Srikandi, Tempat Sampah AI Canggih yang Mengubah Cara Memilah Sampah

Senin, 23 Februari 2026 - 16:02 WIB
loading...
Srikandi, Tempat Sampah...
Srikandi, tempat sampah AI canggih yang mengubah cara dalam memilah sampah. Foto/Nusabin
A A A
JAKARTA - Pengelolaan sampah di Indonesia selama bertahun-tahun menghadapi tantangan yang relatif serupa. Volume sampah terus meningkat, sementara pendekatan yang digunakan kerap bertumpu pada pemilahan manual, kampanye perubahan perilaku, serta sistem yang belum terintegrasi secara menyeluruh.

Dalam situasi tersebut, kebutuhan akan pendekatan baru yang lebih sistemik dan terukur semakin menguat. Dalam beberapa tahun terakhir, inovasi berbasis teknologi dan data mulai masuk ke dalam diskursus pengelolaan sampah nasional.

Baca Juga: Peneliti Indonesia Kembali Temukan Jenis Baru Rafflesia

Salah satu pendekatan yang mendapat perhatian adalah pemanfaatan tempat sampah artificial intelligence (AI) Srikandi yang dikembangkan oleh Nusabin. Sistem ini tidak diposisikan sekadar sebagai perangkat pintar, melainkan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah berbasis data yang bekerja langsung di titik awal pembuangan.

Sepanjang 2025 hingga awal 2026, Srikandi memperoleh apresiasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, komunitas teknik, pelaku industri, hingga masyarakat umum. Pengakuan tersebut muncul tidak hanya melalui forum formal, tetapi juga melalui interaksi langsung para pemangku kepentingan yang mencoba sistem ini dalam konteks penggunaan nyata.

Bekerja di Hulu, Mengubah Pola Lama

Pendekatan utama Srikandi terletak pada kemampuannya bekerja di hulu pengelolaan sampah. Sistem dirancang untuk mengenali dan mengklasifikasikan sampah anorganik berdasarkan jenis material dan merek secara otomatis. Setelah dikenali, sampah dipilah sesuai kategorinya, sementara seluruh aktivitas tercatat dan dianalisis secara waktu nyata melalui dashboard terintegrasi.

Pendekatan ini berbeda dari sistem konvensional yang mengandalkan pemilahan manual dan edukasi berulang kepada pengguna. Dengan memindahkan kompleksitas ke dalam sistem, ketergantungan terhadap konsistensi perilaku pengguna dinilai dapat dikurangi. Sistem dirancang untuk bekerja secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari tanpa memerlukan instruksi tambahan.

Bagi Nusabin, teknologi diposisikan sebagai alat untuk membangun sistem pengelolaan yang dapat beroperasi setiap hari secara berkelanjutan. Prinsip kemudahan di sumber pembuangan menjadi fondasi utama agar adopsi sistem dapat terjadi secara luas.

Mendapat Perhatian Pemerintah dan Akademisi

Perjalanan publik Srikandi sepanjang 2025 memperlihatkan peningkatan pengakuan lintas sektor. Pada Agustus 2025, Nusabin berpartisipasi dalam Pondok Indah EcoLiving Festival (PIEL Fest) 2025 yang turut dihadiri Wali Kota Jakarta Selatan, M. Anwar. Momentum tersebut menjadi salah satu indikator awal bahwa solusi berbasis sistem mulai diperhatikan dalam konteks pengelolaan lingkungan perkotaan.

Pengembangan berikutnya ditampilkan dalam Bandung Sustainability Summit 2025 di Institut Teknologi Bandung. Forum ini dihadiri Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, serta Rektor ITB saat itu, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. Dalam forum tersebut, Srikandi dibahas sebagai bagian dari transformasi sistem pengelolaan sampah yang menggabungkan teknologi, tata kelola, dan prinsip keberlanjutan.

Kehadiran dalam ruang akademik memperkuat posisi Nusabin sebagai bagian dari diskursus inovasi nasional yang menempatkan teknologi sebagai elemen pendukung perubahan sistemik.

Uji Nyata di Lingkungan Pendidikan

Validasi operasional Srikandi dilakukan melalui inisiatif #MadrasahMulaiMemilah di MAN Insan Cendekia Serpong pada Desember 2025. Lingkungan pendidikan dipilih sebagai ruang uji karena memiliki ratusan pengguna aktif setiap hari dengan dinamika perilaku yang beragam.

Penerapan sistem di lingkungan tersebut dinilai selaras dengan visi pendidikan yang memadukan ilmu pengetahuan dan nilai keimanan. Teknologi diposisikan sebagai media pembelajaran praktis yang mendorong pembentukan karakter dan tanggung jawab terhadap lingkungan melalui praktik sehari-hari.

Dalam uji coba tersebut, tempat sampah AI Srikandi menunjukkan konsistensi performa dalam mengenali dan memilah sampah secara otomatis tanpa memerlukan intervensi manual yang kompleks dari pihak pengelola.

Apresiasi di Forum Nasional dan Industri

Momentum penting terjadi pada 17 Desember 2025 dalam peluncuran Rumah Pemulihan Material Waste4Change di Jatiwaringin. Acara tersebut dihadiri lebih dari 100 pemangku kepentingan dari berbagai sektor, termasuk perwakilan pemerintah pusat.

“Wah, beneran cepat dan simpel ya?” puji Wakil Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Diaz Faisal Malik Hendropriyono.

Dalam forum tersebut, sistem Srikandi diuji secara langsung dan memperoleh tanggapan positif terkait kemudahan serta kecepatan penggunaannya. Pengalaman tersebut mencerminkan kesesuaian sistem dengan prinsip kesederhanaan di sisi pengguna, sekaligus kompleksitas pengelolaan di balik layar.

