Resep Sakti Miliarder AI Alexandr Wang untuk Anak Muda: Sering Bermain-main dengan Tuyul Digital!
Selasa, 30 September 2025 - 19:32 WIB
loading...
Alexandr Wang mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi untuk mulai bermain-main dengan mesin penciptanya. Foto: Reuters
A
A
A
AMERIKA - Di saat banyak anak muda Indonesia masih berjuang mencari jalan di tengah ketatnya persaingan kerja, miliarder teknologi berusia 28 tahun datang dengan resep radikal, nyaris gila.
Namanya Alexandr Wang, salah satu pendiri Scale AI, perusahaan yang kini bernilai fantastis USD29 miliar (sekitar Rp464 Triliun), dan pemilik kekayaan pribadi USD3.2 miliar (sekitar Rp51,2 Triliun).
Nasihatnya untuk para remaja dan anak muda yang bermimpi sukses di dunia teknologi? Lupakan cara-cara lama. Menurutnya, ada satu hal yang harus dilakukan: "habiskan seluruh waktumu" untuk bermain dengan alat pembuat kode berbasis kecerdasan buatan (AI).
"Mustahil untuk meremehkan sejauh mana saya telah diradikalisasi oleh AI coding," ujar Wang dalam podcast pada 17 September lalu.
Ini adalah metode di mana seseorang bisa menciptakan program atau aplikasi hanya dengan mengetikkan perintah dalam bahasa manusia biasa.
Aplikasi seperti Replit dan Cursor menjadi "tuyul" digital yang siap menerjemahkan keinginan Anda menjadi kode-kode fungsional tanpa perlu keahlian teknis mendalam.
Bagi Wang, momen saat ini adalah anomali sejarah, "diskontinuitas" yang membuka peluang langka.
“Jika Anda menghabiskan, katakanlah, 10.000 jam untuk bermain dengan alat-alat ini dan mencari cara menggunakannya lebih baik dari orang lain, itu adalah keuntungan yang sangat besar,” tegasnya.
Wang menyamakan situasi ini dengan era awal revolusi komputer, di mana para legenda seperti "Bill Gates di seluruh dunia" menjadi penguasa karena mereka adalah yang pertama terjun dan menguasai teknologi baru.
Gates sendiri di masa remajanya rela menyelinap keluar rumah di malam hari hanya untuk belajar coding di komputer pinjaman.
Kini, menurut Wang, momen bersejarah itu terulang kembali. "Momen itu sedang terjadi sekarang—dan jika kamu, misalnya, berusia 13 tahun, kamu harus menghabiskan seluruh waktumu untuk 'vibe coding'. Begitulah seharusnya kamu menjalani hidupmu," katanya.
“Secara harfiah, semua kode yang pernah saya tulis dalam hidup saya akan dapat diproduksi oleh model AI dalam lima tahun ke depan," akunya.
Pengakuan ini menggarisbawahi ketakutan terbesar di industri teknologi: apakah profesi sebagai programmer akan segera punah? Beberapa perusahaan sudah mulai menggunakan AI untuk menggantikan programmer manusia. Jika AI bisa meniru karya seorang jenius seperti Wang, bagaimana nasib para pemula?
Di sinilah kritik dan perspektif lain menjadi penting. Andrew Ng, salah satu pendiri laboratorium riset Google Brain, memberikan pandangan berbeda. Menurutnya, kemudahan yang ditawarkan AI justru harus mendorong lebih banyak orang untuk belajar coding, bukan sebaliknya.
"Seiring coding menjadi lebih mudah, seharusnya lebih banyak orang yang coding, bukan lebih sedikit!" tulis Ng dalam sebuah postingan LinkedIn.
Bagi anak muda Indonesia, ini adalah dilema. Nasihat Wang untuk "menghabiskan seluruh waktu" mungkin terdengar ekstrem di tengah tuntutan kuliah dan realitas keterbatasan akses. Namun, pesannya jelas: masa depan adalah milik mereka yang paling cepat beradaptasi.
Menurut Ng, pekerja dengan kemampuan coding yang kuat akan mampu menggunakan alat AI ini jauh lebih efektif. Mereka bisa "memberi tahu komputer apa yang Anda inginkan" dengan presisi yang tidak dimiliki orang awam. Pengusaha yang "memahami bahasa perangkat lunak" akan dapat membangun produk dengan AI secara jauh lebih presisi.
