Raja YouTube Goyang! MrBeast Akui Takut Kehilangan Takhta Gara-gara AI
Rabu, 08 Oktober 2025 - 08:58 WIB
loading...
Raja YouTube MrBeast ketakutan, sebut AI sebagai masa mengerikan bagi kreator. Foto: GettyImages
A
A
A
AMERIKA - Jimmy Donaldson, pria di balik persona MrBeast, mengaku takut dengan Kecerdasan Buatan (AI). Dalam unggahan di media sosial pada Senin, 6 Oktober 2025, kreator nomor satu dunia ini melontarkan pertanyaan yang menghantui jutaan rekannya.
Ia cemas bagaimana video yang diciptakan oleh AI dapat memengaruhi nasib "jutaan kreator yang saat ini mencari nafkah dari membuat konten.
Dengan lugas, ia menyimpulkan kegelisahannya dalam dua kata: "Masa-masa yang mengerikan," tulisnya.
Pernyataan ini bukan sekadar keluhan biasa. Ketika seorang raksasa dengan pendapatan USD85 juta dan total 634 juta pengikut—dinobatkan sebagai kreator top versi Forbes 2025—merasa terancam, itu adalah gempa bagi seluruh ekosistem.
Jika MrBeast yang berada di puncak rantai makanan saja gentar, maka bisa dibayangkan betapa cemasnya para kreator kecil yang berjuang untuk bertahan hidup.
Ketakutan MrBeast bukan tanpa pemicu. Komentarnya muncul sesaat setelah OpenAI meluncurkan Sora 2, versi terbaru dari generator audio dan video mereka. Peluncuran ini dibarengi aplikasi seluler yang memungkinkan siapa saja membuat video, termasuk video diri mereka sendiri, yang disajikan dalam format vertikal ala TikTok.
Aplikasi ini langsung meledak, meroket ke posisi No. 1 di App Store Amerika Serikat hanya dalam hitungan hari.
Ironisnya, platform yang membesarkan MrBeast, YouTube, juga ikut menunggangi gelombang AI. Mereka telah meluncurkan berbagai alat penyuntingan berbasis AI, termasuk model video bernama Veo yang bisa menganimasikan foto atau mengubah gaya video.
AI bahkan ditanamkan untuk membuat klip sorotan dari siaran langsung atau podcast secara otomatis.
Namun, kritik tajam segera menghujani MrBeast. Banyak yang menudingnya hipokrit.
Warganet dengan cepat mengingatkannya bahwa ia sendiri pernah "bermain api" dengan teknologi yang kini ia takuti. Musim panas ini, MrBeast menghadapi kecaman keras dari penggemar dan sesama kreator setelah merilis alat AI untuk membuat thumbnail video.
Setelah badai kritik, ia buru-buru menghapus alat tersebut dari platform analitiknya, Viewstats, dan berjanji akan menggantinya dengan tautan ke para seniman manusia yang bisa dipekerjakan.
Bukan hanya itu, lembaga filantropi milik perusahaannya juga tercatat pernah melakukan investasi di bidang AI.
Kini, industri konten berada di persimpangan jalan. Debat besar pun terjadi: apakah AI akan mengubah semua orang menjadi kreator, ataukah video terbaik tetap membutuhkan sentuhan jenius dari pikiran kreatif manusia?
Di sisi lain, semakin banyak audiens yang muak dengan konten buatan AI berkualitas rendah yang sering dijuluki "slop" (konten sampah) dan tidak suka melihatnya membanjiri linimasa mereka.
Pada akhirnya, ancaman terbesar bagi kreator seperti MrBeast mungkin bukanlah AI itu sendiri. Bahkan jika suatu saat nanti AI menjadi begitu canggih hingga tak bisa dibedakan, pertaruhan sesungguhnya adalah kepercayaan.
Kreator yang terbukti menggunakan AI tanpa transparansi berisiko kehilangan hal paling berharga yang mereka miliki: kepercayaan dan loyalitas penggemar. Dan itu adalah reputasi yang tidak bisa diciptakan oleh AI secanggihapapun.
Ia cemas bagaimana video yang diciptakan oleh AI dapat memengaruhi nasib "jutaan kreator yang saat ini mencari nafkah dari membuat konten.
Dengan lugas, ia menyimpulkan kegelisahannya dalam dua kata: "Masa-masa yang mengerikan," tulisnya.
Pernyataan ini bukan sekadar keluhan biasa. Ketika seorang raksasa dengan pendapatan USD85 juta dan total 634 juta pengikut—dinobatkan sebagai kreator top versi Forbes 2025—merasa terancam, itu adalah gempa bagi seluruh ekosistem.
Jika MrBeast yang berada di puncak rantai makanan saja gentar, maka bisa dibayangkan betapa cemasnya para kreator kecil yang berjuang untuk bertahan hidup.
Ketakutan MrBeast bukan tanpa pemicu. Komentarnya muncul sesaat setelah OpenAI meluncurkan Sora 2, versi terbaru dari generator audio dan video mereka. Peluncuran ini dibarengi aplikasi seluler yang memungkinkan siapa saja membuat video, termasuk video diri mereka sendiri, yang disajikan dalam format vertikal ala TikTok.
Aplikasi ini langsung meledak, meroket ke posisi No. 1 di App Store Amerika Serikat hanya dalam hitungan hari.
Ironisnya, platform yang membesarkan MrBeast, YouTube, juga ikut menunggangi gelombang AI. Mereka telah meluncurkan berbagai alat penyuntingan berbasis AI, termasuk model video bernama Veo yang bisa menganimasikan foto atau mengubah gaya video.
AI bahkan ditanamkan untuk membuat klip sorotan dari siaran langsung atau podcast secara otomatis.
Namun, kritik tajam segera menghujani MrBeast. Banyak yang menudingnya hipokrit.
Warganet dengan cepat mengingatkannya bahwa ia sendiri pernah "bermain api" dengan teknologi yang kini ia takuti. Musim panas ini, MrBeast menghadapi kecaman keras dari penggemar dan sesama kreator setelah merilis alat AI untuk membuat thumbnail video.
Setelah badai kritik, ia buru-buru menghapus alat tersebut dari platform analitiknya, Viewstats, dan berjanji akan menggantinya dengan tautan ke para seniman manusia yang bisa dipekerjakan.
Bukan hanya itu, lembaga filantropi milik perusahaannya juga tercatat pernah melakukan investasi di bidang AI.
Kini, industri konten berada di persimpangan jalan. Debat besar pun terjadi: apakah AI akan mengubah semua orang menjadi kreator, ataukah video terbaik tetap membutuhkan sentuhan jenius dari pikiran kreatif manusia?
Di sisi lain, semakin banyak audiens yang muak dengan konten buatan AI berkualitas rendah yang sering dijuluki "slop" (konten sampah) dan tidak suka melihatnya membanjiri linimasa mereka.
Pada akhirnya, ancaman terbesar bagi kreator seperti MrBeast mungkin bukanlah AI itu sendiri. Bahkan jika suatu saat nanti AI menjadi begitu canggih hingga tak bisa dibedakan, pertaruhan sesungguhnya adalah kepercayaan.
Kreator yang terbukti menggunakan AI tanpa transparansi berisiko kehilangan hal paling berharga yang mereka miliki: kepercayaan dan loyalitas penggemar. Dan itu adalah reputasi yang tidak bisa diciptakan oleh AI secanggihapapun.
(dan)
Lihat Juga :