indonesia bersama Thailand, Filipina, Malaysia, dan Singapura telah melampaui 61 juta pelanggan.
Mengapa Micro Drama Begitu Populer?
Ada beberapa alasan mengapa micro drama China begitu digemari oleh penonton, termasuk di Indonesia.Pertama adalah durasi yang sangat singkat. Setiap episode biasanya hanya berdurasi 90 detik hingga dua menit, sehingga mudah ditonton di sela aktivitas.
Format ini cocok dengan kebiasaan konsumsi konten generasi mobile yang terbiasa menonton video singkat di smartphone.
Ashley Dudarenok, pendiri perusahaan konsultan ChoZan yang berbasis di Hong Kong, mengatakan popularitas micro drama tidak lepas dari tren video pendek yang dipopulerkan platform seperti Douyin dan Kuaishou.
Menurutnya, format drama vertikal yang pendek mulai berkembang pesat pada 2020 hingga 2021 saat pandemi, ketika konsumsi konten digital meningkat tajam.
Alasan kedua adalah alur cerita yang sangat cepat dan dramatis.
Anne Chan, CEO AR Asia Production, menggambarkan micro drama sebagai “versi ekstrem dari sinetron”.
“Setiap menit harus ada cliffhanger. Ceritanya manis, singkat, dan tajam,” ujarnya.
Dengan kata lain, micro drama dirancang untuk membuat penonton terus menonton episode berikutnya.
Mengandalkan Psikologi “Instant Gratification”
Para analis industri hiburan menilai popularitas micro drama juga terkait dengan perilaku konsumen modern yang menginginkan kepuasan instan.Seema Shah, Vice President Research and Insights di Sensor Tower, mengatakan micro drama memanfaatkan psikologi instant gratification.
“Penonton langsung mendapatkan kepuasan dari cerita yang bergerak cepat. Itu yang menjadi daya tarik utama,” katanya.
Setiap episode biasanya diakhiri dengan konflik atau kejutan sehingga penonton terdorong menonton episode berikutnya.
Format ini membuat micro drama mudah ditonton secara binge watching, meskipun setiap episode hanya berlangsung dua menit.
Menjadi Ekspor Budaya Baru China
Popularitas micro drama juga mulai terlihat di Amerika Serikat.Data Sensor Tower menunjukkan bahwa aplikasi micro drama seperti ReelShort, DramaBox, dan GoodShort menjadi aplikasi yang paling banyak diunduh di kategori ini sepanjang 2025.
Ketiga aplikasi tersebut bahkan menyumbang sekitar 50 persen total unduhan aplikasi micro drama di Amerika Serikat.
Ashley Dudarenok mengatakan banyak produsen micro drama China melihat Amerika sebagai pasar penting.
“Banyak produsen percaya bahwa jika konten bisa diterima publik Amerika, maka konten itu bisa diterima di seluruh dunia,” ujarnya.
Strategi ini mirip dengan pendekatan Hollywood yang selama puluhan tahun menjadi eksportir budaya global.
C-Drama dan Micro Drama Dorong Pertumbuhan Platform Streaming
Di Asia Tenggara, popularitas micro drama berjalan beriringan dengan meningkatnya minat terhadap C-Drama atau drama China.Menurut Media Partners Asia, konten dari China kini berada di peringkat keempat dari sisi jangkauan dan engagement penonton di Asia Tenggara, sekaligus menjadi salah satu kategori konten dengan pertumbuhan tercepat.
Popularitas ini juga didorong oleh meningkatnya popularitas aktor China di kalangan penonton internasional.
Sebagai contoh, iQIYI baru-baru ini menggelar fan meeting di Jakarta bersama dua bintang C-Drama populer, Chen Zheyuan dan Esther Yu, yang membintangi serial Speed and Love dan Fated Hearts.
Acara tersebut menjadi bagian dari iQIYI Starship Project, yang bertujuan memperkuat hubungan antara penonton dan bintang drama China.
Masa Depan Hiburan: Pendek, Cepat, dan Mobile
Fenomena micro drama menunjukkan perubahan besar dalam cara orang menonton hiburan.Jika dulu film berdurasi dua jam dianggap ideal, kini banyak penonton justru menikmati cerita yang hanya berlangsung dua menit.
Tren ini sejalan dengan gaya hidup digital yang semakin cepat, di mana konten harus ringkas, langsung menarik perhatian, dan mudah dikonsumsi di smartphone.
Dengan nilai industri yang sudah mencapai sekitar Rp117 triliun, micro drama China berpotensi menjadi salah satu ekspor budaya terbesar berikutnya dari negara tersebut.
Bagi platform streaming seperti iQIYI, tren ini membuka peluang baru. Bagi penonton, micro drama menawarkan sesuatu yang sederhana: hiburan singkat yang bisa dinikmati kapan saja, di mana saja.
(dan)
Lihat Juga :