Mengapa BYD, Airbus, hingga Foxconn Nekat Pakai Robot yang Lebih Lambat dari Manusia? Ini Alasannya!
Senin, 26 Januari 2026 - 08:02 WIB
loading...
A
A
A
Meski mayoritas masih berupa mesin tradisional seperti lengan mekanis, dorongan ke arah humanoid yang didukung kecerdasan buatan (AI) kian tak terbendung.
Para pendukung teknologi ini berargumen bahwa keunggulan robot humanoid terletak pada mobilitasnya.
Berbeda dengan lengan statis, robot ini dapat bergerak antar lini produksi, visi yang juga digemakan oleh Elon Musk melalui proyek Optimus milik Tesla.
Namun, transisi ini bukan tanpa hambatan. Analis menyoroti kompleksitas tantangan yang jauh lebih tinggi dibanding ban berjalan atau lengan robotik, mulai kebutuhan pasokan daya independen, kerumitan sendi yang dapat bergerak, hingga pengambilan keputusan tingkat lanjut.
Anekdot menarik terjadi di ruang pamer UBTech tahun lalu, yang menggambarkan jarak antara visi dan realita.
Saat jurnalis diundang untuk berjabat tangan dengan robot non-industri, mesin tersebut gagal merespons dan harus diulang.
Tam mengakui bahwa salah satu masalah krusial yang ingin dipecahkan perusahaan tahun ini adalah pengembangan tangan multifungsi, mengingat model Walker saat ini masih butuh bantuan manusia untuk mengganti pelengkap tangan robot demi tugas yang berbeda.
Meski dihadapkan pada kendala teknis, target UBTech tetap agresif. Perusahaan menargetkan mendongkrak kinerja robot Walker hingga mencapai 80 persen dari kinerja manusia pada 2027.
Setelah memenuhi target pengiriman 500 robot pabrik humanoid tahun lalu, UBTech kini membidik angka produksi fantastis: 10.000 unit pada akhir tahun ini.
Langkah ekspansi tersebut diperkuat oleh kesepakatan strategis. Minggu ini, UBTech mengumumkan perjanjian dengan produsen pesawat Eropa, Airbus, untuk memasok Walker S2, menyusul kemitraan dengan produsen semikonduktor AS, Texas Instruments, yang ditandatangani tahun lalu.
Para pendukung teknologi ini berargumen bahwa keunggulan robot humanoid terletak pada mobilitasnya.
Berbeda dengan lengan statis, robot ini dapat bergerak antar lini produksi, visi yang juga digemakan oleh Elon Musk melalui proyek Optimus milik Tesla.
Namun, transisi ini bukan tanpa hambatan. Analis menyoroti kompleksitas tantangan yang jauh lebih tinggi dibanding ban berjalan atau lengan robotik, mulai kebutuhan pasokan daya independen, kerumitan sendi yang dapat bergerak, hingga pengambilan keputusan tingkat lanjut.
Anekdot menarik terjadi di ruang pamer UBTech tahun lalu, yang menggambarkan jarak antara visi dan realita.
Saat jurnalis diundang untuk berjabat tangan dengan robot non-industri, mesin tersebut gagal merespons dan harus diulang.
Tam mengakui bahwa salah satu masalah krusial yang ingin dipecahkan perusahaan tahun ini adalah pengembangan tangan multifungsi, mengingat model Walker saat ini masih butuh bantuan manusia untuk mengganti pelengkap tangan robot demi tugas yang berbeda.
Meski dihadapkan pada kendala teknis, target UBTech tetap agresif. Perusahaan menargetkan mendongkrak kinerja robot Walker hingga mencapai 80 persen dari kinerja manusia pada 2027.
Setelah memenuhi target pengiriman 500 robot pabrik humanoid tahun lalu, UBTech kini membidik angka produksi fantastis: 10.000 unit pada akhir tahun ini.
Langkah ekspansi tersebut diperkuat oleh kesepakatan strategis. Minggu ini, UBTech mengumumkan perjanjian dengan produsen pesawat Eropa, Airbus, untuk memasok Walker S2, menyusul kemitraan dengan produsen semikonduktor AS, Texas Instruments, yang ditandatangani tahun lalu.
Lihat Juga :