Turun Gunung Demi Gemini: Kisah Sergey Brin Menolak Tua dan Penyesalan Terlambat Merespons AI
Rabu, 17 Desember 2025 - 15:20 WIB
loading...
Alih-alih menikmati masa tua dengan tenang, Sergey Brin justru menyebut pensiun dini sebagai kesalahan fatal yang hampir membuat otaknya tumpul di tengah perang AI. Foto: Getty Images
A
A
A
SAN FRANSISCO - Seharusnya, pendiri Google Sergey Brin sedang menikmati masa pensiunnya dengan secangkir kopi di sebuah kafe sunyi, jauh dari hiruk-pikuk kode pemrograman.
Namun, pandemi Covid-19 dan kebangkitan agresif kompetitor memaksanya "turun gunung", meninggalkan kenyamanan masa purnabakti untuk menyelamatkan raksasa teknologi yang ia dirikan dari ancaman kepunahan.
Bagi miliarder berusia 52 tahun ini, keputusan untuk pensiun pada Desember 2019 ternyata nyaris menjadi blunder terbesar dalam hidupnya.
Dalam perayaan seratus tahun Fakultas Teknik Universitas Stanford pekan lalu, Brin membuka tabir kehidupannya pasca-mundur dari operasional harian Google.
Rencana awalnya terdengar romantis: duduk di kafe dan belajar fisika. Namun, realitas berkata lain. Pandemi menghantam, kafe-kafe tutup, dan isolasi sosial justru membuatnya merasa tumpul.
"Saya merasa seperti berputar-putar tanpa arah (spiraling) dan tidak lagi tajam," aku Brin.
Kehilangan stimulasi intelektual yang selama puluhan tahun menjadi bahan bakarnya ternyata menyiksa. Begitu kantor Google mulai dibuka kembali untuk segelintir karyawan, Brin tak membuang waktu.
Ia kembali masuk, bukan sebagai bos besar yang hanya memberi perintah, melainkan terjun langsung ke dapur pengembangan Gemini, model kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) andalan Google.
Namun, pandemi Covid-19 dan kebangkitan agresif kompetitor memaksanya "turun gunung", meninggalkan kenyamanan masa purnabakti untuk menyelamatkan raksasa teknologi yang ia dirikan dari ancaman kepunahan.
Bagi miliarder berusia 52 tahun ini, keputusan untuk pensiun pada Desember 2019 ternyata nyaris menjadi blunder terbesar dalam hidupnya.
Dalam perayaan seratus tahun Fakultas Teknik Universitas Stanford pekan lalu, Brin membuka tabir kehidupannya pasca-mundur dari operasional harian Google.
Rencana awalnya terdengar romantis: duduk di kafe dan belajar fisika. Namun, realitas berkata lain. Pandemi menghantam, kafe-kafe tutup, dan isolasi sosial justru membuatnya merasa tumpul.
"Saya merasa seperti berputar-putar tanpa arah (spiraling) dan tidak lagi tajam," aku Brin.
Kehilangan stimulasi intelektual yang selama puluhan tahun menjadi bahan bakarnya ternyata menyiksa. Begitu kantor Google mulai dibuka kembali untuk segelintir karyawan, Brin tak membuang waktu.
Ia kembali masuk, bukan sebagai bos besar yang hanya memberi perintah, melainkan terjun langsung ke dapur pengembangan Gemini, model kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) andalan Google.
Lihat Juga :