Elon Musk Siap Mengendalikan Pasukan Robot Tesla
Kamis, 23 Oktober 2025 - 22:40 WIB
loading...
Elon Musk Siap Mengendalikan Pasukan Robot. FOTO/ DAILY
A
A
A
NEW YORK - CEO Tesla, Elon Musk, kembali memicu kontroversi setelah mengklaim membutuhkan USD1 triliun untuk mendapatkan kendali lebih besar atas Tesla, yang konon untuk mengendalikan apa yang ia sebut "pasukan robot".
Dalam pertemuan dengan investor bersamaan dengan laporan keuangan kuartal ketiga Tesla, Musk mengatakan ia khawatir tentang masa depan jika "pasukan robot" Tesla dibangun tanpa pengaruhnya yang cukup di perusahaan.
"Kekhawatiran utama saya adalah jika saya membangun pasukan robot besar ini, bisakah saya digulingkan di masa depan? Itulah alasan utama saya menginginkan lebih banyak kendali, bukan karena uang, tetapi agar saya tetap dapat memengaruhi apa yang terjadi dengan pasukan robot," ujarnya.
Meskipun ia kemudian mengoreksi kalimatnya menjadi "pengaruh kuat" alih-alih "kendali", banyak pengamat yakin bahwa pernyataan awal tersebut mencerminkan niat Musk yang sebenarnya.
Robot Tesla
"Pasukan Robot" Tesla dan Isu Kendali
Pernyataan ini muncul saat para pemegang saham sedang melakukan pemungutan suara untuk menyetujui rencana kompensasi Musk senilai $1 triliun, jumlah yang luar biasa, terutama ketika laba Tesla dilaporkan turun sekitar 40 persen meskipun pasar kendaraan listrik global terus tumbuh.
Robot Tesla
Musk mengklaim ia membutuhkan saham yang lebih besar, dari sekitar 13% saat ini menjadi sekitar 25%, agar ia dapat "menjamin keamanan" robot kecerdasan buatan (AI) dan humanoid Tesla, Optimus.
Namun, robot Optimus belum menunjukkan kemampuan yang benar-benar menakutkan. Video demonstrasi yang telah ditayangkan menunjukkan robot tersebut dioperasikan dari jarak jauh, dan beberapa gerakan "kung-fu"-nya yang baru-baru ini viral juga telah dikonfirmasi sebagai koreografi yang telah direncanakan sebelumnya.
Robot Tesla
Kritik terhadap Sikap dan Ideologi Musk
Kekhawatiran publik bukan hanya tentang robot. Musk kini dikritik habis-habisan atas retorika dan tindakannya yang dianggap ekstremis. Ia terlihat terang-terangan menunjukkan gestur Nazi, mendukung tokoh-tokoh ekstremis di Eropa, dan mengeluarkan pernyataan rasis di platform media sosialnya.
Robot Tesla
Tindakan tersebut tidak hanya mencoreng citra pribadinya tetapi juga merusak reputasi Tesla di banyak negara seperti Inggris, Australia, Jerman, dan Denmark. Penjualan Tesla di pasar-pasar tersebut dilaporkan menurun akibat boikot konsumen dan tekanan investor.
Musk mengecam para analis, menyebut mereka "teroris".
Dalam sesi yang sama, Musk juga menyerang dua perusahaan penasihat investasi besar, ISS dan Glass Lewis, dengan menyebut mereka "teroris korporat" karena menyarankan para pemegang saham untuk menolak rencana gaji besarnya.
"Saya tidak nyaman membangun pasukan robot ini dan kemudian disingkirkan hanya karena saran bodoh dari ISS dan Glass Lewis yang tidak tahu apa-apa," katanya.
ISS dan Glass Lewis sebelumnya telah merekomendasikan agar investor menolak paket gaji Musk senilai $55 miliar pada tahun 2018, yang kemudian dinyatakan tidak sah oleh pengadilan.
Meskipun Musk sering mengklaim ingin "melindungi umat manusia dari ancaman AI", pernyataan terbarunya terdengar lebih seperti fantasi fiksi ilmiah, seorang miliarder yang ingin membangun pasukan robot di bawah kendalinya sendiri.