“Inovasinya keren banget. Ini menunjukkan bagaimana solusi pengelolaan sampah harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara lama. Sistem seperti ini membuka peluang untuk tata kelola yang lebih presisi dan terukur," kata CEO Waste4Change, Mohamad Bijaksana Junerosano.

Apresiasi juga datang dari ekosistem pengelolaan sampah dan kalangan industri. Inovasi berbasis sistem yang ditawarkan Srikandi dinilai relevan dengan kebutuhan pengelolaan sampah modern yang menuntut presisi, keterukuran, dan konsistensi operasional.

"Inovasi seperti ini membuktikan bahwa solusi atas permasalahan sampah dapat lahir dari dalam negeri. Dengan pendekatan teknologi yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan lokal, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern," kata Direktur DHL Express Indonesia, Rocky Joseph Pesik.

Diterima di Ruang Publik dan Komersial

Implementasi tempat sampah AI Srikandi tidak berhenti pada forum kebijakan dan institusi formal. Sistem ini juga digunakan dalam operasional harian di ruang komersial seperti Kopi Kamu Wijaya dan Kopi Kina Cikini di Jakarta.

Pengalaman penggunaan di ruang komersial menunjukkan bahwa sistem dapat diintegrasikan ke dalam aktivitas sehari-hari tanpa mengganggu alur operasional. Proses membuang sampah dinilai menjadi lebih sederhana karena pemilahan berlangsung otomatis, sehingga pengguna tidak perlu lagi memikirkan kategori sampah secara manual.

Respons publik tersebut memperlihatkan bahwa teknologi yang dirancang sederhana memiliki peluang lebih besar untuk diterima dan digunakan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Menuju Implementasi yang Lebih Luas

Rangkaian pengenalan, uji coba, dan apresiasi lintas sektor menunjukkan bahwa tempat sampah AI Srikandi telah melampaui tahap konsep dan prototipe. Sistem ini telah diuji di ruang publik, lingkungan pendidikan, dan ruang komersial, serta diperkenalkan di hadapan pemangku kebijakan dan pelaku industri.

Bagi Nusabin, fase ini menandai kesiapan untuk implementasi yang lebih luas. Tempat sampah AI Srikandi diproyeksikan dapat diterapkan di ruang publik, institusi pendidikan, kawasan komersial, perkantoran, hingga kegiatan berskala besar yang membutuhkan pencatatan dan pelaporan pengelolaan sampah secara sistematis.

Melalui inisiatif kolaboratif “Srikandi Peduli Sampah”, ruang kemitraan dibuka dengan sponsor, mitra lokasi, pemerintah daerah, dan pelaku industri untuk memperluas penerapan sistem pemilahan otomatis berbasis data.

Di tengah tantangan pengelolaan sampah yang terus berkembang, perjalanan Srikandi menunjukkan bahwa pendekatan berbasis sistem dan teknologi tidak lagi diposisikan sebagai alternatif, melainkan sebagai kebutuhan. Apresiasi lintas sektor yang diterima menjadi sinyal bahwa pengelolaan sampah nasional mulai bergerak menuju tata kelola yang lebih presisi, transparan, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
OpenAI Luncurkan Fitur...
OpenAI Luncurkan Fitur Penguncian Perlindungan Data untuk ChatGPT
Rayakan Hari Jadi ke-30,...
Rayakan Hari Jadi ke-30, Lexar Padukan Visi Teknologi AI dan Sinergi Global
Ilmuwan Pastikan AI...
Ilmuwan Pastikan AI Belum Bisa Kalahkan Teori Soal Iklim
Acer Luncurkan Dua Kacamata...
Acer Luncurkan Dua Kacamata Pintar dengan Gambar Virtual 172 Inci
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, AI Dilibatkan Langsung dalam Operasi Medis
Kehilangan Kendali,...
Kehilangan Kendali, Anthropic Usulkan Hentikan Sementara Pengembangan AI
AI Juru Selamat atau...
AI Juru Selamat atau Kepunahan Pekerja Industri Kreatif?
Purbaya Targetkan Ekonomi...
Purbaya Targetkan Ekonomi Indonesia Tumbuh 6,5% di 2027
Luhut: Bansos ke Depan...
Luhut: Bansos ke Depan Tak Lagi Barang, Diberi Cash Transfer Rp5,4 Juta per Orang
Rekomendasi
Raffi Ahmad Buka Suara...
Raffi Ahmad Buka Suara soal Kasus Blueray, Tegaskan Tak Pernah Terima Barang Gratis
Bertemu Prabowo, JK...
Bertemu Prabowo, JK Siap Partisipasi Bangun Energi Hijau
Anggota Polri yang Duduki...
Anggota Polri yang Duduki Jabatan di Luar Struktur Tak Perlu Mundur selama Penugasan Negara
Berita Terkini
Mengenal Siri AI di...
Mengenal Siri AI di WWDC 2026 dan Apa Saja Fitur Barunya?
Iran Temukan Pangkalan...
Iran Temukan Pangkalan Angkatan Laut Berusia 2.000 Tahun di Selat Hormuz
Apa Itu Siri AI Apple...
Apa Itu Siri AI Apple dan Mengapa 1,3 Miliar iPhone Tak Bisa Menjalankannya?
Poco F8 Ultra Kembali...
Poco F8 Ultra Kembali Dijual di Indonesia: HP Gaming Buas dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5
Siaga di Selat Hormuz,...
Siaga di Selat Hormuz, AS Gunakan Perahu Canggih Tanpa Awak
Amankan Piala Dunia...
Amankan Piala Dunia 2026, AS Kerahkan Sistem Pertahanan Anti-drone
Infografis
4 Profesi yang Tidak...
4 Profesi yang Tidak Bisa Digantikan oleh Teknologi AI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved