Akhirnya China Pasrah TikTok Diambil Amerika Serikat, Ada Apakah?

Kamis, 18 September 2025 - 14:45 WIB
loading...
Akhirnya China Pasrah...
TikTok. FOTO/THE VERGE
A A A
BEIJING - Akhirnya kesepakatan antara Amerika Serikat dan China mengenai TikTok tercipta. Setelah dua hari pembicaraan di Madrid, China akhirnya setuju untuk sepenuhnya mengalihkan kepemilikan bisnis TikTok di Amerika kepada investor AS

BACA JUGA - Profil CEO TikTok Shou Zi Chew yang Larang Anaknya Bermain TikTok

Pada Selasa (16 September), Gedung Putih mengeluarkan pernyataan bahwa Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif untuk keempat kalinya memperpanjang batas waktu penjualan bisnis TikTok di Amerika. Larangan yang seharusnya berlaku mulai 17 September ditunda hingga 1 Desember.

TikTok memiliki valuasi pasar sekitar 50 miliar dolar AS, dengan lebih dari 170 juta pengguna di AS. Namun, sejak lama TikTok dituding menimbulkan risiko keamanan karena perusahaan induknya, ByteDance, dituduh mengumpulkan data pengguna untuk kepentingan rezim Tiongkok, sehingga dianggap sebagai ancaman bagi keamanan nasional Amerika.

“Tidak ingin TikTok menggunakan algoritma dan kontennya untuk melakukan operasi kognitif atau infiltrasi di AS. Namun Trump menilai platform ini sudah tertanam dalam kehidupan orang Amerika, jadi lebih baik dibeli. Itu sebabnya sejak awal Trump selalu menuntut pihak Tiongkok melepas kepemilikan TikTok, atau menjadikannya perusahaan Amerika,” kata Profesor studi internasional Universitas St. Thomas, Ye Yaoyuan.

Analis menilai, tercapainya kesepakatan kerangka kerja ini terutama karena Tiongkok memberi konsesi. Alasannya, selain tekanan politik, kondisi ekonomi Tiongkok yang memburuk juga membuat Beijing menilai bahwa penjualan TikTok dapat membawa aliran devisa masuk.

Ye Yaoyuan menambahkan: “Pihak Tiongkok mungkin menghadapi tekanan besar, ditambah kondisi ekonomi yang buruk. Jadi, penjualan TikTok ini bisa mendatangkan aliran valuta asing yang signifikan.”

Sejak Februari tahun ini, Trump kembali memulai perang dagang dengan Tiongkok. Tarif tinggi atas barang-barang asal Tiongkok tetap diberlakukan. Pada 2025, ekspor Tiongkok ke AS turun 15%, membuat ekonomi Tiongkok semakin terpuruk.

Dalam perundingan Madrid baru-baru ini, kedua pihak berfokus pada isu pengurangan tarif, ekspor teknologi, pemberantasan fentanyl, dan pencucian uang. Analisis menyebut, dalam perang dagang ini, Beijing sudah hampir tak sanggup bertahan, sehingga menjadikan TikTok sebagai “tukar tambah” untuk berusaha mendapatkan keringanan tarif atau akses teknologi canggih dari AS.

Ye Yaoyuan menegaskan: “AS menginginkan hal-hal yang Tiongkok tidak bisa berikan. Tapi jika mau berunding soal TikTok, setidaknya akan muncul ‘good gesture’ (sikap goodwill) sehingga komunikasi bisa berlangsung lebih bersahabat.”

Ada pula analisis lain yang menilai kesepakatan TikTok ini merupakan kompromi kedua belah pihak, karena AS juga tidak ingin isu ini memengaruhi pemilu sela.

Penulis sekaligus Presiden perusahaan real estate, Jiang Pinchao, mengatakan: “Secara substansi, ini mirip dengan bagaimana Tiongkok menggunakan rare earth untuk menekan Amerika. Ini adalah kartu tawar. Namun menjelang pemilu sela, pemerintahan Trump akan membuat konsesi tertentu agar masalah ini tidak mengganggu pemilu.”

Perwakilan Dagang AS, Jamieson Lee Greer, menyatakan bahwa isu perdagangan AS-Tiongkok lainnya, seperti soal tanah jarang, akan dibahas dalam perundingan sebulan mendatang.
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mau Traveling Keluarga...
Mau Traveling Keluarga Lebih Menyenangkan? Ikuti 5 Tips ala Tika Nurjanah
Iran Temukan Pangkalan...
Iran Temukan Pangkalan Angkatan Laut Berusia 2.000 Tahun di Selat Hormuz
Siaga di Selat Hormuz,...
Siaga di Selat Hormuz, AS Gunakan Perahu Canggih Tanpa Awak
Iran Berniat Kembangan...
Iran Berniat Kembangan Rudal Balistik Antarbenua biar Tambah Menakutkan
China Diam-diam Simpan...
China Diam-diam Simpan Ribuan Server di Dasar Laut, Apa Tujuannya?
Nvidia Siap Gandeng...
Nvidia Siap Gandeng Perusahaan China demi Kembangkan Robot Super Humanoid
Trump Tegaskan Tanpa...
Trump Tegaskan Tanpa AS, Tidak akan Ada Israel, Netanyahu Harus Lebih Tanggung Jawab
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Dulu Dibully Karena...
Dulu Dibully Karena Pendiam, Kini Syawal Adha Raih Centang Biru TikTok dan Instagram
Rekomendasi
Reuni Harmoni Lintas...
Reuni Harmoni Lintas Generasi
Guntur Romli Tepis Tuduhan...
Guntur Romli Tepis Tuduhan BEM Bersatu: Kegilaan Logika Cocokologi yang Dipaksakan
Kang Cucun Gelar Pasar...
Kang Cucun Gelar Pasar Murah di Desa Ciheulang Ciparay
Berita Terkini
NASA Temukan Planet...
NASA Temukan Planet Raksasa dengan Suhu seperti di Bumi dan Dipenuhi Gas Metana
Mengapa iPhone 11 Masih...
Mengapa iPhone 11 Masih Didukung iOS 27? Ini Jawabannya
Berpengalaman di Perang...
Berpengalaman di Perang Ukraina, Sky-Watch Luncurkan Drone Jarak Jauh RQ-70 Dainn
Pembaruan Windows 11...
Pembaruan Windows 11 Menyebabkan Serangkaian Bug Serius
Padukan Semangat Sepak...
Padukan Semangat Sepak Bola dan Teknologi, Lexar Rilis Seri Penyimpanan Resmi AFA Berdesain Ikonik Nomor 10
Komputer Kuantum Optik...
Komputer Kuantum Optik Bakal Jadi Kebutuhan Energi AI
Infografis
Rp603 Triliun Milik...
Rp603 Triliun Milik Amerika Serikat Habis Terbakar di Langit Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved