TikTok di Bawah Ketiak Sekutu Trump: Dari Musuh Negara Menjadi Mainan Baru Lingkaran Oligarki Washington
Jum'at, 19 Desember 2025 - 20:43 WIB
loading...
A
A
A
Senator Demokrat Elizabeth Warren dengan tajam menyebut fenomena ini sebagai "pengambilalihan oleh miliarder".
Kritiknya menukik pada ini: Trump tidak sedang menyelamatkan data warga AS, melainkan sedang menyerahkan kendali algoritma kepada "teman-teman miliardernya".
Paddy Leerssen, pakar tata kelola platform dari Universitas Amsterdam, dalam riset terbarunya membedah bahaya dari pergeseran kepemilikan ini.
Ia membedakan antara "logika pasar" (market logic)—di mana perusahaan dijalankan demi profit pemegang saham seperti Apple atau Microsoft—dan "logika privat" (private logic)—di mana platform menjadi perpanjangan tangan ego pemiliknya, seperti X (Twitter) di bawah Elon Musk.
TikTok di bawah konsorsium baru ini berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Di satu sisi, kehadiran investor institusional seperti Silver Lake dan MGX seharusnya menjamin berjalannya "logika pasar" yang rasional demi keuntungan finansial.
Mereka tentu tidak ingin nilai investasi mereka hancur karena platform ditinggalkan pengguna akibat bias politik.
Namun, besarnya pengaruh Larry Ellison dan kedekatannya dengan Trump membuka celah masuknya "logika privat".
Seperti halnya Musk mengubah X menjadi ruang gema bagi pandangan politik pribadinya, ada kekhawatiran nyata bahwa TikTok AS bisa disetir untuk mengamplifikasi narasi pro-pemerintah atau membungkam kritik, meniru pola pengendalian media yang lazim terjadi di negara-negara dengan demokrasi yang mundur (democratic backsliding) seperti Hungaria.
Di balik kesepakatan divestasi ini, tersisa satu misteri besar: siapa yang sebenarnya mengendalikan otak TikTok?
ByteDance memang melepas mayoritas saham entitas AS, namun laporan menyebutkan mereka tetap memegang kendali atas "interoperabilitas produk global" dan mesin pencetak uang utama seperti e-commerce dan iklan.
Kritiknya menukik pada ini: Trump tidak sedang menyelamatkan data warga AS, melainkan sedang menyerahkan kendali algoritma kepada "teman-teman miliardernya".
Paddy Leerssen, pakar tata kelola platform dari Universitas Amsterdam, dalam riset terbarunya membedah bahaya dari pergeseran kepemilikan ini.
Ia membedakan antara "logika pasar" (market logic)—di mana perusahaan dijalankan demi profit pemegang saham seperti Apple atau Microsoft—dan "logika privat" (private logic)—di mana platform menjadi perpanjangan tangan ego pemiliknya, seperti X (Twitter) di bawah Elon Musk.
TikTok di bawah konsorsium baru ini berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Di satu sisi, kehadiran investor institusional seperti Silver Lake dan MGX seharusnya menjamin berjalannya "logika pasar" yang rasional demi keuntungan finansial.
Mereka tentu tidak ingin nilai investasi mereka hancur karena platform ditinggalkan pengguna akibat bias politik.
Namun, besarnya pengaruh Larry Ellison dan kedekatannya dengan Trump membuka celah masuknya "logika privat".
Seperti halnya Musk mengubah X menjadi ruang gema bagi pandangan politik pribadinya, ada kekhawatiran nyata bahwa TikTok AS bisa disetir untuk mengamplifikasi narasi pro-pemerintah atau membungkam kritik, meniru pola pengendalian media yang lazim terjadi di negara-negara dengan demokrasi yang mundur (democratic backsliding) seperti Hungaria.
Di balik kesepakatan divestasi ini, tersisa satu misteri besar: siapa yang sebenarnya mengendalikan otak TikTok?
ByteDance memang melepas mayoritas saham entitas AS, namun laporan menyebutkan mereka tetap memegang kendali atas "interoperabilitas produk global" dan mesin pencetak uang utama seperti e-commerce dan iklan.
Lihat Juga :