Oracle Kehilangan Rp5.700 Triliun Akibat Cinta Buta pada OpenAI

Sabtu, 13 Desember 2025 - 18:33 WIB
loading...
Oracle Kehilangan Rp5.700...
Pertaruhan ambisius senilai Rp4.770 triliun pada OpenAI kini berubah menjadi mimpi buruk finansial bagi Oracle, menggerus valuasi perusahaan hingga ribuan triliun rupiah sekejap. Foto: ist
A A A
NEW YORK - September lalu, langit seolah menjadi batas bagi Oracle ketika sahamnya menyentuh rekor tertinggi dan sempat menobatkan pendirinya, Larry Ellison, sebagai manusia terkaya di muka bumi.

Namun, kejayaan itu runtuh seketika bak istana pasir yang diterjang ombak; saham Oracle kini menukik tajam lebih dari 40 persen dari puncaknya, melenyapkan kapitalisasi pasar lebih dari USD360 miliar (Rp5.724 triliun).

Hantu ketidakpastian kini membayangi raksasa teknologi tersebut. Kejatuhan paling dramatis terjadi pada Kamis lalu, di mana USD67 miliar (Rp 1.065 triliun) nilai perusahaan menguap dalam satu hari perdagangan.

Pemicunya bukan sekadar angka-angka di laporan keuangan kuartal kedua yang mengecewakan, melainkan kecemasan mendalam para investor terhadap satu nama: OpenAI.

Jebakan Proyek 'Stargate'

Akar permasalahan bermula dari optimisme yang berlebihan. Pada bulan September, Oracle memamerkan kepada investor bahwa "kewajiban kinerja yang tersisa" (RPO)—atau nilai pendapatan masa depan dari kontrak yang telah ditandatangani—melonjak hampir 360 persen menyentuh angka USD455 miliar (Rp 7.234 triliun).

Namun, detail di balik angka fantastis itu kemudian terkuak dan mengejutkan pasar. Ternyata, USD300 miliar (Rp 4.770 triliun) dari komitmen tersebut berasal dari satu klien saja: OpenAI, sang pengembang ChatGPT, sebagai bagian dari proyek ambisius bernama "Stargate". Sejak ketergantungan masif ini terungkap, saham Oracle terus terseok-seok.

Risiko Gagal Bayar Sang Unicorn

Kecemasan investor bukannya tanpa alasan. Biaya operasional OpenAI diprediksi membengkak hingga USD1,4 triliun (Rp22.260 triliun) akibat serangkaian kesepakatan agresif dengan berbagai perusahaan seperti Nvidia, CoreWeave, AMD, Broadcom, dan Oracle sendiri.

Ditambah lagi, persaingan sengit dari model Gemini milik Google membuat posisi OpenAI kian terjepit.

"Jelas ada pembalikan persepsi pasar terhadap OpenAI dalam beberapa bulan terakhir," ujar Stefan Slowinski, analis dari BNB Paribas. "Ekosistem OpenAI jelas menderita akibat hal ini.".

CEO OpenAI, Sam Altman, dilaporkan menyatakan kondisi "kode merah" pekan lalu, sebuah sinyal bahaya menghadapi rivalitas Google yang mengancam kemampuan mereka memonetisasi produk dan mencapai target pendapatan.

Gil Luria, analis dari DA Davidson, menyoroti posisi sulit Oracle. "[Oracle berada] dalam situasi sulit di mana mereka harus membangun kapasitas [pusat data] untuk pelanggan ini dan meminjam banyak uang untuk melakukannya, padahal ada ketidakpastian yang sangat tinggi apakah pelanggan ini mampu membayar kapasitas tersebut," ungkapnya.

Beban Keuangan yang Semakin Berat

Laporan keuangan kuartal kedua Oracle semakin memperkeruh suasana. Belanja modal perusahaan tercatat sebesar USD12 miliar (R 190 triliun), angka yang jauh lebih tinggi dari ekspektasi.

Di sisi lain, arus kas bebas mencatat kerugian USD10 miliar (Rp 159 triliun), jauh lebih buruk dari perkiraan arus keluar sebesar USD6 miliar.

Merespons kebutuhan infrastruktur AI yang "rakus", Oracle bahkan menaikkan perkiraan belanja modal setahun penuhnya dari USD35 miliar dolar AS (Rp556 triliun) menjadi USD50 miliar (sekitar Rp795 triliun).

Upaya Manajemen Menenangkan Pasar

Para eksekutif Oracle berusaha keras meredam kepanikan terkait beban utang dan ketergantungan pada OpenAI.

Co-CEO baru Clay Magouyrk menegaskan bahwa perusahaan memiliki lebih dari 700 pelanggan AI. Ia mengklaim Oracle dapat dengan mudah mengalihkan infrastruktur AI-nya untuk melayani pelanggan lain hanya dalam hitungan "jam" jika permintaan dari satu pelanggan utama gagal terwujud.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Laba Meledak Rp102 Triliun,...
Laba Meledak Rp102 Triliun, Oracle Malah PHK 30.000 Karyawan Lewat Email
Punya Kekayaan Rp6.400...
Punya Kekayaan Rp6.400 Triliun, Orang Terkaya di Dunia Larry Ellison Bakal Investasi di Indonesia?
Terbongkar 4 Rahasia...
Terbongkar 4 Rahasia Larry Ellison Raup Rp1.600 Triliun dalam Sehari
Berkat Demam AI, Harta...
Berkat Demam AI, Harta Pendiri Oracle Larry Ellison Melejit Rp3.900 Triliun, Salip Kekayaan Mark Zuckerberg
Demi Chip AI, Dua Orang...
Demi Chip AI, Dua Orang Terkaya di Dunia Ini Rela Mengemis ke CEO Nvidia!
Layanan Cloud Oracle...
Layanan Cloud Oracle Digunakan Red Bull Racing, Samsung, Hingga Vodafone
Oracle Rilis Lampu LED...
Oracle Rilis Lampu LED Mobil Tanpa Lensa, Harga Mulai Rp12,8 Juta
Oracle Membantu Organisasi...
Oracle Membantu Organisasi Membangun Ketahanan Bisnis
Rekomendasi
Terkenal Fanatik, Suporter...
Terkenal Fanatik, Suporter Argentina Jadi Sorotan di Piala Dunia 2026
Korea Selatan vs Republik...
Korea Selatan vs Republik Ceko: Konsistensi Kontra Jago Bola Mati
AS Rayakan 250 Tahun...
AS Rayakan 250 Tahun Kemerdekaan, Soroti Masa Depan Kemitraan Strategis dengan Indonesia
Berita Terkini
Google Luncurkan Gemini...
Google Luncurkan Gemini 3.5 Live Translate, Terjemahkan Bahasa secara Real-time
Ini Susunan Direksi...
Ini Susunan Direksi dan Komisaris Terbaru Telkomsel 2026
Kuburan Paus Terbesar...
Kuburan Paus Terbesar dalam Sejarah Ditemukan di dasar Samudra Hindia
SpaceX Siap Luncurkan...
SpaceX Siap Luncurkan Pusat Data AI di Orbit Paling Cepat Tahun 2027
Mengenal Siri AI di...
Mengenal Siri AI di WWDC 2026 dan Apa Saja Fitur Barunya?
Iran Temukan Pangkalan...
Iran Temukan Pangkalan Angkatan Laut Berusia 2.000 Tahun di Selat Hormuz
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved