Mengapa BYD, Airbus, hingga Foxconn Nekat Pakai Robot yang Lebih Lambat dari Manusia? Ini Alasannya!
Senin, 26 Januari 2026 - 08:02 WIB
loading...
A
A
A
Meski demikian, pihak Airbus memberikan catatan bahwa kolaborasi ini masih dalam "fase pengujian konsep yang sangat awal".
Secara finansial, UBTech menunjukkan perbaikan kinerja meski masih membukukan kerugian.
Dalam enam bulan pertama 2025, kerugian perusahaan menyusut menjadi 440 juta Renminbi (sekitar USD62 juta ), turun dari 540 juta Renminbi pada tahun sebelumnya. Pendapatan tercatat naik signifikan sebesar 28 persen menjadi USD621 juta Renminbi.
Komitmen terhadap inovasi terlihat dari belanja penelitian dan pengembangan (R&D) pada tahun 2024 yang setara dengan 37 persen dari total pendapatan, yang sebagian besar masih berasal dari robot konsumen dan pendidikan.
"Itu tidak benar-benar berarti apa-apa tentang operasi komersial," tegasnya, seraya menyebut target UBTech "sangat ambisius" mengingat sebagian besar penyebaran di China masih terbatas pada pusat penelitian yang disponsori pemerintah.
Sebaliknya, Kelvin Lau, analis dari Daiwa Capital Markets, melihat gelas setengah penuh.
Menurutnya, target UBTech cukup masuk akal dan robot humanoid bisa sangat berguna bagi pabrik yang desain awalnya tidak diperuntukkan bagi otomatisasi.
"Seharusnya secara bertahap membaik," kata Lau. Ia menekankan logika efisiensi yang berbeda: tingkat efisiensi 80 persen dari manusia mungkin sudah cukup, mengingat robot tidak memerlukan istirahat, tidur, atau cuti liburan.
Di tengah persaingan dengan kompetitor terdaftar seperti Dobot Robotics, Tesla, serta pemain lokal seperti Unitree Robotics, X-Humanoid, dan AgiBot, UBTech meyakini siklus data akan menjadi penentu.
Tam menyebut bahwa generasi robot Walker selanjutnya akan menuai manfaat dari data yang dikumpulkan di pabrik-pabrik saat ini. "Semakin banyak robot manusia yang disebar ke dunia nyata, semakin banyak data riil yang bisa dikumpulkan. Dan kemudian, seperti sebuah lingkaran, itu akan membantu robot manusia bertumbuh," pungkasnya.
Secara finansial, UBTech menunjukkan perbaikan kinerja meski masih membukukan kerugian.
Dalam enam bulan pertama 2025, kerugian perusahaan menyusut menjadi 440 juta Renminbi (sekitar USD62 juta ), turun dari 540 juta Renminbi pada tahun sebelumnya. Pendapatan tercatat naik signifikan sebesar 28 persen menjadi USD621 juta Renminbi.
Komitmen terhadap inovasi terlihat dari belanja penelitian dan pengembangan (R&D) pada tahun 2024 yang setara dengan 37 persen dari total pendapatan, yang sebagian besar masih berasal dari robot konsumen dan pendidikan.
Skeptisme vs Optimisme Pasar
Di lantai bursa, reaksi terhadap fenomena ini terbelah. Marco Wang, peneliti dari Interact Analysis di Shanghai, menyuarakan skeptismenya. Ia menilai banyak kasus penyebaran robot ini hanya berada pada tahap "bukti konsep" (proof of concept) atau sekadar demo."Itu tidak benar-benar berarti apa-apa tentang operasi komersial," tegasnya, seraya menyebut target UBTech "sangat ambisius" mengingat sebagian besar penyebaran di China masih terbatas pada pusat penelitian yang disponsori pemerintah.
Sebaliknya, Kelvin Lau, analis dari Daiwa Capital Markets, melihat gelas setengah penuh.
Menurutnya, target UBTech cukup masuk akal dan robot humanoid bisa sangat berguna bagi pabrik yang desain awalnya tidak diperuntukkan bagi otomatisasi.
"Seharusnya secara bertahap membaik," kata Lau. Ia menekankan logika efisiensi yang berbeda: tingkat efisiensi 80 persen dari manusia mungkin sudah cukup, mengingat robot tidak memerlukan istirahat, tidur, atau cuti liburan.
Di tengah persaingan dengan kompetitor terdaftar seperti Dobot Robotics, Tesla, serta pemain lokal seperti Unitree Robotics, X-Humanoid, dan AgiBot, UBTech meyakini siklus data akan menjadi penentu.
Tam menyebut bahwa generasi robot Walker selanjutnya akan menuai manfaat dari data yang dikumpulkan di pabrik-pabrik saat ini. "Semakin banyak robot manusia yang disebar ke dunia nyata, semakin banyak data riil yang bisa dikumpulkan. Dan kemudian, seperti sebuah lingkaran, itu akan membantu robot manusia bertumbuh," pungkasnya.
(dan)
Lihat Juga :