Dengan valuasi Tesla yang kini sekitar $600 miliar, tuntutan Musk untuk imbalan $1 triliun demi kekuasaan yang lebih besar menimbulkan pertanyaan besar: apakah ini tentang keselamatan manusia atau hanya ego seorang miliarder yang terobsesi dengan pengaruh dan kendali?
Dalam pertemuan dengan investor bersamaan dengan laporan keuangan kuartal ketiga Tesla, Musk mengatakan ia khawatir tentang masa depan jika "pasukan robot" Tesla dibangun tanpa pengaruhnya yang cukup di perusahaan.
"Kekhawatiran utama saya adalah jika saya membangun pasukan robot besar ini, bisakah saya digulingkan di masa depan? Itulah alasan utama saya menginginkan lebih banyak kendali, bukan karena uang, tetapi agar saya tetap dapat memengaruhi apa yang terjadi dengan pasukan robot," ujarnya.
Meskipun ia kemudian mengoreksi kalimatnya menjadi "pengaruh kuat" alih-alih "kendali", banyak pengamat yakin bahwa pernyataan awal tersebut mencerminkan niat Musk yang sebenarnya.
Robot Tesla
"Pasukan Robot" Tesla dan Isu Kendali
Pernyataan ini muncul saat para pemegang saham sedang melakukan pemungutan suara untuk menyetujui rencana kompensasi Musk senilai $1 triliun, jumlah yang luar biasa, terutama ketika laba Tesla dilaporkan turun sekitar 40 persen meskipun pasar kendaraan listrik global terus tumbuh.
Robot Tesla
Musk mengklaim ia membutuhkan saham yang lebih besar, dari sekitar 13% saat ini menjadi sekitar 25%, agar ia dapat "menjamin keamanan" robot kecerdasan buatan (AI) dan humanoid Tesla, Optimus.
Namun, robot Optimus belum menunjukkan kemampuan yang benar-benar menakutkan. Video demonstrasi yang telah ditayangkan menunjukkan robot tersebut dioperasikan dari jarak jauh, dan beberapa gerakan "kung-fu"-nya yang baru-baru ini viral juga telah dikonfirmasi sebagai koreografi yang telah direncanakan sebelumnya.
Robot Tesla
Kritik terhadap Sikap dan Ideologi Musk
Kekhawatiran publik bukan hanya tentang robot. Musk kini dikritik habis-habisan atas retorika dan tindakannya yang dianggap ekstremis. Ia terlihat terang-terangan menunjukkan gestur Nazi, mendukung tokoh-tokoh ekstremis di Eropa, dan mengeluarkan pernyataan rasis di platform media sosialnya.
Robot Tesla
Tindakan tersebut tidak hanya mencoreng citra pribadinya tetapi juga merusak reputasi Tesla di banyak negara seperti Inggris, Australia, Jerman, dan Denmark. Penjualan Tesla di pasar-pasar tersebut dilaporkan menurun akibat boikot konsumen dan tekanan investor.
Musk mengecam para analis, menyebut mereka "teroris".
Dalam sesi yang sama, Musk juga menyerang dua perusahaan penasihat investasi besar, ISS dan Glass Lewis, dengan menyebut mereka "teroris korporat" karena menyarankan para pemegang saham untuk menolak rencana gaji besarnya.
"Saya tidak nyaman membangun pasukan robot ini dan kemudian disingkirkan hanya karena saran bodoh dari ISS dan Glass Lewis yang tidak tahu apa-apa," katanya.
ISS dan Glass Lewis sebelumnya telah merekomendasikan agar investor menolak paket gaji Musk senilai $55 miliar pada tahun 2018, yang kemudian dinyatakan tidak sah oleh pengadilan.
Meskipun Musk sering mengklaim ingin "melindungi umat manusia dari ancaman AI", pernyataan terbarunya terdengar lebih seperti fantasi fiksi ilmiah, seorang miliarder yang ingin membangun pasukan robot di bawah kendalinya sendiri.
Dengan valuasi Tesla yang kini sekitar $600 miliar, tuntutan Musk untuk imbalan $1 triliun demi kekuasaan yang lebih besar menimbulkan pertanyaan besar: apakah ini tentang keselamatan manusia atau hanya ego seorang miliarder yang terobsesi dengan pengaruh dan kendali?
(wbs)
Lihat Juga :