Namanya Alexandr Wang, salah satu pendiri Scale AI, perusahaan yang kini bernilai fantastis USD29 miliar (sekitar Rp464 Triliun), dan pemilik kekayaan pribadi USD3.2 miliar (sekitar Rp51,2 Triliun).
Nasihatnya untuk para remaja dan anak muda yang bermimpi sukses di dunia teknologi? Lupakan cara-cara lama. Menurutnya, ada satu hal yang harus dilakukan: "habiskan seluruh waktumu" untuk bermain dengan alat pembuat kode berbasis kecerdasan buatan (AI).
"Mustahil untuk meremehkan sejauh mana saya telah diradikalisasi oleh AI coding," ujar Wang dalam podcast pada 17 September lalu.
"Vibe Coding": Jalan Pintas Menuju Keahlian Masa Depan
Lupakan bayangan pusing melihat barisan kode rumit. Apa yang dimaksud Wang adalah revolusi bernama "AI coding" atau yang lebih gaul disebut "vibe coding".Ini adalah metode di mana seseorang bisa menciptakan program atau aplikasi hanya dengan mengetikkan perintah dalam bahasa manusia biasa.
Aplikasi seperti Replit dan Cursor menjadi "tuyul" digital yang siap menerjemahkan keinginan Anda menjadi kode-kode fungsional tanpa perlu keahlian teknis mendalam.
Bagi Wang, momen saat ini adalah anomali sejarah, "diskontinuitas" yang membuka peluang langka.
“Jika Anda menghabiskan, katakanlah, 10.000 jam untuk bermain dengan alat-alat ini dan mencari cara menggunakannya lebih baik dari orang lain, itu adalah keuntungan yang sangat besar,” tegasnya.
Wang menyamakan situasi ini dengan era awal revolusi komputer, di mana para legenda seperti "Bill Gates di seluruh dunia" menjadi penguasa karena mereka adalah yang pertama terjun dan menguasai teknologi baru.
Gates sendiri di masa remajanya rela menyelinap keluar rumah di malam hari hanya untuk belajar coding di komputer pinjaman.
Kini, menurut Wang, momen bersejarah itu terulang kembali. "Momen itu sedang terjadi sekarang—dan jika kamu, misalnya, berusia 13 tahun, kamu harus menghabiskan seluruh waktumu untuk 'vibe coding'. Begitulah seharusnya kamu menjalani hidupmu," katanya.
Pedang Bermata Dua: Ancaman Sekaligus Peluang Emas
Namun, nasihat Wang adalah pedang bermata dua yang tajam. Di satu sisi, ia menjanjikan jalan pintas. Di sisi lain, ia menyimpan ancaman eksistensial yang bahkan diakui oleh Wang sendiri, yang pada bulan Juni lalu dibajak oleh Meta untuk menjadi Chief AI Officer mereka.“Secara harfiah, semua kode yang pernah saya tulis dalam hidup saya akan dapat diproduksi oleh model AI dalam lima tahun ke depan," akunya.
Pengakuan ini menggarisbawahi ketakutan terbesar di industri teknologi: apakah profesi sebagai programmer akan segera punah? Beberapa perusahaan sudah mulai menggunakan AI untuk menggantikan programmer manusia. Jika AI bisa meniru karya seorang jenius seperti Wang, bagaimana nasib para pemula?
Di sinilah kritik dan perspektif lain menjadi penting. Andrew Ng, salah satu pendiri laboratorium riset Google Brain, memberikan pandangan berbeda. Menurutnya, kemudahan yang ditawarkan AI justru harus mendorong lebih banyak orang untuk belajar coding, bukan sebaliknya.
"Seiring coding menjadi lebih mudah, seharusnya lebih banyak orang yang coding, bukan lebih sedikit!" tulis Ng dalam sebuah postingan LinkedIn.
Bagi anak muda Indonesia, ini adalah dilema. Nasihat Wang untuk "menghabiskan seluruh waktu" mungkin terdengar ekstrem di tengah tuntutan kuliah dan realitas keterbatasan akses. Namun, pesannya jelas: masa depan adalah milik mereka yang paling cepat beradaptasi.
Menurut Ng, pekerja dengan kemampuan coding yang kuat akan mampu menggunakan alat AI ini jauh lebih efektif. Mereka bisa "memberi tahu komputer apa yang Anda inginkan" dengan presisi yang tidak dimiliki orang awam. Pengusaha yang "memahami bahasa perangkat lunak" akan dapat membangun produk dengan AI secara jauh lebih presisi.
(dan)
Lihat Juga :