Video Sri Mulyani Sebut Guru Beban Negara Jadi Contoh Dampak Mengerikan Teknologi Deepfake
Rabu, 20 Agustus 2025 - 16:17 WIB
loading...
A
A
A
Model ini kemudian dapat dimanipulasi untuk mengatakan atau melakukan apa pun yang diinginkan oleh pembuatnya.
Hasilnya? Video palsu yang nyaris sempurna, di mana tokoh publik, eksekutif perusahaan, atau bahkan anggota keluarga Anda bisa tampil mengucapkan kalimat yang tidak pernah mereka lontarkan.
Pengamat digital dan keamanan siber Vaksin.com, Alfons Tanujaya, mengatakan bahwa secara teknis akan makin sulit mengidentifikasi konten deepfake karena semakin hari akan semakin baik.
“Apalagi public figure yang sampel digital-nya banyak dan mudah didapatkan sehingga jika digunakan untuk training deep fake apps seperti deepfacelab akan makin halus dan sulit dibedakan,” ungkap Alfons saat dihubungi SindoNews.
Pada Januari 2024, seorang karyawan di perusahaan rekayasa global, Arup, menerima panggilan video dari atasannya yang berbasis di Inggris. Beberapa rekan kerja lain yang dikenalnya juga bergabung. Panggilan itu mendesak dan meyakinkan, membahas akuisisi rahasia yang butuh persetujuan cepat. Sang karyawan pun tanpa ragu menyetujui 15 kali transfer senilai total USD25,5 juta, atau lebih dari Rp 400 miliar.
Beberapa minggu kemudian, kenyataan pahit terungkap: semua orang dalam panggilan video itu, kecuali sang karyawan, adalah deepfake.
Hasilnya? Video palsu yang nyaris sempurna, di mana tokoh publik, eksekutif perusahaan, atau bahkan anggota keluarga Anda bisa tampil mengucapkan kalimat yang tidak pernah mereka lontarkan.
Pengamat digital dan keamanan siber Vaksin.com, Alfons Tanujaya, mengatakan bahwa secara teknis akan makin sulit mengidentifikasi konten deepfake karena semakin hari akan semakin baik.
“Apalagi public figure yang sampel digital-nya banyak dan mudah didapatkan sehingga jika digunakan untuk training deep fake apps seperti deepfacelab akan makin halus dan sulit dibedakan,” ungkap Alfons saat dihubungi SindoNews.
Dari Hoax Politik Hingga Kerugian Triliunan Rupiah
Kengerian teknologi deepfake bukanlah isapan jempol. Jika kasus Sri Mulyani menyerang reputasi, di belahan dunia lain deepfake telah menjadi senjata untuk meraup pundi-pundi uang.Pada Januari 2024, seorang karyawan di perusahaan rekayasa global, Arup, menerima panggilan video dari atasannya yang berbasis di Inggris. Beberapa rekan kerja lain yang dikenalnya juga bergabung. Panggilan itu mendesak dan meyakinkan, membahas akuisisi rahasia yang butuh persetujuan cepat. Sang karyawan pun tanpa ragu menyetujui 15 kali transfer senilai total USD25,5 juta, atau lebih dari Rp 400 miliar.
Beberapa minggu kemudian, kenyataan pahit terungkap: semua orang dalam panggilan video itu, kecuali sang karyawan, adalah deepfake.
Lihat Juga :