Merajut Ekosistem Digital ala Telkom, dari Koperasi Desa hingga Industri Global
Selasa, 19 Agustus 2025 - 14:31 WIB
loading...
A
A
A
Dalam lima tahun ke depan, Telkom menargetkan kontribusi enterprise meningkat di atas 30% dan menjadi pendorong utama pertumbuhan grup. “Kita ingin hype AI ini menjadi aksi nyata yang membantu bisnis, pemerintah, dan komunitas, sekaligus mengembangkan talenta digital Indonesia agar kompetitif di Asia Tenggara. Kontribusi pendapatan unit enterprise Telkom saat ini kurang dari 20%. Sementara di banyak operator global bisa lebih dari 30%. Artinya, peluang kita besar,” ujarnya.
B2B ICT: Solusi Vertikal, Bukan Generik
Transformasi Telkom juga menyasar B2B ICT. Faizal menekankan bahwa layanan tidak bisa lagi generik, tetapi harus menyesuaikan tiap sektor industri. Ada 12 sektor vertikal yang diprioritaskan, termasuk pertambangan, konstruksi, kesehatan, pendidikan, keuangan, dan logistik. “Segmen customer vertical itu harus punya solusi yang unik dan yang customization untuk mereka,” kata Faizal. Baca juga: Presiden Prabowo: Koperasi Desa Merah Putih Basmi Tengkulak dan Rentenir
Sebagai contoh, solusi ICT untuk industri tambang akan berbeda dengan rumah sakit. Telkom menyediakan sistem pemantauan digital di tambang, sementara di sektor kesehatan fokus pada rekam medis elektronik yang terintegrasi. Dengan strategi ini, Telkom ingin memastikan bahwa B2B ICT menjadi portofolio unggulan yang relevan dengan kebutuhan nyata klien.
Baik Faizal maupun Vera sepakat bahwa inovasi merupakan DNA Telkom. Mulai dari era dial-up dan Speedy hingga melahirkan Telkomsel, Telkom terus menciptakan terobosan meski tak semua berhasil. Targetnya lima tahun ke depan, Telkom akan melahirkan “anak-anak digital” baru yang bisa melampaui Telkomsel dalam kontribusi dan skala bisnis.
Dari peresmian KDMP di Klaten hingga rencana ekspansi B2B ICT dan AI, Telkom menunjukkan bahwa strategi mereka menyentuh akar desa sekaligus menatap pasar global. Faizal menggambarkan Telkom bukan hanya sebagai operator telekomunikasi, melainkan sebagai arsitek ekosistem digital nasional.
B2B ICT: Solusi Vertikal, Bukan Generik
Transformasi Telkom juga menyasar B2B ICT. Faizal menekankan bahwa layanan tidak bisa lagi generik, tetapi harus menyesuaikan tiap sektor industri. Ada 12 sektor vertikal yang diprioritaskan, termasuk pertambangan, konstruksi, kesehatan, pendidikan, keuangan, dan logistik. “Segmen customer vertical itu harus punya solusi yang unik dan yang customization untuk mereka,” kata Faizal. Baca juga: Presiden Prabowo: Koperasi Desa Merah Putih Basmi Tengkulak dan Rentenir
Sebagai contoh, solusi ICT untuk industri tambang akan berbeda dengan rumah sakit. Telkom menyediakan sistem pemantauan digital di tambang, sementara di sektor kesehatan fokus pada rekam medis elektronik yang terintegrasi. Dengan strategi ini, Telkom ingin memastikan bahwa B2B ICT menjadi portofolio unggulan yang relevan dengan kebutuhan nyata klien.
Baik Faizal maupun Vera sepakat bahwa inovasi merupakan DNA Telkom. Mulai dari era dial-up dan Speedy hingga melahirkan Telkomsel, Telkom terus menciptakan terobosan meski tak semua berhasil. Targetnya lima tahun ke depan, Telkom akan melahirkan “anak-anak digital” baru yang bisa melampaui Telkomsel dalam kontribusi dan skala bisnis.
Dari peresmian KDMP di Klaten hingga rencana ekspansi B2B ICT dan AI, Telkom menunjukkan bahwa strategi mereka menyentuh akar desa sekaligus menatap pasar global. Faizal menggambarkan Telkom bukan hanya sebagai operator telekomunikasi, melainkan sebagai arsitek ekosistem digital nasional.
(poe)
Lihat Juga :